Mabuk Kafein

orang bijak pernah berkata, waktu itu dikutip oleh winston churcill yang sedang berkunjung ke semenanjung transylvania musim semi beberapa dekade lampau. beliau bilang “sekecil apapun kesalahan, ia akan lebih mudah diingat dibanding dua milyar keberhasilan yang dilakukan.” aku hampir percaya kalau saja temanku tidak bilang “semenanjung transylvania itu tidak ada, bung. kau itu mudah sekali dibohongi.” sembari menyeruput kopi yang ampasnya hampir setengah gelas. kupikir … Continue reading Mabuk Kafein

Prosa Semenjana

hujan makin deras menjelang maghrib di sabtu terakhir bulan juli. baru saja motorku selesai dicuci. tapi sepertinya langit sudah tak sabar untuk segera melepas bulir rindu yang dipendam sedari pagi. dua jam aku di sini dan gemuruh tambah keras. kupikir tidak ada yang lebih pantas menemani selain rokok dan kopi panas. hujan, senja, kopi, pahit, serta hal-hal lain yang melankolis. untuk apa terlalu banyak berpikir? … Continue reading Prosa Semenjana

Kapan Kita Bicara?

ada kurang lebih empat puluh tujuh ribu enam ratus dua puluh sembilan titik yang tersebar menunggu untuk kamu tarik garis melewatinya. konon saat garisnya mulai menyambung akan muncul sesuatu yang selama ini kamu cari. masalahnya adalah dari empat puluh tujuh ribu enam ratus dua puluh sembilan titik yang ada, titik mana yang harus jadi awal dari tarikan garis itu? aku mungkin bisa menarik dari sisi … Continue reading Kapan Kita Bicara?

Belajar

aku belajar berjalan setelah aku lincah berlari dan belajar berbisik setelah aku lantang berteriak. aku sempat bercerita tentang pagi setelah malam badai sebelumnya. tentang debur ombak yang bergulung di telinga dan gemuruh petir yang menggelegar di kepala. tentang bagaimana sang menjangan enggan masuk ke hutan dan memilih untuk menunggu pakan datang di pinggir trotoar dengan potongan kardus sebagai alas duduknya. aku pernah bercerita tentang senja … Continue reading Belajar