Tag: life

  • Notifikasi Terakhir Sebelum Tidur

    Notifikasi Terakhir Sebelum Tidur

    Dulu, sebelum tidur, manusia mungkin menatap langit-langit rumahnya. Atau mendengarkan suara jangkrik dari luar jendela. Atau berbicara sebentar dengan orang yang dicintainya sebelum memejamkan mata dan menyerahkan dirinya pada sepi malam.

    Sekarang, sebelum tidur, sebagian besar dari kita melakukan hal yang sama, yaitu menatap layar.

    Kapan tepatnya kebiasaan itu dimulai? Aku tidak tahu pasti. Mungkin perlahan dan tanpa kita sadari. Sama seperti banyak perubahan besar dalam hidup, ia tidak datang dengan pengumuman resmi dan formal. Tidak ada hari ketika semua orang sepakat bahwa mulai sekarang momen terakhir sebelum tidur akan diberikan kepada ponsel. Tiba-tiba saja itu menjadi normal.

    Aku sendiri sering melakukannya.

    Di saat lampu kamar sudah mati, ketika tubuh sudah lelah. Saat mata sebenarnya sudah meminta istirahat, selalu ada dorongan untuk melihat layar sekali lagi. Hanya sebentar.

    Hanya untuk memastikan tidak ada pesan penting, melihat notifikasi terakhir, satu kali scroll lagi. Lalu satu kali lagi. Dan satu kali lagi. Terakhir kali.

    Aneh sekali bagaimana manusia yang mengaku kelelahan masih mampu menemukan energi untuk memeriksa kehidupan orang lain sebelum tidur. Yang lebih aneh, sering kali bukan isi notifikasinya yang penting. Melainkan keberadaannya.

    Aku rasa ada rasa tenang ketika layar menyala dan menunjukkan bahwa seseorang mencari kita. Seseorang mengirim pesan pada kita. Seseorang menyebut nama kita. Seseorang, di suatu tempat, mengingat bahwa kita ada.

    Kadang aku berpikir sebagian besar notifikasi sebenarnya tidak membawa informasi baru. Yang dibawa adalah validasi bahwa kita masih terhubung, bahwa kita masih terlihat dan belum sepenuhnya menghilang.

    Karena di balik semua teknologi yang semakin canggih ini, manusia tetaplah makhluk yang sama. Kita masih takut menjadi tidak penting. Mungkin itu sebabnya notifikasi terakhir sebelum tidur sering terasa lebih besar daripada yang seharusnya.

    Sebuah pesan sederhana bisa mengubah suasana hati semalaman.

    “Kamu udah mam?”

    “Aku udah sampe rumah.”

    “Hati-hati ya.”

    “Gudniteee~”

    Atau bahkan sekadar emoji yang tidak punya arti khusus.

    Kalimat-kalimat yang pada siang hari mungkin terasa biasa saja, tiba-tiba menjadi penting ketika dibaca pukul sebelas malam dalam kamar yang sepi.

    Sebaliknya, ketiadaan notifikasi juga bisa terasa mengganggu.

    Tidak ada pesan, tidak ada balasan, tidak ada nama familiar yang muncul di layar. Hanya wallpaper dan jam digital yang terus bergerak.

    Lucu juga bagaimana sebuah perangkat yang awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia kadang justru menjadi alat ukur kesepian yang paling akurat.

    Tidak ada generasi sebelum kita yang memiliki cara seefisien ini untuk merasa diabaikan.

    Kadang aku membayangkan seseorang seratus tahun dari sekarang mencoba memahami kebiasaan kita. Mereka mungkin akan heran mengapa manusia abad ke-21 begitu terobsesi dengan layar kecil yang menyala sebelum tidur.

    Mereka mungkin tidak mengerti kenapa seseorang bisa kehilangan semangat hanya karena pesan yang tidak dibalas, atau kenapa seseorang bisa tersenyum sendiri karena sebuah notifikasi muncul pada jam yang tepat.

    Mereka mungkin menganggap kita rapuh. Dan aku rasa mereka ada benarnya.

    Karena semakin kupikirkan, notifikasi terakhir sebelum tidur sebenarnya jarang tentang notifikasi itu sendiri.

    Ia lebih sering tentang harapan bahwa seseorang akan mengingat kita. Harapan bahwa ada pesan yang layak ditunggu. Harapan bahwa ketika hari berakhir, masih ada alasan untuk merasa terhubung dengan dunia di luar kamar kita.

    Mungkin itu sebabnya beberapa notifikasi terasa begitu sulit dilupakan.

    Tapi tentu saja tidak semua notifikasi membawa kebahagiaan.

    Ada juga notifikasi yang menghancurkan tidur seseorang.

    Ada pesan perpisahan, kabar buruk, balasan yang tidak diharapkan, atau bahkan tidak ada notifikasi sama sekali dari orang yang paling ditunggu.

    Karena pada akhirnya, layar ponsel hanyalah cermin yang lebih modern. Ia memantulkan apa yang sudah ada di dalam diri kita. Rindu tetap menjadi rindu. Takut tetap menjadi takut. Kesepian tetap menjadi kesepian.

    Teknologi tidak menciptakan emosi-emosi itu.

    Ia hanya membuatnya datang lebih cepat.

    Lebih sering.

    Dan lebih sulit dihindari.

    Malam ini, seperti banyak malam sebelumnya, aku mungkin akan melakukan hal yang sama seperti jutaan orang lain di seluruh dunia. Aku akan mematikan lampu, berbaring di tempat tidur, lalu melihat layar ponsel untuk terakhir kalinya sebelum tidur.

    Aku tidak menunggu sesuatu yang penting atau kabar yang sangat besar. Aku hanya diam-diam masih berharap ada seseorang yang memilih untuk memikirkan aku sebelum ia tidur.

    Dan mungkin, jika aku cukup beruntung, aku akan menjadi notifikasi terakhir sebelum tidur seseorang juga. Bukan karena aku memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan, melainkan karena di dunia yang semakin bising ini, kadang hal paling menenangkan yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah pengingat sederhana bahwa mereka tidak sendirian malam ini.

    Foto oleh Ahmed Nishaath di Unsplash

  • Dia Selalu Duduk di Tempat yang Sama

    Dia Selalu Duduk di Tempat yang Sama

    Ada seorang pria yang selalu duduk di meja dekat jendela di sebuah kedai kopi yang cukup sering aku sambangi. Aku tidak tahu namanya, aku tidak tahu pekerjaannya, aku bahkan tidak yakin apakah aku pernah mendengar suaranya. Tapi selama beberapa waktu terakhir, keberadaannya menjadi sesuatu yang (anehnya) akrab. Setiap kali aku datang, hampir selalu ia sudah ada di sana lebih dulu. Kopi hitam di sebelah komputer jinjingnya. Sesekali mengetik, lalu memandangi jalanan di luar jendela dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Aku pikir itu tatapan orang yang sedang menunggu seseorang, tapi juga terlihat seperti tatapan orang yang sedang kehilangan sesuatu, atau mungkin lebih mirip tatapan orang yang terlalu lama hidup dalam pikirannya sendiri.

    Awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya. Sama seperti kita yang tidak terlalu memperhatikan tiang listrik atau pohon di dekat rumah yang setiap hari kita lewati dalam perjalanan menuju kantor. Kita menganggap benda-benda itu akan selalu ada. Dan kehadiran yang terlalu konsisten sering kali berubah menjadi latar belakang. Hingga suatu hari latar belakang itu hilang, dan kita baru sadar betapa besar ruang yang diam-diam mereka tempati dalam hidup kita.

    Aku mulai menyadari bahwa keberadaan pria itu bukan semata-mata karena rasa penasaran, tapi karena pengulangan. Mungkin memang begitu cara manusia membangun kedekatan. Kita biasa membangun relasi melalui percakapan panjang atau pengalaman emosional mendalam yang kita bagikan dengan suka rela, tapi ada hal lain yang tidak sempat kita perhatikan, yaitu relasi yang terbangun melalui kebiasaan melihat dan merasakan sesuatu berulang kali. Kita bisa merasa dekat dengan suara kereta yang lewat setiap sore, kita bisa merasa dekat dengan penjaga parkir yang hampir tidak pernah kita ajak bicara (biasanya hanya sekadar sapaan), atau kita bisa merasa dekat dengan wajah seseorang yang selalu muncul di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Kedekatan kadang lahir dari rutinitas, bukan dari hubungan.

    Karena terlalu sering melihat pria itu, aku mulai mengarang cerita-cerita kecil tentang hidupnya yang tidak pernah aku ketahui dengan pasti. Mungkin, dia adalah seorang penulis yang sedang berusaha menyelesaikan novelnya yang tidak kunjung selesai sejak berbulan-bulan lalu. Mungkin juga dia adalah seorang pekerja lepas yang lebih nyaman bekerja di tengah suara mesin espresso dibanding di kamarnya yang sunyi. Atau mungkin saja dia baru kehilangan seseorang? Mungkin dia sedang jatuh cinta? Atau mungkin bahkan tidak ada cerita menarik sama sekali dalam hidupnya? Mungkin saja dia hanya menyukai posisi meja dekat jendela karena pencahayaannya yang bagus dan colokan listriknya dekat.

    Hari-hari terus berlalu dan pria itu tetap menjadi bagian dari pemandangan di saat aku mengunjungi kedai kopi. Aku mulai menganggapnya sebagai elemen tetap dalam ruangan tersebut. Sama seperti aroma kopi yang selalu menempel di udara, lagu-lagu jazz yang diputar pelan, dan barista yang wajahnya lebih sering kulihat daripada beberapa teman dekatku. Aku tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari pria ia tidak akan ada lagi di sana. Mungkin karena sebagian dari kita percaya bahwa apa yang terus-menerus hadir akan terus hadir selamanya. Padahal hampir semua kehilangan justru datang dari asumsi semacam itu. Hidup memang mengecewakan.

    Lalu pada suatu Selasa yang biasa saja, kursi itu kosong.

    Tidak ada yang istimewa pada hari itu. Tidak ada hujan deras, tidak ada firasat buruk, tidak ada adegan dramatis seperti dalam film. Hanya sebuah kursi kosong di meja dekat jendela. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya. Setiap orang punya urusan. Bisa jadi sakit, atau ingin berlibur, atau mungkin aku dan dia ada di waktu yang tidak tepat. Tapi keesokan harinya kursi itu masih kosong. Hari berikutnya juga. Seminggu kemudian tetap kosong. Sebulan kemudian aku mulai sadar bahwa mungkin aku tidak akan melihat pria itu lagi.

    Aneh sekali bagaimana seseorang yang tidak pernah menjadi bagian dari hidupmu bisa meninggalkan rasa kehilangan. Aku tidak kehilangan teman, tidak juga kehilangan keluarga. Bahkan aku tidak kehilangan seseorang yang pernah mengenalku. Yang hilang hanyalah seorang pria yang kebetulan selalu duduk di tempat yang sama dan aku selalu melihatnya. Namun justru karena itu aku mulai memahami sesuatu yang selama ini luput kusadari: hidup kita ternyata dibangun oleh begitu banyak orang asing.

    Kita sering menganggap kehidupan kita hanya terdiri dari orang-orang yang namanya tersimpan di kontak telepon, yang fotonya muncul di media sosial, atau yang hadir dalam momen-momen penting. Padahal sebagian besar hari-hari kita justru ditemani oleh orang-orang yang tidak pernah kita kenal. Kasir minimarket yang selalu menyapamu setiap pagi. Petugas keamanan yang mengangguk ketika kamu masuk gedung. Penjual kopi di sudut jalan. Penumpang kereta yang hampir selalu duduk di gerbong yang sama. Mereka semua tidak pernah masuk ke dalam cerita utama hidup kita, tetapi tanpa sadar mereka membantu membentuk rasa familiar yang membuat dunia terasa lebih stabil.

    Ketika salah satu dari mereka menghilang, dunia kita memang tidak runtuh. Dunia kita tidak berubah secara signifikan. Kedai kopi itu tetap buka, baristanya masih tetap bekerja. Mesin kopinya masih tetap berbunyi. Pengunjung masih tetap tertawa dan bercengkerama seperti biasa. Tapi aku merasa ada sesuatu yang sedikit bergeser. Seperti nada yang sumbang dalam lagu yang sudah terlalu sering kita dengar. Mungkin tidak semua orang menyadarinya, tetapi kita yang terbiasa dengan pola itu akan langsung merasakan ada yang tidak pada tempatnya.

    Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa mungkin sebagian besar kehilangan dalam hidup tidak datang dalam bentuk tragedi besar. Sebagian besar kehilangan datang dengan cara yang jauh lebih sunyi. Seseorang hanya berhenti muncul tanpa penjelasan. Tidak ada perpisahan di sana. Tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dan pesan-pesan baik. Mereka hanya menghilang dari rutinitas kita, dan dunia akan mengharapkan kita untuk melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

    Mungkin suatu hari nanti, aku juga akan menjadi orang asing yang menghilang dari rutinitas orang lain. Seseorang yang selalu duduk di meja tertentu. Seseorang yang selalu memesan minuman yang sama. Seseorang yang wajahnya dikenali tetapi namanya tidak pernah diketahui. Lalu suatu hari aku berhenti datang, dan mungkin ada seseorang yang melirik ke arah kursi kosong yang kutinggalkan dan berpikir, hanya untuk beberapa detik, “Ke mana orang itu pergi?”

    Setelah itu mereka akan kembali membuka laptopnya, menyeruput kopinya, dan melanjutkan hari seperti biasa. Sama seperti yang kulakukan sekarang. Karena mungkin begitulah cara dunia bergerak.

    Foto oleh Dave Michuda di Unsplash

  • Kabar Dua Bulan Terakhir

    Kabar Dua Bulan Terakhir

    kemarin menandakan tepat dua bulan saya tidak bekerja di sebuah kantor yang tetap. istilah ini biasanya disebut sebagai pengangguran.

    menurut KBBI di pranala ini: https://kbbi.web.id/anggur

    pengangguran itu kata dasarnya “anggur.” buah? bisa juga. tapi yang mau saya sampaikan lebih ke kata kerja. aneh juga ya ‘kata kerja’ tapi artinya ‘tidak bekerja.’

    [𝑎𝑛𝑔·𝑔𝑢𝑟, 𝑚𝑒𝑛𝑔·𝑎𝑛𝑔·𝑔𝑢𝑟 (𝑘𝑎𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎) 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑝𝑎-𝑎𝑝𝑎; 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎]
    [𝑝𝑒𝑛𝑔·𝑎𝑛𝑔·𝑔𝑢𝑟 (𝑘𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑛𝑑𝑎) 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛𝑔𝑔𝑢𝑟 (𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎𝑖 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛)]
    [𝑝𝑒𝑛𝑔·𝑎𝑛𝑔·𝑔𝑢𝑟·𝑎𝑛 (𝑘𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑛𝑑𝑎) ℎ𝑎𝑙 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑘𝑒𝑎𝑑𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛𝑔𝑔𝑢𝑟]

    kalau merujuk pada definisi di atas, sebetulnya saya tidak menganggur karena masih ada beberapa kegiatan yang rutin saya lakukan. saya masih membantu beberapa kawan mengurus iklan untuk kliennya (𝑑𝑎𝑛 𝑘𝑙𝑖𝑒𝑛 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖), juga mengurus media independen yang saya buat untuk mengakomodir tulisan teman-teman yang tidak mempunyai kanal untuk menyebarluaskannya.

    hanya saja memang tidak berkantor seperti pekerja pada umumnya. jadi mungkin tidak bisa dibilang sebagai karyawan, tapi masih bisa dibilang sebagai pekerja.

    saya juga akhir-akhir ini berusaha untuk lebih rajin berolahraga. tidak terlalu berat, hanya jalan kaki dengan durasi kurang lebih satu jam, dua hari sekali. tidak berusaha untuk hidup lebih sehat, namun lebih berusaha untuk mengasah bakat dalam diri ini untuk bisa memelihara konsistensi.

    konsisten dan komitmen, dua hal yang saya rasa berat sekali untuk dipadukan. setidaknya menurut saya. tapi menurut beberapa orang dekat, saya termasuk dalam kategori orang yang bisa komitmen melakukan sesuatu, dan konsisten menjalankannya. sebuah pernyataan yang membuktikan bahwa apa yang kamu rasa belum tentu sama dengan apa yang dirasakan oleh orang lain.

    jadi apa yang mau saya sampaikan di tulisan ini? tidak ada. hanya sebuah catatan dari dua bulan terakhir ini.

    kenapa di sini?

    ya, kenapa tidak?

    (tulisan ini dipublikasikan pertama kali di linkedin)

  • Jika Nama Adalah Doa, Semoga Dia Tidak Pernah Dikabulkan.

    Jika Nama Adalah Doa, Semoga Dia Tidak Pernah Dikabulkan.

    mari agak mundur sedikit ke tahun 2016. saya punya motor yang saya beri nama “Lou Schiffer”, sebuah Honda Vario Techno 150cc berwarna hitam legam seperti layaknya sang pemilik. namun baru saja beberapa bulan dikendarai, dia sudah memakan korban, yaitu diri saya sendiri. (bukti tayang ada di bawah ini, maaf agak sedikit disturbing).

    kira-kira begini kondisi motornya setelah kejadian. bentuknya kurang lebih 1/4 body remuk, lampu pecah, dan beberapa bagian hilang.

    semenjak itu petaka dimulai. hampir setahun sekali setelahnya, kejadian buruk selalu menimpa kami. menabrak, ditabrak, dan berbagai variasi celaka lainnya pernah kami alami. total kurang lebih 10 jahitan di kepala saya dan hampir separuh bagian di motor sudah tidak utuh lagi sebagai hasil keteledoran dan kebodohan kami di jalan.

    sampai akhirnya pada februari tahun lalu, saya memutuskan untuk mengistirahatkan motor saya dan mengganti dengan motor lain yang sudah sejak lama saya inginkan. saya sejak dulu ingin sekali punya motor custom dengan gaya scrambler, atau japstyle. ya, apapun yang serupa dengan gaya itu lah.

    setelah mencari-cari dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah akun di instagram dari purwakarta yang menyediakan beragam motor custom (setengah) jadi. dan pada tanggal 8 februari, motor itu pun tiba.

    motor baru datang, dikirim langsung dari purwakarta.

    baru saja datang, beberapa minus sudah mulai terlihat. dari mulai plat nomor yang hanya ada satu saja di depan, motor datang tanpa spion, tutup tangki kendor, dan kopling macet. sebuah pertanda yang agak kurang baik kalau menurut hemat saya. tapi dalam hati saya berkata, “aman lah, spion tinggal beli, plat nanti bikin, tutup tangki nanti beli yang lebih keren, kopling bisa kita atur”

    ternyata, itu bukanlah akhir dari masalahnya. saya akan bercerita tentang lika-liku dinamika love-hate relationship antara saya dan motor yang belum punya nama ini melalui berpuluh-puluh gambar yang selama setahun terahkir telah saya dokumentasikan secara sengaja dan tidak sengaja. buat apa? pertama, buat pengingat kalau saya masih bisa berkomitmen kalau memang saya mau. kedua, buat pengingat kalau komitmen itu bisa sangat menguras fisik dan mental sekaligus. ketiga, buat pengingat kalau tidak semua hal berjalan sesuai dengan kehendakmu, kisanak.

    mari kita mulai perjalanan panjang dan berkelok ini. oh ya, disclaimer dulu; tulisan ini kebanyakan akan berisi keluhan, gambar-gambar yang tidak estetik, dan kemungkinan akan membuat anda berpikir “ini ngapain gua baca ginian? penting juga ngga”, tapi tidak apa-apa, anda boleh sekali melewatkan tulisan ini karena saya egois. tulisan ini memang untuk arsip saya sendiri, hahaha!

    dokumentasi pertama kali menunggangi rakyat demi kepentingan partai motor baru tapi lama.

    horeee… senang sekali bisa mewujudkan salah satu impian duniawi. bisa mencoret satu dari sekian banyak daftar hal yang harus dilakukan sebelum mati selain menikmati bir dan matahari terbenam di saat pergantian usia, dan menonton aksi panggung band favorit. saya cukup puas dengan tampilan motor baru ini. gagah, badung, dan intimidatif (yang ini bisa didebat, silakan. saya juga ga yakin-yakin amat soal ini sih).

    namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. baru beberapa hari dikendarai, sudah muncul masalah berikutnya:

    cangklong businya copot tanpa tedeng aling-aling.

    untung ada bengkel dekat kosan yang bisa dikunjungi untuk hal seperti ini.

    hahaha, anda pikir hanya busi saja masalahnya? meremehkan sekali~

    pembongkaran pertama dalam kehidupan bermotor custom ini berlangsung singkat saja. ganti cangklong busi dan sekalian setel kopling.

    sunmori pertama kami, xixixixi norak banget, anying~

    KEROMANTISAN ITU SEMU SAUDARA-SAUDARA!! HARI BERIKUTNYA DIA BERULAH KEMBALI!!

    bohlam lampu depan putus dengan tidak baik-baik, konon kabarnya kedua keluarga tidak saling setuju karena perbedaan fundamental. tidak perlu dibahas lebih lanjut, agak sensitif.

    saya tetap berbaik sangka, berusaha untuk membawa nilai positif dalam hubungan kami. saya rawat dengan penuh tanggung jawab dalam kondisi ngedumel hati yang gembira.

    mandi sekaligus proses ruwatan agar senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik.

    kami menjalani hubungan transaksional sesuai porsinya. dia membawa saya pada tujuan, saya memberikannya asupan bensin yang cukup walau masih kagok karena tidak ada indikator sisa bensin di tangkinya, jadi saya harus mengira-ngira dengan menggoyangkan tangki dan menengok berapa banyak bensin yang tersisa dengan jarak tempuh yang akan kami ambil. dunia berputar baik-baik saja sampai pada akhirnya, sebuah kelalaian yang saya lakukan membuat diri ini repot.

    kunci motor jatuh entah di mana, jadi saya panggil juru kunci untuk melakukan sebuah penciptaan kunci baru.

    kejadian demi kejadian kami alami. dari ban bocor berulang kali sehingga membuat saya melakukan olahraga ringan berupa dorong motor hingga ke bengkel terdekat, kehabisan bensin karena salah perhitungan dalam melihat sisa bensin dan jarak tempuh (alias sotoy “ah, ini mah sampe ke kosan doang sih”), seringkali ditolak bengkel saat ingin melakukan perbaikan sederhana namun “aduh, ga bisa mas kalo motor custom”, hingga cemoohan “kata gua juga mending vario, mas” sudah kami lewati.

    apakah selesai sampai di situ? oh, tenang. masih ada lagi~

    knalpot bocor dan mulai mengganggu kenyamanan telinga saya dan juga pengendara sekitar.
    hehehe ganti knalpot~

    oh iya, selama ini juga kalau motor ini terkena hujan, joknya terlalu bersemangat menyerap air sehingga celana saya selalu basah dan membuat bercak yang kurang enak dilihat. maka dari itu saya mencoba mencari tempat untuk membuat jok baru. lagi-lagi penolakan yang saya terima dari berbagai bengkel jok. dari alasan seperti “maaf mas, kita cuma bisa ngerjain jok standar”, hingga ke alasan “ini sih harus dilem mas” (ya terus gimana? bisa ga ngerjainnya? nolaknya aneh banget). sampai akhirnya nemu bengkel jok yang ikhlas dan kayanya emang lagi senggang aja sih.

    bapaknya selow banget, kayanya kebanyakan ngehirup aroma aibon sih.

    lalu jeng jeng jeng jeeeng…

    dudukan joknya patah bro~

    namun dengan dukungan semesta, tidak jauh dari sana hadirlah seorang juru selamat bermodalkan karbit dan peralatan sederhananya.

    gimana caranya las listrik tapi ga bawa generator? misinformasi nih~

    jok beres. pantat kering dari rembesan air hujan di jok. perkendaraan kami pun berjalan sebagaimana mestinya. sampai dalam satu perjalanan kok ban bisa kempes berkali kali ya? kok bunyi bannya ‘klak-klok-klak-klok’ rada ganggu ya? memang hidup yang penuh ketenangan hanya sekadar impian belaka.

    awalnya cuma 1 yang patah, namun karena dipaksakan jadi aja nambah 5.

    ya sudah, sekalian saja ganti ban dan setel pelek supaya “udah nih ya, udah diganti semua-muanya. ga ada alesan ngadat lagi ya.”

    sangat menarik melihat seseorang dengan kemampuan teknik yang spesifik seperti professional wheel adjuster ini. keren sekali rasanya melihat alat DIY yang fungsional dengan segala gerakannya yang tepat guna.

    tampilan terakhir di tahun 2023. gagah, mentereng, dan intimidatif (yang ini masih bisa didebat, silakan. saya juga ga yakin-yakin amat soal ini sih).

    bisa biasa aja ga sih kerennya? ehehehehehe norak~

    saya pikir ini akan menjadi bentuk sempurna dari motor saya yang penuh dengan perjuangan dalam mengurusnya ini. namun, ‘heh heh heh’ (ceritanya ketawa meremehkan gitu). jangan cepat puas dulu, bung. ini belum seberapa. entah karena apa, tiba-tiba keran tangki bensin bocor tipis namun mengganggu pergerakan. kalau bukan karena penjaga kos memberi tahu “kang, punten bensin motorna bocor” mungkin saya tidak akan sadar sampai bensinnya habis dan membuat huru-hara dalam garasi kosan.

    bocornya tuh cuma titik kecil tapi signifikan karena ngucurnya lancar banget ga kaya penyaluran dana pembangunan desa tertinggal

    dengan kemampuan menyelesaikan masalah saya yang ala kadarnya itu, akhirnya coba ngakalin nambal dulu dengan lem besi yang cara buatnya dicampur dulu. entah kenapa ga mau bikin langsung aja gitu satu lem biar ga repot takarannya pas apa engga gitu loh.

    takaran imbang 1:1 agar tidak pilih kasih seperti keadilan di negara

    daripada kenapa-kenapa, akhirnya saya memutuskan untuk sekalian ganti tangki saja dengan yang lebih kecil agar tidak terlalu intimidatif (sekali lagi, ini masih bisa didebat, silakan. saya juga ga yakin-yakin amat soal ini sih). lalu selagi cari-cari tangki, kok sepertinya ganti setang boleh juga. sekalian ganti lampu rem belakang kali ya? sama lampu depannya kalo dibikin dua gitu unik sih keliatannya. hmmm… cari-cari-cari, pesan-pesan-pesan, bayar-bayar-bayar, tekor-tekor-tekor! saatnya facelift di tahun baru!

    proses pemasangan tangki dan setang baru.
    pemilihan lampu belakang yang kustom kulture sekaleee~
    pemilihan lampu ganda yang impulsif dan cukup buruk karena ternyata bikin aki tekor dan dari sini malapetaka berikutnya dimulai.

    kelistrikan adalah masalah terbesar yang kami hadapi saat ini. dari mulai aki tekor, arus masuk-keluar listrik yang tidak sesuai, sekring putus, kabel kendor, dan berbagai kerusakan seputar dunia elektro.

    entah berapa kali bagian ini dibongkar-pasang hanya untuk melihat berbagai jenis kekeliruan yang dilakukan oleh mekanik dari bengkel terdahulu.

    dan untuk saat ini, seperti ini kondisi terbaru dari awal mula tahun kedua perjalanan kami. semoga saya semakin mengerti dengan urusan mesin dan lingkup sekitarnya, sehingga kalau ada permasalahan, dengan yakin saya bisa bilang ke mekanik di bengkel “bang, tolong itu kau apakan lah apanya itu supaya apa kali lah dia itu apa-apanya”

    mari libas 2024!

    dan demikian cerita setahun kami. tidak terlalu detail karena saya juga agak-agak lupa kapan saja motor ini masuk bengkel, dan apa saja yang diurus saat itu. tapi yang pasti bersama dengan tulisan ini, saya sematkan nama baru sebagai simbol komitmen saya selanjutnya.

    teman-teman, perkenalkan; KAKIA.

    Kakia (Ancient Greek: Κακία) (meaning bad and evil[1]), the Greek goddess of vice and moral badness, abominations (presumably, sin or crime)

    “You shall have the fruits of others’ toil, and refrain from nothing that can bring you gain. For to my companions I give authority to pluck advantage where they will.”
    Now when Heracles heard this, he asked, “Lady, pray what is your name?”
    “My friends call me Happiness,” she said, “but among those that hate me I am nicknamed Kakia.

    —Excerpt from Xenophon, Memorabilia 2.1.25-26 telling of her competition with Arete to sway Heracles to her side (evil).

  • Tentang Kenang yang Tenang

    Tentang Kenang yang Tenang

    baru saja aku menyelesaikan sebuah film. maksud menyelesaikan di sini adalah sudah selesai menonton, bukan membuat. masih jauh dari membuat film, menulis saja kadang masih berantakan.

    oiya, kembali pada film tadi. judulnya adalah “happy old year”, sebuah film yang menceritakan tentang seseorang yang ingin merapikan rumah yang berisi banyak barang-barang karena ia ingin merenovasinya menjadi sebuah kantor. konflik di film itu ada pada beberapa memori atas barang yang terasosiasi dengan orang dan kenangan tertentu.

    cukup sampai situ sinopsisnya, sisanya bisa kalian tonton sendiri, sampai hari ini filmnya masih ada di Netflix kalau kalian mau coba cari tahu.

    yang mau aku bicarakan di sini adalah keterkaitan antara film, dan apa yang aku lalui sebagai manusia yang akhir-akhir ini gemar sekali menumpuk barang-barang. baik barang yang kubeli sendiri, atau barang pemberian orang lain. terutama saat aku membuka jasa handpoke tattoo yang tidak menerima bayaran, melainkan barter dengan barang yang sudah tidak dipakai, atau yang menurut mereka cocok untukku. hasilnya, banyak menumpuk barang-barang hasil barter tattoo yang beberapa sering kupakai, tapi ada pula yang hanya menjadi pengisi ruang kamarku.

    aku percaya semua barang punya ceritanya masing-masing, ia membawa sebuah ingatan, sebuah momen yang bisa diceritakan kembali. kau bisa tunjuk satu barang di kamarku, dan aku bisa bercerita panjang tentangnya. mengapa dia ada, untuk apa dia ada, mengapa tetap kusimpan, mengapa dia ada di situ. semua bisa kujabarkan meski dengan sedikit usaha untuk mengingatnya.

    beberapa barang punya sifat emosionalnya sendiri, ada yang membawa kenangan manis, ada yang menyimpan memori pahit, ada yang menjadi pengingat sebuah pencapaian, ada juga yang menjadi penanda sebuah kesalahan.

    foto. gambar. video. tulisan. rekaman audio. semua punya caranya masing-masing untuk memantik jejak masa lalu. masa di mana semua pernah bahagia, semua pernah sedih, semua pernah punya luka dan sukanya. salah satu cara mengingat paling bajingan menurutku.

    aku suka nostalgia itu, aku sering kali membuka folder berisi foto-foto lama, sekadar ingin kembali ke memori itu. sayangnya ingatanku sudah tidak begitu kuat, beberapa harus dengan ekstra kuperas otakku untuk kembali ke sana. ada yang berhasil, tapi lebih banyak tidaknya.

    mengingat kenangan mungkin sama sulitnya dengan menghilangkannya. apa lagi jika kenangan itu datang tanpa kau sadari. tiba-tiba menikammu dengan air mata, memaksamu untuk berdamai walau kau tidak yakin berdamai dengan itu akan menyelesaikan apapun yang telah terjadi. tikaman kenangan itu membekas, membekas menjadi luka, luka yang selalu kau lihat. luka yang sulit dihapuskan.

    kali ini aku mencoba untuk tidak berdamai dengan berbagai kenangan itu. aku berusaha untuk menjadikannya sebuah pelajaran. dari apa kenangan itu terbuat, bagaimana kenangan itu terbentuk, dan untuk apa kenangan itu ada dalam hidupku.

    semoga apapun yang terjadi di belakang, akan membuatku lebih waspada tentang apa yang ada di depan. semoga membuat hidupku lebih tenang. semoga. ya, semoga.