Category: project

  • Notifikasi Terakhir Sebelum Tidur

    Notifikasi Terakhir Sebelum Tidur

    Dulu, sebelum tidur, manusia mungkin menatap langit-langit rumahnya. Atau mendengarkan suara jangkrik dari luar jendela. Atau berbicara sebentar dengan orang yang dicintainya sebelum memejamkan mata dan menyerahkan dirinya pada sepi malam.

    Sekarang, sebelum tidur, sebagian besar dari kita melakukan hal yang sama, yaitu menatap layar.

    Kapan tepatnya kebiasaan itu dimulai? Aku tidak tahu pasti. Mungkin perlahan dan tanpa kita sadari. Sama seperti banyak perubahan besar dalam hidup, ia tidak datang dengan pengumuman resmi dan formal. Tidak ada hari ketika semua orang sepakat bahwa mulai sekarang momen terakhir sebelum tidur akan diberikan kepada ponsel. Tiba-tiba saja itu menjadi normal.

    Aku sendiri sering melakukannya.

    Di saat lampu kamar sudah mati, ketika tubuh sudah lelah. Saat mata sebenarnya sudah meminta istirahat, selalu ada dorongan untuk melihat layar sekali lagi. Hanya sebentar.

    Hanya untuk memastikan tidak ada pesan penting, melihat notifikasi terakhir, satu kali scroll lagi. Lalu satu kali lagi. Dan satu kali lagi. Terakhir kali.

    Aneh sekali bagaimana manusia yang mengaku kelelahan masih mampu menemukan energi untuk memeriksa kehidupan orang lain sebelum tidur. Yang lebih aneh, sering kali bukan isi notifikasinya yang penting. Melainkan keberadaannya.

    Aku rasa ada rasa tenang ketika layar menyala dan menunjukkan bahwa seseorang mencari kita. Seseorang mengirim pesan pada kita. Seseorang menyebut nama kita. Seseorang, di suatu tempat, mengingat bahwa kita ada.

    Kadang aku berpikir sebagian besar notifikasi sebenarnya tidak membawa informasi baru. Yang dibawa adalah validasi bahwa kita masih terhubung, bahwa kita masih terlihat dan belum sepenuhnya menghilang.

    Karena di balik semua teknologi yang semakin canggih ini, manusia tetaplah makhluk yang sama. Kita masih takut menjadi tidak penting. Mungkin itu sebabnya notifikasi terakhir sebelum tidur sering terasa lebih besar daripada yang seharusnya.

    Sebuah pesan sederhana bisa mengubah suasana hati semalaman.

    “Kamu udah mam?”

    “Aku udah sampe rumah.”

    “Hati-hati ya.”

    “Gudniteee~”

    Atau bahkan sekadar emoji yang tidak punya arti khusus.

    Kalimat-kalimat yang pada siang hari mungkin terasa biasa saja, tiba-tiba menjadi penting ketika dibaca pukul sebelas malam dalam kamar yang sepi.

    Sebaliknya, ketiadaan notifikasi juga bisa terasa mengganggu.

    Tidak ada pesan, tidak ada balasan, tidak ada nama familiar yang muncul di layar. Hanya wallpaper dan jam digital yang terus bergerak.

    Lucu juga bagaimana sebuah perangkat yang awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia kadang justru menjadi alat ukur kesepian yang paling akurat.

    Tidak ada generasi sebelum kita yang memiliki cara seefisien ini untuk merasa diabaikan.

    Kadang aku membayangkan seseorang seratus tahun dari sekarang mencoba memahami kebiasaan kita. Mereka mungkin akan heran mengapa manusia abad ke-21 begitu terobsesi dengan layar kecil yang menyala sebelum tidur.

    Mereka mungkin tidak mengerti kenapa seseorang bisa kehilangan semangat hanya karena pesan yang tidak dibalas, atau kenapa seseorang bisa tersenyum sendiri karena sebuah notifikasi muncul pada jam yang tepat.

    Mereka mungkin menganggap kita rapuh. Dan aku rasa mereka ada benarnya.

    Karena semakin kupikirkan, notifikasi terakhir sebelum tidur sebenarnya jarang tentang notifikasi itu sendiri.

    Ia lebih sering tentang harapan bahwa seseorang akan mengingat kita. Harapan bahwa ada pesan yang layak ditunggu. Harapan bahwa ketika hari berakhir, masih ada alasan untuk merasa terhubung dengan dunia di luar kamar kita.

    Mungkin itu sebabnya beberapa notifikasi terasa begitu sulit dilupakan.

    Tapi tentu saja tidak semua notifikasi membawa kebahagiaan.

    Ada juga notifikasi yang menghancurkan tidur seseorang.

    Ada pesan perpisahan, kabar buruk, balasan yang tidak diharapkan, atau bahkan tidak ada notifikasi sama sekali dari orang yang paling ditunggu.

    Karena pada akhirnya, layar ponsel hanyalah cermin yang lebih modern. Ia memantulkan apa yang sudah ada di dalam diri kita. Rindu tetap menjadi rindu. Takut tetap menjadi takut. Kesepian tetap menjadi kesepian.

    Teknologi tidak menciptakan emosi-emosi itu.

    Ia hanya membuatnya datang lebih cepat.

    Lebih sering.

    Dan lebih sulit dihindari.

    Malam ini, seperti banyak malam sebelumnya, aku mungkin akan melakukan hal yang sama seperti jutaan orang lain di seluruh dunia. Aku akan mematikan lampu, berbaring di tempat tidur, lalu melihat layar ponsel untuk terakhir kalinya sebelum tidur.

    Aku tidak menunggu sesuatu yang penting atau kabar yang sangat besar. Aku hanya diam-diam masih berharap ada seseorang yang memilih untuk memikirkan aku sebelum ia tidur.

    Dan mungkin, jika aku cukup beruntung, aku akan menjadi notifikasi terakhir sebelum tidur seseorang juga. Bukan karena aku memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan, melainkan karena di dunia yang semakin bising ini, kadang hal paling menenangkan yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah pengingat sederhana bahwa mereka tidak sendirian malam ini.

    Foto oleh Ahmed Nishaath di Unsplash

  • Yang Harusnya Selesai #DiHariKamis

    Yang Harusnya Selesai #DiHariKamis

    dipecah isi kepalamu, tak ada yang berhamburan di situ. utuh. yang tiga tetap jadi satu.

    ternyata apa yang ada dalam pikiranmu hanya akan bertahan di sana. lihatlah, untuk menjadi nyata saja ia enggan. apa yang kau khawatirkan?

    itu yang seharusnya selesai. kau dan isi kepalamu. kau dan kecemasanmu. kau dan bayangan buruk yang mengisi setiap sisi, berotasi tak henti.

    seharusnya sudah selesai, tapi tetap saja kau pelihara terus, kau beri umpan agar ia tetap datang, selalu kau undang, setiap hari kau pikirkan, senantiasa kau bayangkan.

    harusnya selesai di antara mereka.

    tapi kau memilih tidak.

    terserah saja. kau yang repot nantinya.

  • Waktunya Merindu #DiHariKamis

    Waktunya Merindu #DiHariKamis

    kamu selalu bisa merindukan seseorang tanpa risau mendapatkan balasan. karena rindu tidak peduli jarak, kamu akan bisa mencintai seseorang dari jauh, kelak.

    rindu mengajarkan bahwa perasaanmu tidak begitu valid untuk ditemukan. ia hanya perlu terbang melintasi hati yang dikehendaki. rindu mengajarkan cara mencari jalan untuk melihat senyum dari jauh, tanpa perlu bertatap muka.

    kamu tetap bisa merindukan seseorang meski tak lagi ada percakapan di antaranya. kamu tetap bisa merindukan seseorang meski tidak dihiraukan, meski harus dinikmati sendiri.

    berhenti merindu adalah keputusan yang paling sulit. karena ia hanya akan bersembunyi, lalu muncul secara tiba-tiba. mengagetkan. tak pernah diduga.

    berhenti merindu menurutku adalah kesia-siaan. karena ia tidak berniat buruk. rindu selalu membawa rasa senang yang tak terkira. selalu mengajakmu kembali ke momen paling menyenangkan.

    cara paling baik menghadapi rindu adalah dengan menikmatinya. biarkan terlarut dalam kenangan paling menggembirakan. tapi.

    rindu kadang kelewatan. ia selalu menyerang di saat kita tidak bisa melawannya.

    bagaimana cara melawan rindu? kalau menurutku, lebih baik tidak usah dilawan. biarkan ia datang, biarkan ia menghilang. semua akan berproses dengan sendirinya. larutlah. tenggelamlah. bawa ia masuk jauh lebih dalam.

    semoga rindumu hari ini tidak mengecewakan.

  • Yang Tertinggal #DiHariKamis

    Yang Tertinggal #DiHariKamis

    diawali dari satu pesan tak terbalas, menumpuk jadi puluhan tanya tak terjawab. dari satu hening yang dibiarkan, bergulung jadi puluhan riuh yang tak bisa ditenangkan.

    aku mengenal kamis sebagai hari yang baik-baik saja, tidak seperti senin yang hiruk-pikuk, selasa yang campur aduk, dan rabu yang kian sibuk. jumat yang menanti diakhiri, sabtu yang menunggu dihampiri, serta minggu yang enggan disudahi.

    kamis selayaknya berakhir manis, hari baik sebelum hari jumat yang diramalkan kiamat. tapi tidak hari ini.

    kamis terlalu cepat mengkhianati, seolah ia mulai lelah mengobati hari yang lalu, ia bergegas tergesa-gesa menjelma menjadi hantu. mampir menjadi mimpi buruk di ujung pekan. dan ia akan menetap lebih lama.

    ada yang tertinggal #diharikamis. rasa tenang yang melegakan. ia hilang.

  • Proyek Selesai

    Proyek Selesai

    setidaknya aku sudah berusaha untuk menyelesaikan tantangan dari diri sendiri. tantangan untuk memaksa isi kepala terus bekerja tanpa pamrih. belajar melakukan sesuatu demi kesenangan sendiri, membuktikan sebuah pencapaian untuk diri sendiri, dan mengasah lagi satu hal yang disukai.

    akhirnya selesai juga. meskipun banyak sekali halangan di sana-sini, masalah konsistensi, manajemen waktu, penggalian ide, mengusik lagi ingatan lama. tapi aku yakin nantinya hal ini akan ada gunanya.

    gunanya apa? kapan terasa gunanya?

    tidak ada yang tahu. yang penting lakukan saja apa yang mau kamu lakukan. selama kamu senang, peduli apa dengan penghargaan?

    oh, satu lagi, terima kasih untuk semuanya yang sudah menyimak proyek ini dari awal sampai akhir. harapannya ini bisa jadi pemicu teman-teman untuk mengerjakan apapun yang kalian senangi. semoga akan ada proyek lanjutan, atau tidak? lihat saja nanti 🙂

    #30haribercerita #30