setelah bertahun-tahun memendam cita-cita untuk membuat sebuah karya, akhirnya tahun ini saya berhasil memaksakan diri untuk mewujudkannya.
namanya submisi zine. a zine you can’t trust.
kalau menurut wikipedia, zine (singkatan dari fanzine atau magazine) adalah sebuah media cetak alternatif yang biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil dan direproduksi dengan cara fotokopi.
manifestonya sendiri adalah; sebuah media ala kadarnya yang bersedia menampung segala keluh kesah dan menanggung beban isi kepala semua kontributor yang berada dalam submisi zine. isi dalam submisi zine ini sepenuhnya adalah opini pribadi para kontributor.
semua orang bebas mengaksesnya, bebas untuk menyalin, menyebarluaskan kembali, menggubah, dan membuat turunan dari materi submisi zine ini untuk kepentingan apapun, selama mencantumkan identitas kontributor yang sesuai, dan menyatakan bahwa ada perubahan yang dilakukan (jika ada)
proyek idealis yang melelahkan sekaligus menyenangkan. saya mengundang semua kontributor sendiri, menyunting semua materi yang masuk sendiri, mengatur desain dan tata letak sendiri, menyebarkannya secara sendiri.
tapi apa iya ini proyek mandiri saya sendiri? tentu saja tidak. saya perlu pembuat konten, yang saya undang dan kurasi karyanya untuk bisa sesuai tema yang sudah ditentukan. jadi bisa dibilang ini adalah proyek kolektif yang digagas oleh seseorang (saya sendiri)
sampai tulisan ini dibuat, sudah ada 4 edisi dari mei, juni, juli, dan yang terakhir edisi agustus. apabila kalian semua mau ikut berkontribusi, bisa silakan kirim apapun ke e-mail submisi.zine@gmail.com
Yang jomblo silakan ke sebelah kiri, yang berpasangan ke kanan. Woy, kamu, yang bengong di hari Valentine. Jangan pura-pura nggak tahu, ayo geser ke kiri, Gobl…
Selamat hari Valentine untuk yang merayakan. Selamat hari Kamis untuk kamu-kamu yang merasa ogah merayakan. Entah karena memang tidak punya pasangan, merasa itu bukan budaya Indonesia, atau memang malas ikut serta dalam ajang tahunan yang begitu-begitu saja.
Setiap tahun, pembahasan soal halal haram penting tidaknya merayakan hari ini sungguh sangat menarik untuk diikuti atau setidaknya dikomentari. Apalagi jempol netizen jaman sekarang sudah semakin berkembang—kuantitasnya.
Tidak perlu membicarakan mereka yang berbahagia, kesenangan mereka tidak cukup penting untuk dibahas dan diberi panggung. Bagi kaum piyambakan (baca saja: jomblo makrifat) atau para tuna asmara, Valentine hanya satu hari di mana mereka akan lebih merenungi makna rindu dan pesan-pesan singkat yang sudah berhari-hari diabaikan.
Bagi mereka yang sudah lama tidak merasakan hangatnya suara di ujung telepon, dering notifikasi ponsel, dan gemericik kupu-kupu di dalam perut. Rasanya tidak elok apabila 14 Februari hanya digunakan sebagai saat yang tepat untuk meringkuk di dalam kamar atau mengubur diri dalam kesibukan di balik kubikel kantor.
Mungkin hari Valentine adalah waktu yang cocok untuk masyarakat nirjodoh pergi ke luar dan berkunjung ke tempat ramai. Pergi ke warung kopi, tempat nongkrong, atau jalan-jalan saja keliling mall. Besar kemungkinan mereka yang sedang tidak bergandengan, jalan berdempetan, atau duduk pangku-pangkuan adalah orang yang tepat untuk kamu ajak bicara.
Siapa tahu, kan. Kumpulan gombalan “Ee, bapak kamu…” yang selama ini sudah susah payah kamu kumpulkan bisa keluar dan kamu praktekkan. Daripada cuma njogrok di dalam catatanmu dan mungkin hanya berakhir di postingan sosial media yang haduh, mblo, makin menegaskan kenelangsaan asmaramu saja.
Atau ya, mungkin kalau kamu-kamu adalah seorang yang mengategorikan diri sendiri sebagai introvert dan merasa canggung untuk bertemu orang baru, ya sudah, silakan saja gunakan hari Valentine sebagai sarana untuk mengasah kemampuan galaumu dengan bikin konten. Semakin galau semakin baik. Konten nomor satu, perasaan batinmu nomor sekian.
Ingat. Meskipun galau, jomblo, kangen, dan patah hati sudah tidak menempati posisi pertama pada mata rantai konten akhir-akhir ini, tapi ia masih berada di papan atas klasemen konten. Beriringan dengan politik, guyon receh, dan skandal selebtwit thread informatif gaya copas Wikipedia.
Tidak ada salahnya menggalau di hari valentine. Sebagaimana hak rekan-rekan kasmaran untuk menampakkan afeksinya, dan juga hak tim marketing untuk mendompleng momen kasih sayang demi meningkatkan keuntungan dagangannya.
Karena terbukti, kenelangsaan romansa dan segala rupa kekecewaan adalah hal yang paling dekat dengan kita (HAAAH?? KITAAA??). Dan oleh karena itu mari rekan-rekan piyambakan bersatu dan meramaikan hari kasih sayang dengan sambat seharian. (((Sambat seharian))).
Saya sendiri pernah mengalami beberapa kekecewaan perihal asmara. Memang tidak banyak, masih bisa dihitung jari, dengan satu tangan, tapi cukup memberi pelajaran yang berarti. Pelajaran perihal mengukur pengharapan, belajar menerima kekalahan, belajar melepaskan, juga belajar melupakan.
Katanya fase-fase terbaik seseorang adalah saat ia patah hati. Memang tidak semua, tapi kebanyakan patah hati bisa membuat seseorang jadi lebih produktif.
Coba lihat ada berapa banyak karya yang hadir dari kekecewaan. Puisi-puisi kesukaanmu, lagu-lagu yang menemanimu, atau mungkin karyamu sendiri. Dan kamu akan jadi lebih sensitif dalam melihat keadaan dunia (halaaah ramashoook~).
Nah, kalau kamu termasuk orang yang bisa produktif saat sedang patah hati, maka bersyukurlah. Karena tidak sedikit orang yang malah kehilangan dirinya saat dirundung kekecewaan. Merasa dunia begitu kejam, seolah semesta berkonspirasi untuk meruntuhkannya, lalu berdiam diri dan menarik diri dari agama lingkungan.
Jangan khawatir my luv, di hari Valentine ini kamu tidak sendirian. Tidak usah soksokan merasa seistimewa itu dengan berlagak jadi satu-satunya tuna asmara yang menerima berbagai bentuk kesedihan yang disodorkan dunia untukmu.
Masih banyak rekan-rekan lain yang memiliki nasib serupa atau bahkan lebih nelangsa dari kamu. Sambatmu itu benar-benar tidak spesial.
Jangan merasa paling sengsara sebagaimana kamu merasa paling bahagia, biasa-biasa saja. Yang Maha Kuasa tahu betul caranya membolak-balikan perasaan dengan mudah. Rayakan seadanya, sebisanya, semampunya. Kalau tidak ada, tidak bisa, dan tidak mampu, ya uwis sambat maneh waeee.
Jadi, sudah tahu mau apa pada hari Valentine ini?
Mau coklat? Beli saja sendiri. Mau bunga mawar? Pesan saja lewat toko online, tulis pesan yang mau kamu sampaikan untuk dirimu sendiri.
Jadilah jomblowan dan jomblowati yang mandiri. Mau dinyanyikan lagu romantis? YouTube adalah solusi, banyak yang dengan sukarela menyanyikan lagu kesenanganmu hanya dengan satu klik (dan kuota internet yang memadai).
Kalau masih belum cukup juga, kumpulkan sesama tuna asmara dan buatlah keriaan tandingan untuk melawan gelombang cinta yang terlalu kuat memancar di sepanjang hari Valentine ini. Demonstrasikan kalau Valentine itu haram bisa jadi solusi.
Mari menangis bersama-sama, merayakan kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan mas atau mbak kesayanganmu. Karena falling-in-love-with-people-we-can’t-have adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu maka kebahagiaan di atas dunia harus dihapuskan (sebentar, saya lap air mata dulu).
Mari bersama-sama mendendangkan lagu sedih, karena emosi yang sudah lama dipendam harus dikeluarkan secepat-cepatnya. Ajak rekan senasib sepenanggungan untuk pergi karaoke dan berteriak sekeras-kerasnya. Jangan ragu, lepaskan semuanya.
Mari bersama-sama mengingat kenangan manis saat bersama dirinya yang sudah bahagia dengan kekasihnya sekarang. Mari berjalan beriringan dan saling menguatkan karena jomblo bersatu tak bisa dikalahkan!
Tapi, kalau kamu mau sendirian juga tidak apa-apa. Bebas saja. Sedihmu tak perlu dibagi, nikmati saja sendiri. Lalu nangis, nangis sendiri. Usap aeeer mata sendiri.
Imbauan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum nonton bioskop sempat bikin geger. Untung saja, imbauannya sudah dicabut.
ilustrasi bikinan desainer Mojok.
Meski imbauan Menpora untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pemutaran film sudah dibatalkan, namun hal ini masih renyah untuk dibahas karena sudah bikin geger khalayak ramai. Meski menurut saya, nggak perlu lah sampai geger gitu. Maksudnya, mbok ya, didukung saja kegiatan ini. Toh, nggak ada ruginya jika dibandingkan kalian menghabiskan waktu menonton iklan sebelum film diputar yang kadang-kadang bisa diulang sampai 2-3 kali—seperti déjà vu padahal bukan.
Waktu saya tinggal di Thailand beberapa bulan lalu, saya juga sempat gegar budaya. Di Thailand, setiap pagi dan sore hari, di tempat-tempat umum berpelantang suara, pasti diputar lagu kebangsaan mereka alias lagu wajib anthem nasional yang berjudul Phleng Chāt Thai—untuk info lebih jelas mengenai lagu ini, sana cari sendiri. Jangan tahunya cuma lagu wik wik wik aja.
Lalu, apa yang orang-orang lakukan saat lagunya diputar? Untuk yang nasionalis, jelas mereka akan berhenti berkegiatan. Berdiri tegap sambil ikut melantunkan nada-nada kebanggaannya itu. Sementara untuk yang semi nasionalis, ya mereka berdiri juga. Tapi tidak terlalu tegap, cenderung malas-malasan dengan tatapan mata entah ke mana. Yang tidak nasionalis, juga ada. Biasanya mereka melipir ke pinggir atau duduk saja di tempatnya. Asal tidak lari-larian, maka tidak akan ada masalah berarti.
Saya sendiri sempat kaget waktu pertama kali dengar lagu itu sayup-sayup di sebuah taman. Semua orang tiba-tiba berdiri diam dan komat-kamit mengikuti lirik dan nada lagunya. Saya pikir pengumuman, eh, ternyata lagu kebangsaan sedang diputar.
Begitu juga sebelum film di bioskop dimainkan. Selain iklan—di mana pun sepertinya ini lebih wajib dibandingkan lagu wajib nasionalnya itu sendiri, baik layanan masyarakat maupun komersil, penonton harus berdiri saat lagu kebangsaan dimainkan.
Tidak hanya lagu, namun juga dibarengi cuplikan video dan foto tentang raja terdahulu hingga terkini. Bayangkan, saya sebagai orang asing di sana, dalam kurun waktu kurang dari lima menit sudah merasa paling nasionalis dan mencintai Raja Thailand dengan segenap hati.
Sungguh, propaganda yang halus dan tak diduga-duga.
Meskipun banyak juga orang-orang di sana yang merasa pemutaran lagu nasional tersebut tidak perlu dan tidak peduli-peduli amat tentang kebijakan ini. Namun nyatanya, toh tetap saja masih banyak orang yang menganggap hal ini penting dan tidak berusaha menghilangkannya. Protes pasti tetap ada, tapi ya lagu kebangsaan tetap saja terus diputar.
Sebetulnya masalah dari menyanyikan lagu kebangsaan di bioskop ada pada pencetus imbauannya. Yang mana menurut netizen dan khalayak ramai, tidak ada sangkut pautnya dengan industri perfilman.
Apa urusannya Kementerian Pemuda dan Olahraga mengimbau para pengelola bioskop untuk memutar lagu Indonesia Raya sebelum film ditayangkan? Apa faedahnya menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum menonton film Hollywood? Apakah setelah mendengarkan lagu Indonesia Raya, maka penonton akan enggan menyaksikan film buatan luar negeri karena sudah kadung cinta tanah air?
Lalu, apakah layak lagu kebangsaan diputar sebelum film yang berisi adegan kekerasan? Apakah pantas lagu kebangsaan diputar sebelum film yang berisi adegan tidak senonoh? Apakah patut lagu kebangsaan diputar sebelum film yang berisi berita hoaks atau tidak sesuai dengan nilai-nilai cinta tanah air?—ya, siapa tahu ada film seperti itu. Saya sih, belum pernah nonton.
Lagipula, apakah tidak cukup kita mendengarkan lagu Indonesia Raya pada saat upacara? Tapi kalau dipikir-pikir, kalian terakhir kali upacara kapan?
Apakah tidak cukup mendengarkan lagu Indonesia Raya saat acara resmi kenegaraan? Tapi kalau dipikir-pikir, kapan kalian mendapat kesempatan untuk hadir di acara kenegaraan?
Apakah tidak cukup kita mendengarkan lagu Indonesia Raya pada saat pembukaan acara atau kegiatan internasional? Tapi kalau dipikir-pikir, kapan kalian bisa ikut serta dalam penyelenggaraan acara internasional?
Menpora ini, apa ya tidak tahu kalau masyarakat sudah tidak mempan lagi dicekoki nasionalisme? Yang rakyat butuhkan bukanlah lagu Indonesia Raya dimainkan sebelum film dimulai. Yang rakyat butuhkan adalah program-program antikorupsi, pelatihan membuat organisasi kepemudaan, atau menyelenggarakan lomba agustusan yang bikin gayeng serius dan fokus supaya Indonesia lolos piala dunia.
Biarlah urusan tonton menonton ini menjadi urusan kami para sinefil murtad, para sineas penikmat layar, serta dolby system all around you saja.
Begini loh, masalah RUU permusikan saja masih belum reda. Eh, kok kemarin malah mau ketambahan polemik baru lagi. Apa ya, tidak kasihan terhadap netizen yang harus ikut menimpali hal-hal hangat yang terjadi di masyarakat? Bikin musik diatur, nonton di bioskop juga mau diatur. Apa negara ini seberantakan itu sampai-sampai semua hal harus ada aturannya? Apa masyarakat kurang tertib sehingga perlu diimbau untuk melakukan ini dan itu?
Takutnya, sih, instansi lain jadi latah dan ikut-ikutan bikin aturan dan imbauan yang serupa, mengatas namakan nasionalisme dan ketahanan masyarakat. Nggak lucu juga sih, kalau setiap mau ngapa-ngapain selain dimulai dengan niat dan doa, juga ketambahan harus nyanyi lagu Indonesia Raya~
Namun, apabila bapak dan ibu sekalian ternyata berubah pikiran lagi lalu bersikeras untuk memutarkan lagu Indonesia Raya sebelum film dimulai. Usul saya sih, sebaiknya lagunya diputar setelah filmnya selesai saja. Saya yakin, tidak ada yang menolak. Siapa tahu hal ini malah jadi lebih klimaks. Ngantri keluar bioskop diiringi lagu Indonesia Raya, mungkin bisa berasa menjadi kontingen Indonesia yang sedang konvoi sebelum turnamen dimulai.
Ngomong-ngomong, kalau ternyata Bapak dan Ibu sekalian betul-betul berubah pikiran lagi dan pengin mengimbau lagi. Untuk memperkuat rasa nasionalisme sebelum menonton film, apa tidak sekalian saja gerbang pintu teater didesain mirip dengan gapura RT saat Agusturan? Oh ya, sekalian jangan lupa suara panggilan penonton untuk masuk ruang teater, direvisi dikit jadi,
“Pintu teater satu telah dibuka. Masing-masing pemimpin pasukan menyiapkan barisannya.”
Pemecahan kepribadian atau sering juga disebut kepribadian ganda, atau juga lebih terkenal dengan nama alter ego. Merupakan suatu keadaan di mana kepribadian individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Kepribadian itu biasanya merupakan ekspresi dari kepribadian utama yang muncul karena pribadi utama tidak dapat mewujudkan hal yang ingin dilakukannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa ada satu orang yang memiliki pribadi lebih dari satu atau memiliki dua pribadi sekaligus. Kadang si penderita tidak tahu bahwa ia memiliki kepribadian ganda, dua pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling mengenal dan lebih parah lagi kadang-kadang dua pribadi ini saling bertolak belakang sifatnya.
(sumber: wikipedia)
Gue ga pernah bahas ini terlalu dalam dan mencoba untuk konsultasi lebih lanjut dengan pakarnya. Karena gue pikir ini cuma sekadar fluktuasi emosi yang wajar.
Tapi di satu sisi gue mulai merasa ini perlu diceritakan, supaya apa? ya supaya gue ada bahan buat ngisi blog ini.
Disclaimer: tulisan ini adalah opini gue belaka, ini bukan kajian ilmiah, ini bukan jurnal kesehatan dan psikologi, ini murni penjabaran gue.
Oke, mari kita mulai.
Gue kurang tahu kapan tepatnya ini mulai berkembang dan gue mulai mengenali ini sebagai bagian dari diri gue yang secara sadar gue pelihara.
Gue punya 2 alter ego. Ya. 2. Dua yang gue kenali, yang lain mungkin mereka tidak terlalu menonjol, tapi 2 ini yang paling sering mengambil alih pikiran gue.
Kusmartono Aji adalah diri gue yang paling jujur, dia adalah yang bakal lo temui saat pertama kali lo kenal gue. Dia amat sangat tertutup, pemalu, tertib, sopan, bicara seperlunya, menjaga perasaan orang lain, dan merupakan implementasi pemuda baik-baik idaman orang tua. Lo sering ketemu dia, lo sering ngobrol sama dia, tapi lo ga bakal tahu terlalu dalam soal dia. Sampai lo ketemu sama gue yang satu lagi. Dia yang lebih sering ngambil alih fungsi pikiran gue.
Ujoy namanya.
Kadang sok-sokan nulis namanya jadi Joey, biar keren katanya. Lagipula nama Joey itu unisex, cewe-cowo bisa make. Dia adalah gue yang lebih cair, lebih terbuka, lebih menyenangkan, lebih mudah diajak bertukar pikiran, banyak bercanda, mengeluarkan lelucon-lelucon yang kadang cuma dia yang tahu maksudnya apa. Dia yang punya ide-ide gila, yang suka bertindak spontan, yang semangatnya meledak-ledak, amat sangat menyenangkan. Kalo lo lagi ngobrol sama gue dan lo merasa nyaman, sudah bisa dipastikan lo lagi ketemu sama Ujoy. Tapi kalo lo ngeliat gue dengan tatapan “anjing, ini siapa? serem amat”
Lo sedang berhadapan dengan gue yang paling gue malesin, tapi gue masih perlu dia di kondisi-kondisi tertentu.
Gue ga pernah tau siapa namanya, dan ga kepikiran buat ngasih dia nama juga, tiap nongol bikin orang jengah doang. Dia adalah gue yang sarkas, bandel, rebel, radikal, progresif, nyolot, emosian, galak, mukanya ga enak.
Dia cuma keluar saat gue lagi sendirian atau dalam kondisi yang butuh pagar buat ngejauhin orang. Dia pintar mengambil jarak, jago menghindari kontak mata, karena gue pernah inget ada orang yang ketemu sama dia dan berkomentar “lo siapa? ujoy mana?” trus dia kabur. Lemah dia sama kontak mata. Balik lah ketemu sama gue yang menyenangkan.
Gue ga suka kalo si kampret ini lagi muncul, mood swingnya parah, gue kadang susah ngontrolnya kalo dia lagi nongol. Yang gue inget, dia muncul kira-kira 4-5 tahun lalu deh.
Jadi kesimpulannya adalah, kalo lo ketemu gue yang kalem, itu Aji. Kalo lo ketemu gue yang ngocol, itu Ujoy. Tapi kalo lo ketemu gue yang merengut mulu, itu sikampret tuh yang nongol.
Believe it or not, mereka satu, mereka gue, mereka pernah muncul bareng terus ngobrol aja gitu di kepala gue. Makanya kalo gue ngapa-ngapain sendirian, ya ga usah heran, gue tetep ada temennya.
Sudah kurang lebih 27 kali kita bertemu, tapi nampaknya tidak banyak darimu yang berubah.
Kau tetap seperti dulu, selalu setia menunggu aku datang, walaupun hanya untuk sekedar berkata “November, be nice” dan kemudian aku berlalu tanpa memperdulikan apa yang terjadi padamu.
Sekarang anggap saja ini upayaku menebus 26 kali pertemuan kita yang lalu. Izinkan aku mengisi setiap harimu dengan torehan aksara yang bahkan mungkin aku tak tahu maknanya.
Izinkan aku memulai ini dengan satu kalimat tanya;