Category: project

  • Day 9: Sedang (Tidak) Bahagia

    Day 9: Sedang (Tidak) Bahagia

    beberapa orang bilang saya adalah pribadi yang pesimistis. setuju sekali. karena memang semua hal pasti punya sisi negatif yang tidak orang lain lihat. atau kalaupun terlihat, mereka tidak menghiraukannya.

    Tema tulisan hari ini seharusnya tentang sebuah kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, yadda, yadda, yadda. tapi saya tidak akan menulis tentang itu kali ini. anggap saja ini adalah tulisan antitesis dari sebuah kebahagiaan itu sendiri. atau tidak? terserah kalian saja menangkapnya.

    banyak keinginan dan harapan yang sudah saja jadwalkan hadir beberapa saat ke belakang. tapi begitu saya tengok ulang, hampir seluruhnya tidak ada yang terwujud. mulai dari impian menonton banyak konser namun terhalangi oleh pandemi sialan ini. menambah tato di tubuh karena terlalu banyak hal primer yang perlu diselesaikan. sampai ke menunda memulai usaha karena pekerjaan kantor yang terlalu menyita waktu.

    kebahagiaan yang seharusnya sederhana sekarang tiba-tiba menjadi rumit. lihat saja linimasa media sosialmu, berapa banyak polemik yang disebar oleh orang-orang yang kamu ikuti. kalau tidak banyak, mungkin lingkaran pertemananmu salah. atau malah lingkaran pertemanan saya yang salah? ya, saya tidak peduli.

    ingin sekali rasanya bisa marah-marah setiap saat, marah pada keadaan, marah pada sekeliling, marah pada diri sendiri.

    tapi tidak bisa, biarkan saya simpan kemarahan itu di kepala saya sendiri. biarkan apa yang terlihat di permukaan adalah wajah dengan senyum yang lebar, celotehan yang menggembirakan, dan pertanyaan-pertanyaan non tendensius.

    saya sedang tidak bahagia. tapi saya berusaha untuk tidak terlalu tidak bahagia. saya masih bisa tersenyum sedikit walau kecut. pandemi sialan. virus keparat. brengsek kalian!

    (30 days writing challenge. Day 9: Write about happiness)

  • Day 8: Ode Notasi Nada

    Day 8: Ode Notasi Nada

    Saya cukup yakin bahwa apa yang kita dengar itu sebenarnya adalah isi hati kita yang berbisik diam-diam, yang menuntun otak meminta untuk diputarkan sebuah komposisi keindahan bernama musik.

    tidak ada satu hari pun dari seorang manusia normal pada umumnya yang luput dari paparan musik. sekalipun kamu tidak punya alat pemutar musik, otakmu sudah menyimpan puluhan, bahkan ratusan lagu yang siap kamu putar di kepala, meskipun yang terputar biasanya itu-itu saja.

    saya, seperti yang pernah ditulis di sini adalah tipe manusia yang biasanya mendengarkan musik tergantung dari apa yang saya rasakan saat itu. saya punya berbagai pilihan daftar putar untuk setiap mood dalam hidup saya.

    saya teringat sebuah masa ketika patah hati bertahun-tahun lalu, telinga saya tidak putus-putusnya mendengarkan lagu-lagu melankolis berlirik sendu dan menyayat hati. cengeng memang, tapi saya perlu itu. saya perlu sesuatu untuk dijadikan pelepasan. dan saat itu, rasanya hati dan otak sedang kompak-kompaknya untuk terus meminta telinga terus menerus mendengarkan alunan nada minor sebagai sarana relaksasi.

    ada pula masa di mana selepas itu, peduli setan dengan lagu cengeng. otak saya dengan penuh semangat mencari segala musik beraroma kebebasan dengan landasan distorsi dan ketukan drum rapat serta teriakan yang melengking, menggeram, membuat jantung bekerja ekstra keras dalam memompa aliran darah ke seluruh tubuh.

    musik adalah katalis. musik adalah napas. musik adalah representasi perasaanmu.

    sama seperti ketika saya membuat daftar putar untuk seseorang. dengan cermat dan hati-hati, mengkurasi nada dalam lagu, mencerna setiap kata dalam lirik yang akan dijadikan pesan tersembunyi pembawa harapan dan keinginan yang mungkin tidak pernah tersampaikan. dibungkus menjadi satu perjalanan yang berisi permintaan maaf.

    satu cerita tentang musik yang pernah menjadi impian, sempat menjadi kenyataan, namun tidak berakhir sebagaimana yang direncanakan. tentang bagaimana kita bertemu? apakah di salah satu pertunjukan musik, di mana kau sendirian demi menyaksikan band kesayangan karena teman-temanmu tak ada yang bisa diajak, lalu berbicara tentang kesukaan masing-masing.

    musik adalah katalis. musik adalah napas. musik adalah langkah kaki. musik adalah tatapan mata. musik adalah jabat tangan erat. musik adalah mimpi indah di tidur siang. musik adalah makan tengah malam di waktu diet. musik adalah dosa terbaik yang tuhan sediakan. musik adalah peluh keringat yang menetes di tengah ruangan berpendingin. musik adalah kebahagiaan. musik adalah bahan bakar hidup.

    (30 days writing challenge. Day 8: The power of music)

  • Day 7: Nonton, yuk?

    Day 7: Nonton, yuk?

    film kesukaan. apa ya kualifikasi film kesukaan buat saya? hmmm…

    film yang bagus? film yang ditonton lebih dari 10 kali? film yang saya hafal adegannya? kalau dialog tidak mungkin, karena saya pelupa anaknya. film yang bikin nangis? film yang memorable? apa ya?

    ya sudah, karena bingung, lebih baik saya pilihkan beberapa film yang sekiranya bisa menunjukkan selera saya saja lah ya. kalau sudah selera saya, berarti saya suka kan? ehehe.

    Scott Pilgrim vs. the World (2010)

    scott pilgrim dan ramona flowers

    premisnya adalah cerita tentang seorang pemuda yang harus mengalahkan 7 mantan pacar seorang pemudi sebelum boleh mengencaninya. kenapa saya suka film ini? karena pertama, soundtracknya bagus, latar belakang ceritanya tentang musik (band), sinematografinya apik nan ciamik, lokasinya di kanada, dan humornya keren, hehehe

    film ini sudah saya tonton berulang kali, mungkin sudah lebih dari 10 kali saya tonton ulang, baik secara penuh, atau per adegan yang saya ingin saja. tidak pernah bosan.

    satu hal yang menarik dari film ini adalah film ini diperankan oleh beberapa superhero. silakan cari siapa saja.

    Fight Club (1999)

    tyler durden dan the narrator

    keren. udah, tonton aja. nanti kamu akan tahu kenapa kamu jangan sering-sering begadang.

    500 Days of Summer (2009)

    tom hansen dan summer finn

    salah satu film yang saya suka karena soundtracknya enak-enak. selain itu, jalan cerita yang diacak dari alurnya juga bikin saya tertarik, sampai-sampai saya menonton film ini dengan dua cara berulang kali. cara pertama adalah menonton dengan apa adanya. cara kedua adalah menonton secara kronologis (emang ada? ada, saya edit sendiri, ehehe)

    sebuah film komedi romantis yang tidak biasa tentang seorang wanita yang tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada, dan pria muda yang jatuh cinta padanya.

    ya, banyak yang bilang summer adalah wanita brengsek yang mempermainkan hati tom yang naif dan tulus mencintainya. tapi menurut saya tidak. summer tidak brengsek, tom hanya bodoh. karena kalau kamu perhatikan di film ini, summer sudah jelas-jelas tidak menginginkan hubungan apa-apa. kenapa tom berharap banyak?? bodoh! nikmati saja sajian yang ada di depan matamu, tom!

    sudah ya, 3 itu saja, sisanya ayo kita ketemu, ngobrol sambil ngopi, atau ngebir, terserah kamu. apa? ke kosan kamu? boleh aja 🙂

    (30 days writing challenge. Day 7: Favorite movie)

  • Day 6: Lajang? Bahagia?

    Day 6: Lajang? Bahagia?

    menjadi lajang, status yang sudah saya sandang semenjak lebih dari 10 tahun lalu, sama sekali tidak membuat dunia saya berhenti berputar. bahkan rasanya menjadi seorang lajang lah yang membuat roda hidup saya bergulir terus.

    saya sampai lupa bagaimana rasanya menjalani hidup berpasangan. bagaimana bahagianya memiliki seseorang yang bisa diajak bicara hal-hal paling pribadi, melakukan hal-hal bodoh bersama, menyusuri jalan-jalan yang belum pernah dilewati. kegiatan-kegiatan seperti itu yang sekarang lebih sering saya lakukan bersama teman-teman.

    kalau begitu, bagaimana caranya melajang namun tetap bahagia? mungkin pertanyaan yang seharusnya adalah kenapa kamu berpikir kalau seorang lajang itu selalu bernasib mengenaskan? apa yang salah dari melajang? apakah karena konstruksi sosial yang selama ini sudah terbangun mengharuskan kita semua untuk hidup berpasang-pasangan?

    lalu kenapa selalu harus menyandarkan kebahagiaanmu pada orang lain? bagi saya, sendiri atau bersama, bahagia itu harus selalu bisa diwujudkan, bagaimana pun caranya. saya belajar untuk nantinya bisa bahagia bersama seseorang. tapi saya juga harus bisa belajar untuk bisa mencari kebahagiaan sendiri.

    karena seperti yang saya percayai, mempersilakan seseorang masuk ke dalam hidupmu berarti memperkecil ruang kebahagiaan yang sudah kamu atur sendiri. artinya untuk bisa bersama orang lain, diperlukan adanya kompromi. saya? bisa saja. namun pasangan saya? apa bisa berkompromi dengan kelakuan saya yang amoral, bejat, tidak bisa diatur, dan sering melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri ini?

    maka dari itu, selagi lajang, inilah saatnya saya untuk melakukan hal-hal yang sekiranya tidak akan dapat saya lakukan saat nanti tiba waktunya untuk berpasangan. membuat zine, bikin tato, berkendara malam hari, merokok sambil memandangi bintang, berdiam diri seharian, tidur siang tanpa batas waktu, apapun kegiatan yang sekiranya nanti pasangan saya akan berkata “KAMU NGAPAIN SIH? KEGIATANNYA YANG POSITIF KEK!”

    jadi, untuk sekarang. saya lajang, dan saya bahagia. 🙂

    (30 days writing challenge. Day 6: Single and happy)

  • Day 5: Ibu Bapak

    Day 5: Ibu Bapak

    ibu, bapak, dan saya yang mau kabur ke alam bebas.

    di atas adalah foto ibu dan bapak waktu masih muda, entah foto tahun berapa, yang pasti di circa 90-an karena saya lahir tahun ’89 dan di foto tersebut saya belum terlalu besar juga, jadi mungkin sekitar 92-93? entah ya. yang pasti foto diambil di kawasan ancol.

    ibu bapak adalah orangtua yang biasa saja, datang dari keluarga jawa yang tidak terlalu besar (yang ini saya asumsi saja ya, karena jujur saya tidak pernah tahu silsilah keluarga saya sendiri), dari ekonomi kelas pekerja, dari tingkat pendidikan yang biasa saja (tidak ada dari mereka yang punya gelar sarjana, yang mana ternyata setelah ditinjau, saya dan kakak pun tidak punya gelar sarjana, ehehe), dan dari tingkat relijiusitas yang biasa saja pula.

    IBU

    tulisan ini saya mulai dari ibu, ibu sudah berpulang juli 2015. beruntungnya saya bisa menemani beliau dan menuruti semua permintaan terakhirnya kala itu. kalau saja saya menolak di sore itu, mungkin penyesalan saya akan lebih dalam.

    ibu senang sekali masak, ibu bisa masak apa saja, dan semuanya selalu enak. ini bukan selera subjektif, tapi semua orang yang pernah mencicipi masakan ibu pasti setuju. satu hal yang cukup disesali adalah, ibu tidak pernah mencatat satu pun resep yang biasa beliau masak, selalu menggunakan perasaan saat menakar bumbu dan tidak jarang membuat kebingungan saya dan kakak ketika ingin menduplikasi masakan beliau sekarang.

    ibu sering marah-marah, tapi kami di rumah selalu menjawab omelan ibu dengan candaan sehingga beliau juga jadi lupa kalau beliau marah. hobi ibu adalah berkeliling ke rumah tetangga dengan membawa sesuatu dari rumah, dan saat pulang beliau akan membawa barang yang entah apa gunanya di rumah. sepertinya beliau senang melakukan pertukaran barang alias barter di era modern ini. satu hal yang paling absurd adalah saat beliau pulang ke rumah membawa puluhan toples kecil yang esokannya diisi dengan sambal petis dan kemudian dibagikan kembali ke tetangga, ibu memang dermawan.

    ibu tidak berbakat dalam teknologi. seumur hidupnya tidak pernah awet punya handphone, paling lama umurnya hanya 3 bulan, selepas itu pasti dijual dan uangnya dibelanjakan bahan masakan untuk dibagikan ke tetangga lagi. ibu baunya khas sekali, bau kecut keringat dan dapur. saya senang sekali menciumi ibu sampai beliau risih, tapi saya tidak peduli, bau ibu lebih menyenangkan daripada bau bapak (padahal waktu kecil katanya saya tidak bisa tidur kalau belum mencium bau ketiak bapak, aneh kamu mz!).

    ibu juga preman setempat. bukan karena beliau seorang kriminal. hanya saja entah kenapa beliau cukup disegani di lingkungan saya. hampir semua kenal ibu, dari mulai tukang ojek, tukang sayur, ustadz, rentenir, hampir semua hormat dan segan pada beliau. tapi saya tidak pernah menyalah gunakan ketenaran ibu, buat apa, tidak ada untungnya buat saya saat itu, dan sampai sekarang juga saya tidak merasa ada perlunya, ehehe.

    ibu, aku kirim doa lagi, mudah-mudahan perangkonya cukup, jadi ibu bisa terima doanya.

    BAPAK

    bapak, orang dengan tingkat kesabaran juara dunia kelas berat. tidak pernah membentak anaknya, tidak pernah marah, dan selalu ramah.

    seingat saya, bapak hanya pernah bekerja di satu tempat saja, di indocement sebagai mekanik. mengurusi truk-truk besar, mengawasi mesin-mesin di dalam dan luar kota. saya pernah sesekali diajak bapak ke tempat kerjanya, saya hampir tidak tahu apa yang bapak lakukan di tempat kerja. maklum, waktu itu saya diajak di hari sabtu, bapak hanya mengontrol mesin saja, itu pun hanya 1 jam, lalu kami pulang, hahaha.

    bapak sangat pendiam, tapi itu dulu. semenjak ibu berpulang dan bapak pensiun, di rumah beliau jadi lebih bawel dari biasanya. mungkin kalian yang orangtuanya berumur di atas 60 tahun merasakan hal yang sama ya, semakin tua umurnya, semakin banyak bicara dirinya. tapi tidak apa-apa, saya senang-senang saja meladeni bapak ngobrol ini-itu, saya tidak mau ada konfrontasi dengan keluarga sendiri.

    tidak banyak cerita bersama bapak karena selama beliau bekerja, rutinitasnya hanya kerja dan pulang ke rumah. satu-satunya memori saya bersama bapak adalah saat pertama kali beliau mengajak saya ke bioskop untuk menonton film godzilla, tahun 1998. selepas maghrib bapak mengajak saya naik motor ke bioskop atoom di citeureup. saya tidak ingat detailnya, tapi itu satu-satunya yang saya ingat di kenangan berdua bersama bapak. sisanya ya perjalanan tamasya ke beberapa tempat bersama keluarga.

    bapak hobi sekali nonton wayang kulit. sekarang-sekarang ini rutinitasnya adalah buka youtube, cari acara wayang, dan menontonnya sambil ketiduran. masalahnya adalah beliau selalu menonton menggunakan speaker handphone dengan volume yang luar biasa. saya sih tidak keberatan ya, tapi tetangga gimana kalau terganggu? beli earphone? sudah, tidak ada yang bertahan lama. jadi sekarang kalau tidak ada tetangga yang mengetuk pintu rumah dan protes, ya sudah biarkan saja beliau dengan hobinya itu.

    satu cerita lucu dari ibu bapak adalah pada suatu malam saya sedang bekerja dan mendapatkan pesan dari kakak berbunyi “EMAK BAPAK LU TUH DISAMPERIN WARGA!” selidik punya selidik, ternyata mereka bakar ban bekas di depan rumah. asap dan baunya cukup mengganggu lingkungan sampai RT datang dan menegur. saya dari jauh hanya bisa mengirim pesan balasan “HAHAHA, BIARIN! REBEL!”

    (30 days writing challenge. Day 5: Your parents)