Category: project

  • Day 4: Ke Mana?

    Day 4: Ke Mana?

    saya jarang berpergian, kota yang pernah saya sambangi mungkin bisa dihitung dengan jari. seingat saya pun pulau yang pernah dikunjungi tidak begitu banyak. di indonesia saja saya baru mampir di pulau jawa, bali, lombok, dan sumatera sewaktu kecil (saya tidak ingat apa-apa soal itu, hanya ada bukti foto dalam kapal). luar negeri apa lagi. saya baru pernah ke thailand, itu pun karena urusan kantor. kalau tidak mungkin saya tidak akan pernah merasakan naik maskapai penerbangan yang menyiapkan suguhan alkohol dalam perjalanannya (terima kasih thai airways, kalian terbaik)

    namun karena berkhayal masih gratis dan tanpa syarat ketentuan berlaku, ada beberapa tempat yang ingin sekali saya datangi karena alasan non-esensial, dan berbekal pada cerita orang-orang saja.

    pertama, islandia. salahkan film the secret life of walter mitty, karena setelah menonton salah satu adegan di film itu di mana walter menyusuri jalanan dengan menggunakan longboard, menikmati udara segar dan hamparan pemandangan yang begitu asri, siapa yang tak tertarik untuk merasakannya? oh, juga minum bir dengan gelas boots jumbo!

    kedua, jepang, tepatnya hutan aokigahara. ya, ya, ya, banyak destinasi wisata populer di jepang tempat di mana kamu akan dengan senang hati mengunggahnya di media sosial dengan caption achievement unlocked. tapi buat saya, aokigahara lebih menarik perhatian. bagaimana tidak, hutan ini identik dengan bunuh diri dan arwah gentayangannya (katanya). tempat sunyi yang cocok untuk kontemplasi diri. kalau kamu berhasil pulang dari tempat ini dengan kondisi baik-baik saja, baru itu namanya achievement unlocked!

    ketiga, kanada. tidak ada alasan spesifik, menurut saya kanada itu keren! band favorit saya, alexisonfire dari kanada, jim carrey kelahiran kanada, film favorit saya pun settingannya di kanada. makanya saya pingin banget ke sana. doakan suatu saat nanti saya sempat ke (atau bahkan jadi warga negara) sana.

    kira-kira itu beberapa tempat yang saya mau kunjungi selain tentunya menyinggahi semua kota di indonesia raya ini. kalau kamu, mau ke mana?

    (30 days writing challenge. Day 4: Places you want to visit)

  • Day 3: Fragmen yang Hilang

    Day 3: Fragmen yang Hilang

    isi kepala ini sudah pecah. rasanya keping-kepingnya berpencar tak kenal arah. beberapa hilang, beberapa samar, sisanya tidak pernah menemukan korelasinya satu sama lain.

    kira-kira itulah gambaran dari ingatan saya. entah karena apa, mungkin terlalu sering jatuh dari motor, atau memang sudah dimakan usia. banyak cerita di kepala yang sudah tidak bisa saya kembalikan lagi.

    saya sudah banyak lupa, atau kadang masih ingat namun tidak detail dengan kejadian di waktu kecil, masa-masa sekolah, bahkan kejadian 3 tahun yang lalu. semuanya terasa samar. seperti ada kabut yang tidak bisa dihalau, seperti ada orang yang menghembuskan asap vape tanpa henti di kepala saya.

    ingatan saya mulai minim. mungkin tidak lama lagi akan menghilang. maka dari itu saya menulis.

    (30 days writing challenge. Day 3: A memory)

  • Day 2: Sederhana Saja

    Day 2: Sederhana Saja

    pertanyaan pertama adalah, apa itu bahagia? banyak definisi yang bisa didapat dari satu kata tersebut. setiap orang pasti punya pengertian mereka sendiri tentang apa arti bahagia. mungkin bagi beberapa orang, punya uang banyak bisa membuat bahagia. punya keluarga yang harmonis bisa membuat bahagia. masak indomie yang matangnya pas bisa membuat bahagia.

    buat saya sendiri, bahagia itu artinya hati saya senang (tolonglah mz, kami tidak perlu infomasi sedemikian)

    namun tujuan tulisan ini bukan untuk menjawab arti bahagia itu sendiri. tapi apa yang bisa bikin saya bahagia? apa? apa ya? saya tipe pribadi yang cukup mudah senang, dan cukup mudah puas. tidak sulit untuk membuat saya bahagia. hmmm, ya mudah juga sih untuk membuat saya kesal, tapi itu jarang. tingkat kesabaran saya cukup tinggi. oke, cukup melanturnya, kembalilah pada pokok masalah.

    bahagia saya cukup sederhana. minum kopi enak bikin hati saya bahagia. dengar musik bagus bikin hati saya bahagia. menonton konser band kesukaan bikin hati saya bahagia. dikasih makanan gratis bikin saya bahagia. masih punya rokok untuk dibakar bikin hati saya bahagia. baca buku yang ceritanya seru bikin hati saya bahagia. minum (sedikit) alkohol bikin hati saya bahagia. melihat wajah mbaknya juga bikin hati saya bahagia.

    tapi kalau ditanya apa sih yang paling bikin saya bahagia? saya bisa bilang melihat keluarga saya tersenyum adalah hal yang paling bikin hati saya bahagia. melihat bapak sehat-sehat saja, kulkas dan lemari makanan di rumah penuh dengan isi, pompa air di rumah masih bisa berfungsi dengan baik, suara alarm meteran listrik yang tidak berbunyi terlalu lama, galon air yang selalu terisi, semua kebutuhan rumah tangga yang selalu saya usahakan untuk bisa terpenuhi.

    saya cukup paham kalau bahagia saya ada di kebahagiaan orang lain. saya tahu persis kalau saya tidak boleh terlalu egois dan selalu mementingkan urusan diri sendiri. saya masih belajar untuk itu.

    dan yang terakhir, saya bahagia kalau ada orang yang percaya untuk menceritakan hal-hal paling pribadinya pada saya. karena dari situ saya tahu kalau saya adalah orang yang mereka percaya, dan mereka tahu kalau saya cukup bisa dipercaya. jadi, ada cerita apa dari kamu untuk saya hari ini?

    (30 days writing challenge. Day 2: Things that makes you happy)

  • Day 1: Ambivert

    Day 1: Ambivert

    plin-plan.

    mungkin itu yang terlintas di kepala saat mendengar kata ambivert. kepribadian yang ada di tengah-tengah. suka bersosialiasi, tapi di sisi lain juga suka menghabiskan waktu untuk menyendiri. pendiam tapi cerewet.

    siapapun yang pertama kali melihat atau berpapasan dengan saya pasti merasa kalau muka saya bengis dan kejam. padahal kalau saja mau ngobrol lebih intim lagi, keseraman wajah itu hanya kamuflase belaka. lebih tepatnya itu adalah self-defense yang saya bangun sendiri mulai beberapa tahun ke belakang. untuk apa? ya untuk bisa membaca situasi terlebih dahulu sebelum merangsek masuk ke lingkaran.

    seingat saya tidak satu dua kali terjadi, orang-orang yang pertama kali bertemu dengan saya pasti merasa aura intimidatif menyeruak dari sela-sela tubuh saya. bagus. berarti strategi saya berhasil.

    meskipun aura itu tidak akan bertahan lama setelah kita berkomunikasi dengan baik. kamu mungkin akan tahu betapa konyol dan bodohnya perilaku saya. guyonan-guyonan tidak lucu, celetukan garing, dan ceplas-ceplos sarkas yang kemungkinan besar akan terdengar apabila kita sudah lumayan dekat, atau saya anggap kita sudah dekat.

    tapi tidak semua. untuk beberapa orang yang saya rasa tidak sefrekuensi, kemungkinan besar orang itu akan tetap mendapatkan wajah bengis dan kejam saya.

    oh ya, kembali ke ambivert tadi, kenapa saya bisa mengategorikan diri sebagai ambivert? mungkin ada hubungannya dengan keyakinan bahwa saya punya beberapa kepribadian di dalam. pernah saya tulis sedikit di sini, mungkin akan lebih jelas daripada harus mengulang di tulisan ini, lumayan lah buat naikin traffic blog saya, hehehe.

    saya mudah suka dengan suatu hal tanpa alasan, namun bisa mudah benci juga tanpa alasan. mungkin bawaan zodiak juga? mungkin. saya tidak tahu pasti dan tidak begitu paham tentang astrologi. yang pasti banyak teman yang berkata kalau saya memang terlalu capricorn. bingung juga sih, kan bukan salah saya juga. salahkan ibu saya yang melahirkan saya terlambat 3 bulan. kalau tepat waktu, zodiak saya adalah libra. libra tuh gimana? saya tidak tahu, hehehe.

    untuk merangkum isi tulisan ini, intinya saya adalah pribadi yang bisa kalian ajak untuk melakukan hal apapun (selagi saya mau). gila-gilaan? ayo! diam-diam saja? bisa! deep talk? gasss! small talk? tidak masalah! yang penting ada minuman dan makanan enak!

    (30 days writing challenge. Day 1: Describe your personality)

  • Another 30 Days Writing Challenge

    Another 30 Days Writing Challenge

    saya ingat pertama kali mencoba untuk ikut tantangan semacam ini di tahun 2016 lalu. ini tulisan pertama yang memulai perjalanan menulis saya seterusnya. selain proyek 30 hari menulis, saya juga sempat menjalankan proyek ambisius setahun menulis selama 2018 mulai dari tulisan ini.

    setelah setahun menulis, saya sudah mulai jarang menulis secara rutin di blog ini. entah kenapa keinginan untuk menulis saya selalu timbul tenggelam. hilang ditelan kesibukan yang entah kenapa selalu lekat menempel di pundak. rasa-rasanya setiap hari selalu ada saja hal-hal kurang penting yang saya lakukan.

    sampai beberapa minggu lalu ada postingan 30 days writing challenge yang lewat di linimasa twitter saya, dan teman saya pun mengirimkan hal yang sama. saya pikir mungkin ini adalah undangan dari semesta untuk kembali mengayunkan jari di atas papan kunci lagi.

    setelah menimbang-nimbang, rasanya memulai dari tanggal pertama di bulan tertentu akan lebih tepat dan lebih monumental. atau tidak?

    tidak apa-apa, tantangan ini bukan untuk membuktikan apa-apa pada siapa-siapa. ini hanya sebuah pemantik untuk tetap mengobarkan aksara-aksara yang dulu sempat ada namun sekarang kian meredup.

    jadi, tanpa perlu banyak kata lagi, mari kita mulai #writober #30dayswritingchallenge di bulan oktober 2020 ini.

    sebuah tantangan di bulan oktober