Kapan Kita Bicara?

ada kurang lebih empat puluh tujuh ribu enam ratus dua puluh sembilan titik yang tersebar menunggu untuk kamu tarik garis melewatinya. konon saat garisnya mulai menyambung akan muncul sesuatu yang selama ini kamu cari. masalahnya adalah dari empat puluh tujuh ribu enam ratus dua puluh sembilan titik yang ada, titik mana yang harus jadi awal dari tarikan garis itu? aku mungkin bisa menarik dari sisi … Continue reading Kapan Kita Bicara?

Belajar

aku belajar berjalan setelah aku lincah berlari dan belajar berbisik setelah aku lantang berteriak. aku sempat bercerita tentang pagi setelah malam badai sebelumnya. tentang debur ombak yang bergulung di telinga dan gemuruh petir yang menggelegar di kepala. tentang bagaimana sang menjangan enggan masuk ke hutan dan memilih untuk menunggu pakan datang di pinggir trotoar dengan potongan kardus sebagai alas duduknya. aku pernah bercerita tentang senja … Continue reading Belajar

Rintik

rintik hujan dan tetesan air yang merambat di jendela kamar menyadarkan mimpiku. sudah terlalu lama aku tertidur, kepalaku terasa berat. pantas saja, kulihat ada berbotol botol kosong alkohol berbagai jenis di tepi ranjangku. aku bergerak lunglai, mencoba memutar kembali apa yang terjadi sebelumnya. tapi semua samar, hanya memar di pelipis kananku yang terasa. sepertinya aku terbentur sesuatu. atau aku membenturkan kepalaku sendiri entah oleh sebab … Continue reading Rintik