Category: #writober

  • Day 30: Cukup Puas

    Day 30: Cukup Puas

    apa yang saya rasakan selama menulis? banyak.

    dari menulis saya bisa merasakan sedih dan berusaha mencari cara untuk menyampaikannya. saya bisa merasakan bahagia dan berusaha mencari padanan kata untuk disandingkan dengannya. saya bisa merasakan getir, cemas, ragu, harap, dan berusaha semampunya untuk bisa mengungkapkannya dengan jelas.

    dari menulis saya bisa bercerita dengan lebih lugas. belajar untuk terus membaca, mencari kosakata baru, bolak-balik membuka kamus bahasa indonesia-inggris untuk sebisa mungkin tidak menggunakan kata-kata dari bahasa asing. saya memang berusaha cukup keras untuk membuat tulisan dengan bahasa indonesia seutuhnya. tapi masih sulit.

    sebagai perangkai kata, bisa mendapatkan kalimat yang tepat dan jelas untuk menjelaskan apa yang sedang saya rasakan adalah sebuah kepuasan tersendiri. mendapatkan metafora yang bisa digunakan dalam satu paragraf juga jadi kebanggaan tersendiri. saya masih belajar. saya masih berusaha.

    meskipun proyek menulis selama tiga puluh hari tanpa jeda ini tidak sempurna karena saya masih sering bolos menulis dan merilisnya di satu waktu. tapi berhasil menyelesaikan tantangan ini cukup memantik kembali semangat menulis di blog ini.

    apa yang saya rasakan selama menulis, semoga bisa tersampaikan ke para pembaca sekalian. terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengikuti proyek ini. sehat selalu, tetaplah kunjungi blog ini :p

    (30 days writing challenge. Day 30: Write about what do you feel when you write)

  • Day 29: Mimpi Tentang Pusat Kebudayaan

    Day 29: Mimpi Tentang Pusat Kebudayaan

    ah, perbincangan tentang masa depan. salah satu topik yang tidak pernah saya anggap serius karena saya selalu merasa tidak punya masa depan. hidup saya seringkali hanya untuk hari ini saja. bayangan soal masa depan itu masih ada meskipun samar dan berbayang. belum terlihat bagaimana arahnya.

    tapi saya masih memimpikan hal berikut.

    bayangkan ada sebuah bangunan tiga lantai dengan halaman yang cukup luas untuk bermain futsal setengah lapangan. lantai pertama adalah kedai minum dengan menu kopi, teh, dan minuman ringan lainnya. buku-buku bacaan tersedia dengan bebas untuk dinikmati di tempat. kamu boleh menyimpan buku di situ dan terserah mau kamu ambil kapan saja kamu mau. tapi kalau kamu mau memberikannya secara cuma-cuma untuk dibaca, alangkah lebih baiknya. pengeras suara di sana akan memutarkan lagu-lagu yang enak untuk didengarkan sambil mengobrol. tidak terlalu bising agar kamu tidak perlu berteriak untuk bisa dipahami lawan bicaramu.

    mari pindah ke lantai dua, ada ruang kecil yang bisa diisi maksimal 10 orang untuk menikmati film-film yang tersedia. ruang putar yang setelahnya bisa digunakan untuk berdiskusi apapun. rencana kegiatan, tugas yang perlu diselesaikan, atau beberapa obrolan yang kamu tidak mau ada orang banyak yang tahu. buku masih tersebar di beberapa sudut, dan kamu bisa membacanya sambil selonjoran dengan santai.

    lantai paling tinggi adalah pusat kebudayaan campur aduk, di mana ada setengah atap dan setengah langit di sana. panggung kecil untuk musisi memainkan lagu ciptaannya, penulis membacakan karya puisinya, dan pesta kecil selalu ada di tiap malamnya. alkohol tersedia dan kamu bebas merokok sampai matamu merah dan dadamu sesak di sana. jangan sampai mabuk atau kamu akan dilempar dari lantai tiga.

    sebuah pusat kebudayaan tanpa bos dan tanpa karyawan. semua terbuka asal kamu mau bertanggung jawab. silakan datang dengan sepuluh ilmu, dan pulang dengan seratus ilmu.

    kapan kira-kira hal itu terwujud? saya sendiri tidak pernah tahu.

    (30 days writing challenge. Day 29: My goals for the future)

  • Day 28: MencinTAI

    Day 28: MencinTAI

    cinta. mencintai. dicintai.

    seharusnya cinta itu dua arah, kalimat aktif dan pasif, saling memberi dan saling menerima. tapi itu yang ideal. nyatanya hal tersebut sulit dilakukan. kadang cinta hanya terjadi satu arah. cinta seringnya bertepuk sebelah tangan (silakan mulai nyanyikan lagu pupus dari dewa di sini)

    saya pernah, dan sepertinya masih mencintai seseorang dengan tulus sampai saat ini. tidak berharap banyak, meskipun masih ada sedikit pamrih di situ (YEE, BERARTI GA TULUS DOOONG! GIMANA SIH?!)

    ya, yang namanya cinta kan pasti berharap untuk disambut ya. masalah kapan cinta itu bersambutlah yang membuat cinta itu menjadi menarik. berkhayal ini itu, membayangkan hal indah bersamanya, menua bersama, bersitegang setiap malam, dan merencanakan kejadian-kejadian yang sayangnya hanya berakhir di kepala saja.

    mau bagaimana lagi, kita hanya punya rencana. tinggal semesta yang berhak mengabulkannya. selagi masih ada usaha, rasanya kenyataan tinggal menunggu diwujudkan saja.

    jadi, sampai kapan mau mengusahakan cinta?

    (30 days writing challenge. Day 28: Write about loving someone)

  • Day 27: Inspirator

    Day 27: Inspirator

    bicara soal sosok yang menginspirasi, rasa-rasanya tidak ada yang benar-benar saya jadikan panutan atau jadi seorang yang membentuk saya. ini menurut saya saja ya. karena tidak ada kegiatan dalam hidup saya yang terjadi karena melihat seseorang melakukannya. sayalah inspirasi diri saya sendiri, makanya hidup saya begini-begini saja.

    sebentar, saya ralat.

    sepertinya saya punya beberapa sosok yang mungkin bisa dibicarakan soal ini. mari coba kita telaah sejenak. mungkin saya salah, mungkin juga tidak.

    arian arifin atau arian13, sekarang frontman band seringai mungkin jadi salah satu yang menginspirasi saya. konsistensinya dalam berkarya jadi patokan saya untuk juga ikut punya karya. meskipun karya-karya saya belum ada seujung kukunya karena saya kurang konsistensi, tapi saya masih berusaha membuat sesuatu. arian13 punya paket lengkap menurut saya sebagai sosok inspirator. pemikiran dan selera humornya, pengetahuannya soal kultur pop hingga kultur bawah tanah, dan juga gaya busana yang mencerminkan pribadinya. menurut saya self-branding arian13 cukup tepat dan cocok.

    siapa lagi yang sekiranya menginspirasi saya? ada komedian tunggal amerika bernama mark normand dan demetri martin. penulis eka kurniawan juga menginspirasi saya. orangtua saya tidak menginspirasi saya, keluarga juga tidak, teman-teman apalagi.

    saya cukup egois soal ini, jadi inspirasi saya adalah saya sendiri, hehehe.

    (30 days writing challenge. Day 27: Someone who inspires me)

  • Day 26: Sekolahan

    Day 26: Sekolahan

    dimulai dari taman kanak-kanak. menurut cerita orangtua, saya hanya sempat berada di kelas nol kecil dan langsung meminta lulus setelah setahun bersekolah. untungnya dibolehkan, jadi saya langsung masuk sekolah dasar di umur lima tahun.

    sekolah dasar saya adalah sekolah kecil di sebuah kecamatan, tempat yang sama dengan semua kakak saya bersekolah. rasanya orangtua saya tidak punya kreatifitas lebih untuk menyekolahkan anaknya di tempat yang berbeda. dan yang saya ingat kepala sekolah zaman kakak saya dan saya itu masih orang yang sama, meskipun jarak angkatan saya cukup jauh. 9 tahun.

    di sekolah dasar, kegiatan yang saya ingat hanyalah bermain benteng atau galasin sembari menunggu bapak menjemput, atau dijemput tukang ojek yang diutus oleh ibu. baru sekitar kelas empat, saya berani pulang sendiri. dan di saat pertama kali pulang sendiri itulah terjadinya insiden saya terserempet angkot saat menyeberang jalan. sampai sekarang bekas lukanya masih menempel di lengan kiri saya. penanda kecerobohan masa kecil.

    sekolah menengah pertama, masih di kelas sekolah kecamatan, tapi bukan kecamatan tempat saya tinggal. saya hanya berteman dengan anak-anak yang sekelas saja. tidak pernah nongkrong pulang sekolah, hanya bermain di warnet yang pada saat itu kecepatan internetnya secepat siput. tidak banyak yang dilakukan, hanya mempelajari dasar-dasar selancar dunia maya dan bermain game apapun yang terpasang di komputer sewaan saja.

    sekolah menengah atas, saya sudah mulai bisa bergaul. teman-teman bukan hanya yang berada di satu kelas saja. saya sudah mulai ikut berbagai organisasi sekolah mulai dari palang merah remaja, tae kwon do, kelompok ilmiah remaja, sampai rohis. namun semua organisasi itu hanya bertahan setahun. selepas itu saya mulai malas dan lebih sering main ke rumah teman sambil mendengarkan musik dan mengobrol ngalor-ngidul.

    kuliah adalah dunia lain yang berbeda, masa di mana sudah mulai sering pulang malam, menginap di kosan teman kampus, mulai mengasah hobi, memperluas jelajah, dan mencoba banyak hal.

    sedangkan hidup adalah sekolah yang tidak pernah selesai. pelajarannya setiap hari, dan ujiannya setiap saat. sampai saat ini saya masih ingin lulus cepat, tapi tuhan belum mau meluluskan saya.

    ya sudah, belajar lagi saja sampai tamat.

    (30 days writing challenge. Day 26: Your school)