Category: #writober

  • Day 20: Siapa Lagi Kalau Bukan Dia

    Day 20: Siapa Lagi Kalau Bukan Dia

    siapa pun kamu yang sudah cukup lama mengenal saya, pasti tahu kalau saya punya obsesi berlebih pada seorang public figure ini. dia yang mukanya selalu saya edit setiap lebaran (cek saja instagram saya kalau perlu validasi), dia yang beberapa kali saya minta untuk dimasukkan ke undangan pernikahan teman sebagai partner saya.

    obsesi ini buta dan tuli sebetulnya, karena saya tidak bisa menemukan celah dari dirinya. semuanya sempurna. bahkan kalau ada yang bilang pada saya kalau dia tidak sempurna, saya tidak akan percaya.

    pintar, berprestasi, aktif bermusik, suaranya tidak jelek-jelek amat, cantik, juga peduli pada pendidikan dan anak-anak. itu adalah beberapa hal yang saya kagumi darinya. saya sudah bilang kan kalau obsesi saya ini buta dan tuli? karena saya tidak peduli apa kata orang soalnya. saya cinta dia.

    saya sebetulnya tidak yang terlalu mencari tahu segala tentangnya, namun ada saja teman-teman yang tahu kalau saya terobsesi dengannya dan tanpa pamrih memberikan banyak update dan hal-hal penting tidak penting yang saya tidak tahu juga apa gunanya buat saya. karena yang saya tahu, saya cinta dia.

    yah, namanya juga selera ya. kalau ditanya soal kriteria fisik perempuan idaman saya, biasanya langsung saya tunjukkan foto maudy ayunda.

    pokoknya saya cinta!!

    (30 days writing challenge. Day 20: Your celebrity crush)

  • Day 19: K, yang Pertama

    Day 19: K, yang Pertama

    cinta pertama ya. sebelum membahas soal cinta pertama dan saya salah mengartikannya, mari kita cerna dulu menurut kamus besar bahasa indonesia rujukan saya, cinta adalah:

    cinta/cin·ta/a 1 suka sekali; sayang benar; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan); 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu; 4 kl susah hati (khawatir); risau.

    jadi kalau saya bisa simpulkan dengan seenak hati, cinta pertama adalah kondisi di mana seseorang merasakan suka, sayang, kasih, terpikat, dan berharap pada seseorang untuk kali pertama dalam hidupnya. dan saya artikan di sini sebagai perasaan asmara ya.

    baik, kalau begitu dialah orangnya. dia yang membuat hati saya berbunga-bunga saat melihatnya. parasnya yang ayu, postur tubuhnya yang semampai, rambutnya yang tebal berombak, matanya yang tajam, dan senyum yang menularkan bahagia.

    K, itu inisialnya. sama seperti huruf pertama nama saya.

    kami satu lingkungan di sekolah menengah pertama. kami sempat sekelas di kelas tiga. sebelumnya saya hanya melihat dia sekilas saja karena di umur-umur itu saya masih belum fokus pada percintaan dan asmara. saya masih sibuk bermain-main bersama teman, mendengarkan musik, radio, menonton acara televisi, dan sibuk membaca majalah. asal kalian tahu, saya di masa sekolah ada di golongan nerd, bukan masuk ke golongan orang-orang populer. jadi saya perlu menyibukkan diri sendiri.

    dimulai dari pembicaraan malam saat menginap di rumah teman sekelas. saya lupa berapa orang yang berkumpul, tapi semuanya laki-laki. kami berkelakar, membicarakan semua orang di sekolah, lalu tiba pada topik “siapa orang di kelas yang mau kamu pacari?”

    saya dengan sembarangan menyebut nama dia. yang entah bagaimana, semenjak malam itu saya jadi selalu kepikiran, selalu membayangkan, dan sedikit berkhayal tentang dia. tapi saya tahu diri. dia dan saya bak si cantik dan si buruk rupa. saya tidak sampai hati berkhayal lebih jauh.

    tapi yang saya tidak ketahui saat itu adalah, obrolan saya malam itu bersama teman-teman brengsek menyebar. entah siapa yang memulai. siapapun itu, saya berterima kasih. karena pucuk dicinta ulam tiba, dia pun punya sedikit ketertarikan pada saya. *hidung kembang-kempis intensifies*

    tapi saya saat itu bodoh, bodoh sekali. karena setelah tahu hal itu, bukannya merapat, saya malah menjauh. dan membiarkan rasa itu menggantung begitu saja. sampai pada saat kelulusan saya tahu kalau dia akan melanjutkan sekolah ke salah satu sekolah unggulan di bogor. saya? saya tetap tinggal di kabupaten.

    namun, mungkin semesta sedang berbaik hati menyusun jalan ceritanya. dia akhirnya masuk ke sekolah yang sama dengan saya. dan kami langsung sekelas di kelas satu. YES! memang jodoh tidak ke mana (kata saya dalam hati waktu itu). didaulat menjadi ketua kelas membuat aura culun saya di sekolah menengah pertama menjadi lebih berwibawa di sekolah menengah atas. sehingga saya jadi lebih pede untuk menyatakan cinta pada dia.

    cerita ini berakhir malu-malu, karena setelah saya mengatakan pada dia bahwa saya mau jadi pacarnya, dan dia menerimanya dengan memalingkan muka, lalu saya mencium lembut punggung tangannya di dalam kelas sepulang sekolah dikelilingi teman-teman lain yang menguping di pintu luar. kami menghabiskan sembilan bulan sebagai pasangan dengan tidak melakukan apa-apa.

    sungguh tidak melakukan apa-apa. maksud saya, saat itu kami berpacaran hanya sekadar status belaka. tidak ada jalan pulang sekolah atau di akhir pekan (oh, ada satu kali kami pergi ke luar, kencan ganda ceritanya, tapi saya sungguh lupa detailnya), bahkan tidak ada obrolan baik ringan maupun berat. satu-satunya obrolan berat kami adalah saat naik kelas dua, dia tidak merasa betah di kelasnya karena tidak banyak yang dia kenal, lalu dia menangis di pundak saya, lalu saya panik, lalu hanya mengelus-elus kepalanya saja.

    tiga bulan setelah itu, dia memutuskan hubungan pacaran ini. dan saya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. kejadiannya begitu cepat.

    “eh, kayanya kita udahan aja ya?”

    “oh, oke.”

    “daaah”

    “daa….ah”

    hehehe, bagaimana pemirsa? bodoh sekali bukan kisah cinta pertama saya? namanya juga pertama, masih belum punya pengetahuan apa-apa. kalau sekarang sih, bisa dicoba, hehehe.

    ps: K, kalau kamu baca tulisan ini (saya yakin tidak akan dibaca sih), saya mau bilang saya menyesal sudah menyia-nyiakan sembilan bulan kita. semoga kamu dan keluarga bahagia selalu ya. salam untuk suami dan anak-anakmu.

    (30 days writing challenge. Day 19: My first love)

  • Day 18: Fakta

    Day 18: Fakta

    maaf, kali ini saya harus melawan tantangan. karena topik mengenai fakta tentang diri saya rencananya adalah konten reguler yang akan saya buat berkala di hari kelahiran saya sebagai pengingat diri.

    oleh karena itu, silakan kunjungi tulisan ini dan ini. niscaya kalian akan tahu siapa saya, sedikit demi sedikit.

    (30 days writing challenge. Day 18: Thirty facts about myself)

  • Day 17: Daftar Panjang yang Sulit Terpenuhi

    Day 17: Daftar Panjang yang Sulit Terpenuhi

    dari mana kita mulai tulisan ini? dari fakta bahwa saya adalah seorang yang terlalu pemilih, fakta bahwa saya seorang yang mudah ilfeel, atau fakta bahwa saya tidak pernah tahu apa yang sebetulnya saya mau?

    saya punya daftar panjang mengenai apa yang harus seseorang miliki untuk bisa saya jadikan teman. baik teman dekat, ataupun sekadar teman biasa. dan daftar itu akan bertambah panjang ketika bicara tentang hidup.

    untuk seseorang dengan standar kualitas hidup rendah, standar saya menentukan seseorang yang “penting” ternyata cukup tinggi. saya tidak akan membeberkan selengkapnya di sini, karena saya takut nanti ada yang membaca tulisan ini dan berusaha untuk mengejar semua daftar yang saya berikan (tolong anda jangan terlalu percaya diri, mz. sesekali bercerminlah). biarkan saya yang menyeleksi.

    tapi saya berikan beberapa hal yang bisa menarik hati saya dalam beberapa hal signifikan berikut ini:

    pertama, kamu harus punya selera musik. maksud saya adalah kamu tahu apa yang membuatmu bergetar saat mendengar alunan lagu tertentu. bukan berarti selera musik kita harus sama. saya tidak keberatan kamu suka mendengarkan musik nasional nigeria atau kazakhstan sekalipun. kita akan selalu bisa bertukar musik, saling menjelek-jelekan selera musik satu sama lain, lalu minum bir dingin bersama setelah itu.

    kedua, kamu harus punya minat baca yang tinggi. tidak harus yang seperti ahli literasi, yang selalu mengomentari dan mengoreksi semua tulisan yang kamu baca. yang penting kita punya bahan bacaan yang bisa dibagi satu sama lain. dan karena saya adalah seorang textovert, maka saya lebih nyaman menulis daripada berbicara.

    ketiga, kamu suka makan, atau masak. tidak perlu bisa masak sehandal chef hotel bintang lima atau penyandang resto michellin star. cukup hobi melihat video orang memasak dan berucap “kayanya bikin ginian enak, deh” itu saja rasanya sudah cukup untuk membuat kita akrab.

    keempat, dan ini yang paling penting. kamu harus bisa tertawa dengan humor dan guyonan yang sama dengan saya. ini tidak bisa ditawar. kalau selera humor kita tidak selaras, rasanya untuk berbicara lebih dari lima menit saja saya enggan. maaf, tapi untuk hal ini sepertinya saya memang agak fasis. mau bagaimana lagi?

    kira-kira ini adalah adegan yang tepat untuk kencan saya: duduk di lantai setelah berkutat di dapur memasak menu makanan mexico yang kita lihat sebelumnya di youtube, diiringi musik dari explosion in the sky, lalu saling bertukar tawa dari lawakan yang kita temukan di internet. tentu saja bir dingin jangan sampai lupa.

    (30 days writing challenge. Day 17: Ways to win my heart)

  • Day 16: Hello

    Day 16: Hello

    hello, unspoken forgiveness, important mistakes, comfortable boundaries. you.

    hello, spent heart, busy mind, missed morning greetings. you.

    hello, thoughtful hearts, functional minds, favorable souls. you.

    hello, surprised looks, searching gazes, heart-chilling stares. you.

    hello, doubtful lines, reluctant strokes, hesitant brushes. you.

    hello, passing storms, glimmering lights, warming sunflares. you.

    hello, breezy wind, warm sunflares, heavy droplets. you.

    hello, loving arms, beating hearts, distant lovers. you.

    hello, enchanting dangers. endearing hazards, charming perils. you.

    hello, outlying glistens, faraway shimmers, distant sparkles. you.

    hello, scrumptious muffin, warm porridge and dark coffee. you.

    hello, sweet earthlings, heaven enthusiasts, aspiring angels. you.

    hello, winding passage, dripping water, brilliant sunlight. you.

    hello, wingless angels, haloed devils, earthly heavens. you.

    hello, wishful stares, hopeful gazes, sanguine glances. you.

    hello, pictures written, words painted, songs spoken. you.

    hello, mellifluous whispers, melodious murmurs, pleasant sighs. you.

    hello, piercing cold, haunting grey, somber drizzle. you.

    hello, poetic damsels, lyrical ingenues, melodic demoiselles. you.

    hello, simple miracles. modest wonders. vanilla splendors. you.

    hello, playful crossings, blissful roundabouts, joyful avenues. you.

    hello, enticing puzzles, inviting mazes, alluring collages. you.

    hello, early dews, unawaken dreams, mystical dawns. you.

    hello, poems eternal, stories immortal, tales forever. you.

    hello, simple being, hardcore lover, pragmatic thinker. you.

    hello, poems discovered, lyrics remembered, words unraveled. you.

    hello, dreaming canvas, waking colors, living paintings. you.

    hello, careless retreats, reckless holidays, foolish runaways. you.

    hello, constant gleams. eternal glows. forever glimmers. you.

    hello, easing beats, slowing tempos, sunday rhythms. you.

    hello, i miss you.

    (30 days writing challenge. Day 16: Someone i miss)