Day 19: K, yang Pertama

cinta pertama ya. sebelum membahas soal cinta pertama dan saya salah mengartikannya, mari kita cerna dulu menurut kamus besar bahasa indonesia rujukan saya, cinta adalah:

cinta/cin·ta/a 1 suka sekali; sayang benar; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan); 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu; 4 kl susah hati (khawatir); risau.

jadi kalau saya bisa simpulkan dengan seenak hati, cinta pertama adalah kondisi di mana seseorang merasakan suka, sayang, kasih, terpikat, dan berharap pada seseorang untuk kali pertama dalam hidupnya. dan saya artikan di sini sebagai perasaan asmara ya.

baik, kalau begitu dialah orangnya. dia yang membuat hati saya berbunga-bunga saat melihatnya. parasnya yang ayu, postur tubuhnya yang semampai, rambutnya yang tebal berombak, matanya yang tajam, dan senyum yang menularkan bahagia.

K, itu inisialnya. sama seperti huruf pertama nama saya.

kami satu lingkungan di sekolah menengah pertama. kami sempat sekelas di kelas tiga. sebelumnya saya hanya melihat dia sekilas saja karena di umur-umur itu saya masih belum fokus pada percintaan dan asmara. saya masih sibuk bermain-main bersama teman, mendengarkan musik, radio, menonton acara televisi, dan sibuk membaca majalah. asal kalian tahu, saya di masa sekolah ada di golongan nerd, bukan masuk ke golongan orang-orang populer. jadi saya perlu menyibukkan diri sendiri.

dimulai dari pembicaraan malam saat menginap di rumah teman sekelas. saya lupa berapa orang yang berkumpul, tapi semuanya laki-laki. kami berkelakar, membicarakan semua orang di sekolah, lalu tiba pada topik “siapa orang di kelas yang mau kamu pacari?”

saya dengan sembarangan menyebut nama dia. yang entah bagaimana, semenjak malam itu saya jadi selalu kepikiran, selalu membayangkan, dan sedikit berkhayal tentang dia. tapi saya tahu diri. dia dan saya bak si cantik dan si buruk rupa. saya tidak sampai hati berkhayal lebih jauh.

tapi yang saya tidak ketahui saat itu adalah, obrolan saya malam itu bersama teman-teman brengsek menyebar. entah siapa yang memulai. siapapun itu, saya berterima kasih. karena pucuk dicinta ulam tiba, dia pun punya sedikit ketertarikan pada saya. *hidung kembang-kempis intensifies*

tapi saya saat itu bodoh, bodoh sekali. karena setelah tahu hal itu, bukannya merapat, saya malah menjauh. dan membiarkan rasa itu menggantung begitu saja. sampai pada saat kelulusan saya tahu kalau dia akan melanjutkan sekolah ke salah satu sekolah unggulan di bogor. saya? saya tetap tinggal di kabupaten.

namun, mungkin semesta sedang berbaik hati menyusun jalan ceritanya. dia akhirnya masuk ke sekolah yang sama dengan saya. dan kami langsung sekelas di kelas satu. YES! memang jodoh tidak ke mana (kata saya dalam hati waktu itu). didaulat menjadi ketua kelas membuat aura culun saya di sekolah menengah pertama menjadi lebih berwibawa di sekolah menengah atas. sehingga saya jadi lebih pede untuk menyatakan cinta pada dia.

cerita ini berakhir malu-malu, karena setelah saya mengatakan pada dia bahwa saya mau jadi pacarnya, dan dia menerimanya dengan memalingkan muka, lalu saya mencium lembut punggung tangannya di dalam kelas sepulang sekolah dikelilingi teman-teman lain yang menguping di pintu luar. kami menghabiskan sembilan bulan sebagai pasangan dengan tidak melakukan apa-apa.

sungguh tidak melakukan apa-apa. maksud saya, saat itu kami berpacaran hanya sekadar status belaka. tidak ada jalan pulang sekolah atau di akhir pekan (oh, ada satu kali kami pergi ke luar, kencan ganda ceritanya, tapi saya sungguh lupa detailnya), bahkan tidak ada obrolan baik ringan maupun berat. satu-satunya obrolan berat kami adalah saat naik kelas dua, dia tidak merasa betah di kelasnya karena tidak banyak yang dia kenal, lalu dia menangis di pundak saya, lalu saya panik, lalu hanya mengelus-elus kepalanya saja.

tiga bulan setelah itu, dia memutuskan hubungan pacaran ini. dan saya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. kejadiannya begitu cepat.

“eh, kayanya kita udahan aja ya?”

“oh, oke.”

“daaah”

“daa….ah”

hehehe, bagaimana pemirsa? bodoh sekali bukan kisah cinta pertama saya? namanya juga pertama, masih belum punya pengetahuan apa-apa. kalau sekarang sih, bisa dicoba, hehehe.

ps: K, kalau kamu baca tulisan ini (saya yakin tidak akan dibaca sih), saya mau bilang saya menyesal sudah menyia-nyiakan sembilan bulan kita. semoga kamu dan keluarga bahagia selalu ya. salam untuk suami dan anak-anakmu.

(30 days writing challenge. Day 19: My first love)

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s