Category: #writober

  • Day 10: Item Squad

    Day 10: Item Squad

    Perkenalkan, ini teman-teman saya sedari sekolah sampai hari ini.

    personil grup whatsapp yang isinya cuma 4 orang.

    saya kenal angga dari sd. kenal gilang dari smp. kenal yoda dari sma. sampai sekarang kami masih nongkrong bareng walaupun komposisi paling sering adalah saya-angga-yoda. dikarenakan gilang sudah berkeluarga, jadi susah kalau mau ketemu.

    sama angga, ga banyak kejadian di sd yang saya ingat. paling cuma kenangan kalau angga sering ngeliat catatan papan tulis dari buku saja, ternyata angga harusnya sudah pakai kacamata dari sd karena matanya minus. saya juga padahal, tapi saya baru pakai kacamata kelas 3 smp.

    sama gilang, kenangan smp adalah kita sempat satu kelas di kelas 1, dan rata-rata anak laki-laki di kelas adalah korban smack down. maka setiap pergantian kelas (di smp saya, masih dibagi masuk pagi untuk kelas 3 dan setengah kelas 2, dan masuk siang untuk kelas 1 dan setengah kelas 2) atau jam pulang sekolah, selalu ada ritual drama banting-bantingan demi reka ulang adegan yang kita tonton di tv.

    sama yoda, kenangan sma dimulai dari… lupa. pokoknya yoda ini salah satu teman pertama kelas 1 yang bawa sepeda motor ke sekolah. pada masa itu yang berani bawa motor ke sekolah rata-rata anak kelas 3 atau segelintir anak kelas 2. saya dengan sok tahu bawa sepeda motor dan parkir di depan kelas. karena tidak ada yang komentar, besok-besoknya semakin banyak anak kelas 1 yang bawa motor. memang saya ini cukup trend-setter anaknya.

    kami berempat sekelas di sma, tepatnya 3 ips 2. di mana 85% dari anak laki-laki di kelas itu berkulit gelap, maka kami menahbiskan nama ‘item squad’ sebagai panggilan kami. ada kejadian bodoh yang kami ambil sebagai entitas kelas pada saat itu, tapi lebih baik tidak saya ceritakan karena akan merusak citra yang selama ini sudah masing-masing bangun sekian tahun. jangan sampai aib ini muncul ke permukaan. camkan itu, angga!

    kami berempat adalah pribadi yang berbeda-beda, angga yang pendiam dan hobi ngulik musik dan teknologi. gilang si penuh info yang sangat tertarik pada dunia otomotif. yoda si mulut manis calon walikota depok 2024 yang anaknya olahraga banget. serta saya yang tangkas dan juga pemberani.

    kami sempat membuat proyek bersama mulai dari bikin buku tahunan sekolah, bikin radio komunitas, bareng-bareng bikin festival kuliner, sampai proyek terakhir yang mangkrak berjudul kaki lima bintang lima, sebuah kanal youtube berisi kami jalan-jalan dan makan-makan yang didokumentasikan dengan cukup niat (angga sih yang niat, karena dia yang ambil gambar, dia yang ngedit, dia juga yang upload. sisanya, kami cuma modal tampang doang)

    teman-teman baik saya, yang sering mengecewakan satu sama lain tapi tetap saja tidak kapok dan selalu bareng-bareng. semoga masalah-masalah yang sudah lewat dan akan datang tidak mengubah apapun dari pertemanan kita ya, tem! tetap impulsif, dan tetap share link pemersatu bangsa!

    ps: yaelah, kita ga punya foto berempat, nyet!

    (30 days writing challenge. Day 10: Your best friend)

  • Day 9: Sedang (Tidak) Bahagia

    Day 9: Sedang (Tidak) Bahagia

    beberapa orang bilang saya adalah pribadi yang pesimistis. setuju sekali. karena memang semua hal pasti punya sisi negatif yang tidak orang lain lihat. atau kalaupun terlihat, mereka tidak menghiraukannya.

    Tema tulisan hari ini seharusnya tentang sebuah kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan, yadda, yadda, yadda. tapi saya tidak akan menulis tentang itu kali ini. anggap saja ini adalah tulisan antitesis dari sebuah kebahagiaan itu sendiri. atau tidak? terserah kalian saja menangkapnya.

    banyak keinginan dan harapan yang sudah saja jadwalkan hadir beberapa saat ke belakang. tapi begitu saya tengok ulang, hampir seluruhnya tidak ada yang terwujud. mulai dari impian menonton banyak konser namun terhalangi oleh pandemi sialan ini. menambah tato di tubuh karena terlalu banyak hal primer yang perlu diselesaikan. sampai ke menunda memulai usaha karena pekerjaan kantor yang terlalu menyita waktu.

    kebahagiaan yang seharusnya sederhana sekarang tiba-tiba menjadi rumit. lihat saja linimasa media sosialmu, berapa banyak polemik yang disebar oleh orang-orang yang kamu ikuti. kalau tidak banyak, mungkin lingkaran pertemananmu salah. atau malah lingkaran pertemanan saya yang salah? ya, saya tidak peduli.

    ingin sekali rasanya bisa marah-marah setiap saat, marah pada keadaan, marah pada sekeliling, marah pada diri sendiri.

    tapi tidak bisa, biarkan saya simpan kemarahan itu di kepala saya sendiri. biarkan apa yang terlihat di permukaan adalah wajah dengan senyum yang lebar, celotehan yang menggembirakan, dan pertanyaan-pertanyaan non tendensius.

    saya sedang tidak bahagia. tapi saya berusaha untuk tidak terlalu tidak bahagia. saya masih bisa tersenyum sedikit walau kecut. pandemi sialan. virus keparat. brengsek kalian!

    (30 days writing challenge. Day 9: Write about happiness)

  • Day 8: Ode Notasi Nada

    Day 8: Ode Notasi Nada

    Saya cukup yakin bahwa apa yang kita dengar itu sebenarnya adalah isi hati kita yang berbisik diam-diam, yang menuntun otak meminta untuk diputarkan sebuah komposisi keindahan bernama musik.

    tidak ada satu hari pun dari seorang manusia normal pada umumnya yang luput dari paparan musik. sekalipun kamu tidak punya alat pemutar musik, otakmu sudah menyimpan puluhan, bahkan ratusan lagu yang siap kamu putar di kepala, meskipun yang terputar biasanya itu-itu saja.

    saya, seperti yang pernah ditulis di sini adalah tipe manusia yang biasanya mendengarkan musik tergantung dari apa yang saya rasakan saat itu. saya punya berbagai pilihan daftar putar untuk setiap mood dalam hidup saya.

    saya teringat sebuah masa ketika patah hati bertahun-tahun lalu, telinga saya tidak putus-putusnya mendengarkan lagu-lagu melankolis berlirik sendu dan menyayat hati. cengeng memang, tapi saya perlu itu. saya perlu sesuatu untuk dijadikan pelepasan. dan saat itu, rasanya hati dan otak sedang kompak-kompaknya untuk terus meminta telinga terus menerus mendengarkan alunan nada minor sebagai sarana relaksasi.

    ada pula masa di mana selepas itu, peduli setan dengan lagu cengeng. otak saya dengan penuh semangat mencari segala musik beraroma kebebasan dengan landasan distorsi dan ketukan drum rapat serta teriakan yang melengking, menggeram, membuat jantung bekerja ekstra keras dalam memompa aliran darah ke seluruh tubuh.

    musik adalah katalis. musik adalah napas. musik adalah representasi perasaanmu.

    sama seperti ketika saya membuat daftar putar untuk seseorang. dengan cermat dan hati-hati, mengkurasi nada dalam lagu, mencerna setiap kata dalam lirik yang akan dijadikan pesan tersembunyi pembawa harapan dan keinginan yang mungkin tidak pernah tersampaikan. dibungkus menjadi satu perjalanan yang berisi permintaan maaf.

    satu cerita tentang musik yang pernah menjadi impian, sempat menjadi kenyataan, namun tidak berakhir sebagaimana yang direncanakan. tentang bagaimana kita bertemu? apakah di salah satu pertunjukan musik, di mana kau sendirian demi menyaksikan band kesayangan karena teman-temanmu tak ada yang bisa diajak, lalu berbicara tentang kesukaan masing-masing.

    musik adalah katalis. musik adalah napas. musik adalah langkah kaki. musik adalah tatapan mata. musik adalah jabat tangan erat. musik adalah mimpi indah di tidur siang. musik adalah makan tengah malam di waktu diet. musik adalah dosa terbaik yang tuhan sediakan. musik adalah peluh keringat yang menetes di tengah ruangan berpendingin. musik adalah kebahagiaan. musik adalah bahan bakar hidup.

    (30 days writing challenge. Day 8: The power of music)

  • Day 7: Nonton, yuk?

    Day 7: Nonton, yuk?

    film kesukaan. apa ya kualifikasi film kesukaan buat saya? hmmm…

    film yang bagus? film yang ditonton lebih dari 10 kali? film yang saya hafal adegannya? kalau dialog tidak mungkin, karena saya pelupa anaknya. film yang bikin nangis? film yang memorable? apa ya?

    ya sudah, karena bingung, lebih baik saya pilihkan beberapa film yang sekiranya bisa menunjukkan selera saya saja lah ya. kalau sudah selera saya, berarti saya suka kan? ehehe.

    Scott Pilgrim vs. the World (2010)

    scott pilgrim dan ramona flowers

    premisnya adalah cerita tentang seorang pemuda yang harus mengalahkan 7 mantan pacar seorang pemudi sebelum boleh mengencaninya. kenapa saya suka film ini? karena pertama, soundtracknya bagus, latar belakang ceritanya tentang musik (band), sinematografinya apik nan ciamik, lokasinya di kanada, dan humornya keren, hehehe

    film ini sudah saya tonton berulang kali, mungkin sudah lebih dari 10 kali saya tonton ulang, baik secara penuh, atau per adegan yang saya ingin saja. tidak pernah bosan.

    satu hal yang menarik dari film ini adalah film ini diperankan oleh beberapa superhero. silakan cari siapa saja.

    Fight Club (1999)

    tyler durden dan the narrator

    keren. udah, tonton aja. nanti kamu akan tahu kenapa kamu jangan sering-sering begadang.

    500 Days of Summer (2009)

    tom hansen dan summer finn

    salah satu film yang saya suka karena soundtracknya enak-enak. selain itu, jalan cerita yang diacak dari alurnya juga bikin saya tertarik, sampai-sampai saya menonton film ini dengan dua cara berulang kali. cara pertama adalah menonton dengan apa adanya. cara kedua adalah menonton secara kronologis (emang ada? ada, saya edit sendiri, ehehe)

    sebuah film komedi romantis yang tidak biasa tentang seorang wanita yang tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada, dan pria muda yang jatuh cinta padanya.

    ya, banyak yang bilang summer adalah wanita brengsek yang mempermainkan hati tom yang naif dan tulus mencintainya. tapi menurut saya tidak. summer tidak brengsek, tom hanya bodoh. karena kalau kamu perhatikan di film ini, summer sudah jelas-jelas tidak menginginkan hubungan apa-apa. kenapa tom berharap banyak?? bodoh! nikmati saja sajian yang ada di depan matamu, tom!

    sudah ya, 3 itu saja, sisanya ayo kita ketemu, ngobrol sambil ngopi, atau ngebir, terserah kamu. apa? ke kosan kamu? boleh aja 🙂

    (30 days writing challenge. Day 7: Favorite movie)

  • Day 6: Lajang? Bahagia?

    Day 6: Lajang? Bahagia?

    menjadi lajang, status yang sudah saya sandang semenjak lebih dari 10 tahun lalu, sama sekali tidak membuat dunia saya berhenti berputar. bahkan rasanya menjadi seorang lajang lah yang membuat roda hidup saya bergulir terus.

    saya sampai lupa bagaimana rasanya menjalani hidup berpasangan. bagaimana bahagianya memiliki seseorang yang bisa diajak bicara hal-hal paling pribadi, melakukan hal-hal bodoh bersama, menyusuri jalan-jalan yang belum pernah dilewati. kegiatan-kegiatan seperti itu yang sekarang lebih sering saya lakukan bersama teman-teman.

    kalau begitu, bagaimana caranya melajang namun tetap bahagia? mungkin pertanyaan yang seharusnya adalah kenapa kamu berpikir kalau seorang lajang itu selalu bernasib mengenaskan? apa yang salah dari melajang? apakah karena konstruksi sosial yang selama ini sudah terbangun mengharuskan kita semua untuk hidup berpasang-pasangan?

    lalu kenapa selalu harus menyandarkan kebahagiaanmu pada orang lain? bagi saya, sendiri atau bersama, bahagia itu harus selalu bisa diwujudkan, bagaimana pun caranya. saya belajar untuk nantinya bisa bahagia bersama seseorang. tapi saya juga harus bisa belajar untuk bisa mencari kebahagiaan sendiri.

    karena seperti yang saya percayai, mempersilakan seseorang masuk ke dalam hidupmu berarti memperkecil ruang kebahagiaan yang sudah kamu atur sendiri. artinya untuk bisa bersama orang lain, diperlukan adanya kompromi. saya? bisa saja. namun pasangan saya? apa bisa berkompromi dengan kelakuan saya yang amoral, bejat, tidak bisa diatur, dan sering melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri ini?

    maka dari itu, selagi lajang, inilah saatnya saya untuk melakukan hal-hal yang sekiranya tidak akan dapat saya lakukan saat nanti tiba waktunya untuk berpasangan. membuat zine, bikin tato, berkendara malam hari, merokok sambil memandangi bintang, berdiam diri seharian, tidur siang tanpa batas waktu, apapun kegiatan yang sekiranya nanti pasangan saya akan berkata “KAMU NGAPAIN SIH? KEGIATANNYA YANG POSITIF KEK!”

    jadi, untuk sekarang. saya lajang, dan saya bahagia. 🙂

    (30 days writing challenge. Day 6: Single and happy)