Category: #writober

  • Day 5: Ibu Bapak

    Day 5: Ibu Bapak

    ibu, bapak, dan saya yang mau kabur ke alam bebas.

    di atas adalah foto ibu dan bapak waktu masih muda, entah foto tahun berapa, yang pasti di circa 90-an karena saya lahir tahun ’89 dan di foto tersebut saya belum terlalu besar juga, jadi mungkin sekitar 92-93? entah ya. yang pasti foto diambil di kawasan ancol.

    ibu bapak adalah orangtua yang biasa saja, datang dari keluarga jawa yang tidak terlalu besar (yang ini saya asumsi saja ya, karena jujur saya tidak pernah tahu silsilah keluarga saya sendiri), dari ekonomi kelas pekerja, dari tingkat pendidikan yang biasa saja (tidak ada dari mereka yang punya gelar sarjana, yang mana ternyata setelah ditinjau, saya dan kakak pun tidak punya gelar sarjana, ehehe), dan dari tingkat relijiusitas yang biasa saja pula.

    IBU

    tulisan ini saya mulai dari ibu, ibu sudah berpulang juli 2015. beruntungnya saya bisa menemani beliau dan menuruti semua permintaan terakhirnya kala itu. kalau saja saya menolak di sore itu, mungkin penyesalan saya akan lebih dalam.

    ibu senang sekali masak, ibu bisa masak apa saja, dan semuanya selalu enak. ini bukan selera subjektif, tapi semua orang yang pernah mencicipi masakan ibu pasti setuju. satu hal yang cukup disesali adalah, ibu tidak pernah mencatat satu pun resep yang biasa beliau masak, selalu menggunakan perasaan saat menakar bumbu dan tidak jarang membuat kebingungan saya dan kakak ketika ingin menduplikasi masakan beliau sekarang.

    ibu sering marah-marah, tapi kami di rumah selalu menjawab omelan ibu dengan candaan sehingga beliau juga jadi lupa kalau beliau marah. hobi ibu adalah berkeliling ke rumah tetangga dengan membawa sesuatu dari rumah, dan saat pulang beliau akan membawa barang yang entah apa gunanya di rumah. sepertinya beliau senang melakukan pertukaran barang alias barter di era modern ini. satu hal yang paling absurd adalah saat beliau pulang ke rumah membawa puluhan toples kecil yang esokannya diisi dengan sambal petis dan kemudian dibagikan kembali ke tetangga, ibu memang dermawan.

    ibu tidak berbakat dalam teknologi. seumur hidupnya tidak pernah awet punya handphone, paling lama umurnya hanya 3 bulan, selepas itu pasti dijual dan uangnya dibelanjakan bahan masakan untuk dibagikan ke tetangga lagi. ibu baunya khas sekali, bau kecut keringat dan dapur. saya senang sekali menciumi ibu sampai beliau risih, tapi saya tidak peduli, bau ibu lebih menyenangkan daripada bau bapak (padahal waktu kecil katanya saya tidak bisa tidur kalau belum mencium bau ketiak bapak, aneh kamu mz!).

    ibu juga preman setempat. bukan karena beliau seorang kriminal. hanya saja entah kenapa beliau cukup disegani di lingkungan saya. hampir semua kenal ibu, dari mulai tukang ojek, tukang sayur, ustadz, rentenir, hampir semua hormat dan segan pada beliau. tapi saya tidak pernah menyalah gunakan ketenaran ibu, buat apa, tidak ada untungnya buat saya saat itu, dan sampai sekarang juga saya tidak merasa ada perlunya, ehehe.

    ibu, aku kirim doa lagi, mudah-mudahan perangkonya cukup, jadi ibu bisa terima doanya.

    BAPAK

    bapak, orang dengan tingkat kesabaran juara dunia kelas berat. tidak pernah membentak anaknya, tidak pernah marah, dan selalu ramah.

    seingat saya, bapak hanya pernah bekerja di satu tempat saja, di indocement sebagai mekanik. mengurusi truk-truk besar, mengawasi mesin-mesin di dalam dan luar kota. saya pernah sesekali diajak bapak ke tempat kerjanya, saya hampir tidak tahu apa yang bapak lakukan di tempat kerja. maklum, waktu itu saya diajak di hari sabtu, bapak hanya mengontrol mesin saja, itu pun hanya 1 jam, lalu kami pulang, hahaha.

    bapak sangat pendiam, tapi itu dulu. semenjak ibu berpulang dan bapak pensiun, di rumah beliau jadi lebih bawel dari biasanya. mungkin kalian yang orangtuanya berumur di atas 60 tahun merasakan hal yang sama ya, semakin tua umurnya, semakin banyak bicara dirinya. tapi tidak apa-apa, saya senang-senang saja meladeni bapak ngobrol ini-itu, saya tidak mau ada konfrontasi dengan keluarga sendiri.

    tidak banyak cerita bersama bapak karena selama beliau bekerja, rutinitasnya hanya kerja dan pulang ke rumah. satu-satunya memori saya bersama bapak adalah saat pertama kali beliau mengajak saya ke bioskop untuk menonton film godzilla, tahun 1998. selepas maghrib bapak mengajak saya naik motor ke bioskop atoom di citeureup. saya tidak ingat detailnya, tapi itu satu-satunya yang saya ingat di kenangan berdua bersama bapak. sisanya ya perjalanan tamasya ke beberapa tempat bersama keluarga.

    bapak hobi sekali nonton wayang kulit. sekarang-sekarang ini rutinitasnya adalah buka youtube, cari acara wayang, dan menontonnya sambil ketiduran. masalahnya adalah beliau selalu menonton menggunakan speaker handphone dengan volume yang luar biasa. saya sih tidak keberatan ya, tapi tetangga gimana kalau terganggu? beli earphone? sudah, tidak ada yang bertahan lama. jadi sekarang kalau tidak ada tetangga yang mengetuk pintu rumah dan protes, ya sudah biarkan saja beliau dengan hobinya itu.

    satu cerita lucu dari ibu bapak adalah pada suatu malam saya sedang bekerja dan mendapatkan pesan dari kakak berbunyi “EMAK BAPAK LU TUH DISAMPERIN WARGA!” selidik punya selidik, ternyata mereka bakar ban bekas di depan rumah. asap dan baunya cukup mengganggu lingkungan sampai RT datang dan menegur. saya dari jauh hanya bisa mengirim pesan balasan “HAHAHA, BIARIN! REBEL!”

    (30 days writing challenge. Day 5: Your parents)

  • Day 4: Ke Mana?

    Day 4: Ke Mana?

    saya jarang berpergian, kota yang pernah saya sambangi mungkin bisa dihitung dengan jari. seingat saya pun pulau yang pernah dikunjungi tidak begitu banyak. di indonesia saja saya baru mampir di pulau jawa, bali, lombok, dan sumatera sewaktu kecil (saya tidak ingat apa-apa soal itu, hanya ada bukti foto dalam kapal). luar negeri apa lagi. saya baru pernah ke thailand, itu pun karena urusan kantor. kalau tidak mungkin saya tidak akan pernah merasakan naik maskapai penerbangan yang menyiapkan suguhan alkohol dalam perjalanannya (terima kasih thai airways, kalian terbaik)

    namun karena berkhayal masih gratis dan tanpa syarat ketentuan berlaku, ada beberapa tempat yang ingin sekali saya datangi karena alasan non-esensial, dan berbekal pada cerita orang-orang saja.

    pertama, islandia. salahkan film the secret life of walter mitty, karena setelah menonton salah satu adegan di film itu di mana walter menyusuri jalanan dengan menggunakan longboard, menikmati udara segar dan hamparan pemandangan yang begitu asri, siapa yang tak tertarik untuk merasakannya? oh, juga minum bir dengan gelas boots jumbo!

    kedua, jepang, tepatnya hutan aokigahara. ya, ya, ya, banyak destinasi wisata populer di jepang tempat di mana kamu akan dengan senang hati mengunggahnya di media sosial dengan caption achievement unlocked. tapi buat saya, aokigahara lebih menarik perhatian. bagaimana tidak, hutan ini identik dengan bunuh diri dan arwah gentayangannya (katanya). tempat sunyi yang cocok untuk kontemplasi diri. kalau kamu berhasil pulang dari tempat ini dengan kondisi baik-baik saja, baru itu namanya achievement unlocked!

    ketiga, kanada. tidak ada alasan spesifik, menurut saya kanada itu keren! band favorit saya, alexisonfire dari kanada, jim carrey kelahiran kanada, film favorit saya pun settingannya di kanada. makanya saya pingin banget ke sana. doakan suatu saat nanti saya sempat ke (atau bahkan jadi warga negara) sana.

    kira-kira itu beberapa tempat yang saya mau kunjungi selain tentunya menyinggahi semua kota di indonesia raya ini. kalau kamu, mau ke mana?

    (30 days writing challenge. Day 4: Places you want to visit)

  • Day 3: Fragmen yang Hilang

    Day 3: Fragmen yang Hilang

    isi kepala ini sudah pecah. rasanya keping-kepingnya berpencar tak kenal arah. beberapa hilang, beberapa samar, sisanya tidak pernah menemukan korelasinya satu sama lain.

    kira-kira itulah gambaran dari ingatan saya. entah karena apa, mungkin terlalu sering jatuh dari motor, atau memang sudah dimakan usia. banyak cerita di kepala yang sudah tidak bisa saya kembalikan lagi.

    saya sudah banyak lupa, atau kadang masih ingat namun tidak detail dengan kejadian di waktu kecil, masa-masa sekolah, bahkan kejadian 3 tahun yang lalu. semuanya terasa samar. seperti ada kabut yang tidak bisa dihalau, seperti ada orang yang menghembuskan asap vape tanpa henti di kepala saya.

    ingatan saya mulai minim. mungkin tidak lama lagi akan menghilang. maka dari itu saya menulis.

    (30 days writing challenge. Day 3: A memory)

  • Day 2: Sederhana Saja

    Day 2: Sederhana Saja

    pertanyaan pertama adalah, apa itu bahagia? banyak definisi yang bisa didapat dari satu kata tersebut. setiap orang pasti punya pengertian mereka sendiri tentang apa arti bahagia. mungkin bagi beberapa orang, punya uang banyak bisa membuat bahagia. punya keluarga yang harmonis bisa membuat bahagia. masak indomie yang matangnya pas bisa membuat bahagia.

    buat saya sendiri, bahagia itu artinya hati saya senang (tolonglah mz, kami tidak perlu infomasi sedemikian)

    namun tujuan tulisan ini bukan untuk menjawab arti bahagia itu sendiri. tapi apa yang bisa bikin saya bahagia? apa? apa ya? saya tipe pribadi yang cukup mudah senang, dan cukup mudah puas. tidak sulit untuk membuat saya bahagia. hmmm, ya mudah juga sih untuk membuat saya kesal, tapi itu jarang. tingkat kesabaran saya cukup tinggi. oke, cukup melanturnya, kembalilah pada pokok masalah.

    bahagia saya cukup sederhana. minum kopi enak bikin hati saya bahagia. dengar musik bagus bikin hati saya bahagia. menonton konser band kesukaan bikin hati saya bahagia. dikasih makanan gratis bikin saya bahagia. masih punya rokok untuk dibakar bikin hati saya bahagia. baca buku yang ceritanya seru bikin hati saya bahagia. minum (sedikit) alkohol bikin hati saya bahagia. melihat wajah mbaknya juga bikin hati saya bahagia.

    tapi kalau ditanya apa sih yang paling bikin saya bahagia? saya bisa bilang melihat keluarga saya tersenyum adalah hal yang paling bikin hati saya bahagia. melihat bapak sehat-sehat saja, kulkas dan lemari makanan di rumah penuh dengan isi, pompa air di rumah masih bisa berfungsi dengan baik, suara alarm meteran listrik yang tidak berbunyi terlalu lama, galon air yang selalu terisi, semua kebutuhan rumah tangga yang selalu saya usahakan untuk bisa terpenuhi.

    saya cukup paham kalau bahagia saya ada di kebahagiaan orang lain. saya tahu persis kalau saya tidak boleh terlalu egois dan selalu mementingkan urusan diri sendiri. saya masih belajar untuk itu.

    dan yang terakhir, saya bahagia kalau ada orang yang percaya untuk menceritakan hal-hal paling pribadinya pada saya. karena dari situ saya tahu kalau saya adalah orang yang mereka percaya, dan mereka tahu kalau saya cukup bisa dipercaya. jadi, ada cerita apa dari kamu untuk saya hari ini?

    (30 days writing challenge. Day 2: Things that makes you happy)

  • Day 1: Ambivert

    Day 1: Ambivert

    plin-plan.

    mungkin itu yang terlintas di kepala saat mendengar kata ambivert. kepribadian yang ada di tengah-tengah. suka bersosialiasi, tapi di sisi lain juga suka menghabiskan waktu untuk menyendiri. pendiam tapi cerewet.

    siapapun yang pertama kali melihat atau berpapasan dengan saya pasti merasa kalau muka saya bengis dan kejam. padahal kalau saja mau ngobrol lebih intim lagi, keseraman wajah itu hanya kamuflase belaka. lebih tepatnya itu adalah self-defense yang saya bangun sendiri mulai beberapa tahun ke belakang. untuk apa? ya untuk bisa membaca situasi terlebih dahulu sebelum merangsek masuk ke lingkaran.

    seingat saya tidak satu dua kali terjadi, orang-orang yang pertama kali bertemu dengan saya pasti merasa aura intimidatif menyeruak dari sela-sela tubuh saya. bagus. berarti strategi saya berhasil.

    meskipun aura itu tidak akan bertahan lama setelah kita berkomunikasi dengan baik. kamu mungkin akan tahu betapa konyol dan bodohnya perilaku saya. guyonan-guyonan tidak lucu, celetukan garing, dan ceplas-ceplos sarkas yang kemungkinan besar akan terdengar apabila kita sudah lumayan dekat, atau saya anggap kita sudah dekat.

    tapi tidak semua. untuk beberapa orang yang saya rasa tidak sefrekuensi, kemungkinan besar orang itu akan tetap mendapatkan wajah bengis dan kejam saya.

    oh ya, kembali ke ambivert tadi, kenapa saya bisa mengategorikan diri sebagai ambivert? mungkin ada hubungannya dengan keyakinan bahwa saya punya beberapa kepribadian di dalam. pernah saya tulis sedikit di sini, mungkin akan lebih jelas daripada harus mengulang di tulisan ini, lumayan lah buat naikin traffic blog saya, hehehe.

    saya mudah suka dengan suatu hal tanpa alasan, namun bisa mudah benci juga tanpa alasan. mungkin bawaan zodiak juga? mungkin. saya tidak tahu pasti dan tidak begitu paham tentang astrologi. yang pasti banyak teman yang berkata kalau saya memang terlalu capricorn. bingung juga sih, kan bukan salah saya juga. salahkan ibu saya yang melahirkan saya terlambat 3 bulan. kalau tepat waktu, zodiak saya adalah libra. libra tuh gimana? saya tidak tahu, hehehe.

    untuk merangkum isi tulisan ini, intinya saya adalah pribadi yang bisa kalian ajak untuk melakukan hal apapun (selagi saya mau). gila-gilaan? ayo! diam-diam saja? bisa! deep talk? gasss! small talk? tidak masalah! yang penting ada minuman dan makanan enak!

    (30 days writing challenge. Day 1: Describe your personality)