Rintik

rintik hujan dan tetesan air yang merambat di jendela kamar menyadarkan mimpiku. sudah terlalu lama aku tertidur, kepalaku terasa berat. pantas saja, kulihat ada berbotol botol kosong alkohol berbagai jenis di tepi ranjangku.

aku bergerak lunglai, mencoba memutar kembali apa yang terjadi sebelumnya. tapi semua samar, hanya memar di pelipis kananku yang terasa. sepertinya aku terbentur sesuatu. atau aku membenturkan kepalaku sendiri entah oleh sebab apa. yang pasti badanku rasanya remuk.

kubasuh mukaku dan kureguk air keran sekadar untuk membasahi mulutku yang terasa kering. sial, terlalu banyak alkohol merasuki tubuhku. aku masih belum dapat berdiri tegak. langkahku gagap. kakiku terlalu enggan menapak.

hujan makin deras, kulihat jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 11 siang, tapi matahari masih belum juga terlihat dari balik jendela, masih bulir air yang semakin ramai berkunjung.

ada secarik kertas di atas meja, kuraih dan kuperhatikan dengan seksama, ada kata-kata yang ditulis dengan lipstick merah terang di sana.

“terima kasih untuk semuanya, aku tak perlu kamu lagi.”

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s