Mabuk Kafein

orang bijak pernah berkata, waktu itu dikutip oleh winston churcill yang sedang berkunjung ke semenanjung transylvania musim semi beberapa dekade lampau.

beliau bilang “sekecil apapun kesalahan, ia akan lebih mudah diingat dibanding dua milyar keberhasilan yang dilakukan.”


aku hampir percaya kalau saja temanku tidak bilang “semenanjung transylvania itu tidak ada, bung. kau itu mudah sekali dibohongi.” sembari menyeruput kopi yang ampasnya hampir setengah gelas. kupikir ia sedang mabuk kafein.

ini akhir pekan dan sudah beberapa malam ini aku hanya menemani temanku menghabiskan waktu dengan mengobrol panjang lebar. kadang aku tak tahu ia sedang serius atau hanya membodohiku saja.

“kau ingat dua tahun lalu, saat kita pergi ke puncak sore hari?” ia mulai membuka percakapan. aku bahkan tidak ingat momen apa yang dimaksud, tapi kusahuti saja “ya, memang kenapa?”



temanku menjawab “aku tidak pernah tahu alasan kenapa orang-orang senang sekali melakukan perjalanan jauh untuk hal yang sebenarnya sudah tahu tidak ada manfaatnya.”



“maksudmu?” kutanya kembali padanya.
“iya, waktu itu kita pergi ke puncak, aku sudah tahu kita hanya akan membuang waktu saja. tidak ada yang akan kita dapatkan. tapi tetap saja kita berangkat, sampai tujuan, tanpa hasil apapun, lalu pulang lagi.” sahut temanku.

“aku tahu kita punya tujuan ke sana. tapi kan kita tahu kalau itu tujuan yang sia-sia.” tambahnya. “ya, bukankah itu rencana kita? menetapkan tujuan, menjalaninya, mencapainya, lalu selesai sampai di situ.” sahutku.

temanku berkata “ya, kita memang berhasil waktu itu. semua berjalan sesuai rencana. tujuan kita membuang waktu, dan berhasil dengan sukses mencapainya.”
lalu aku bertanya padanya “jadi kesimpulan pertanyaan dan pernyataanmu itu apa?”



“begini.” ia kembali menyeruput kopinya yang tinggal seruputan terakhir. “ingat kalimat fiktifmu di awal tadi soal kegagalan dan keberhasilan?” tambahnya.

“ya? lalu?” kubilang.

“rencanakanlah hal yang sia-sia, itu lebih mudah dicapai dibanding rencana yang sempurna. lagipula, berhasil adalah tujuannya bukan? semakin mudah tujuannya, semakin mudah dicapainya.” 
kemudian ia membakar kreteknya sambil berkata “kesalahan orang adalah membiarkan keberhasilan menjadi patokan hidupnya. tidak ada yang belajar dari keberhasilan. semua orang belajar dari kesalahan.”



dan di situ aku yakin kalau ia benar-benar sedang mabuk kafein.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s