Sekeping Saja

​pada masanya, timur jakarta pernah menjadi tempat banyak cerita. menjemput asa, menata luka, menemukan cinta.  jalan ini tak seperti dulu, sudah banyak yang berubah semenjak aku menjauhinya. masih teringat walau samar-samar tentang kenangan itu. menunggu bis pulang, berebut jatah kursi demi meredam penat seharian. namun hanya pegangan tangan sambil bersandar di tengah lorong yang didapat. berjam-jam pun aku tak akan bosan mendengarkan ceritamu. asal aku … Continue reading Sekeping Saja

Sebuah Percakapan (01)

2 : “rokok abis, ga mau beli?” 3 : “nanti aja dulu. ngerokok mulu.” 2 : “keburu warungnya tutup, cuy!”  3 : “indomaret di sana 24 jam. takut amat. ada ATMnya juga. duit masih ada kan? jangan kaya orang susah.” 2 : “yaudah terserah lo. asal jangan lupa aja ntar.” 3 : “bawel lo.” ***************************** 3 : “ambil cepe’ aja, masih punya gocap kan? ntar … Continue reading Sebuah Percakapan (01)

Ceracau Serapah

aku tak tahu apa yang salah dengan diriku. mungkin aku tahu, tapi aku tak cukup peduli dengan itu. aku tak serapi pria lain, tak berpakaian pantas, tak beraroma sedap, tak berlaku sewajarnya, tak seperti sosok pria sempurna di majalah-majalah busana ternama. jijik. ya, itulah satu kata yang mungkin bisa menggambarkan jika ada yang bertanya padamu tentang apa pandanganmu kepadaku. tak pernah kau menyentuhku. oh, aku … Continue reading Ceracau Serapah

Kau Boleh Mengamini

​untuk kata rindu yang tak sempat bertemu. untuk harapan yang tak sempat terkabulkan.  untuk kalimat cinta yang tak sempat dibaca.  kulihat daun-daunmu mulai tertiup angin kencang. dahan-dahan tinggi itu mulai goyah. bertahanlah. aku ingin berdoa untukmu. untuk segala keputusanmu yang lalu. untuk semua khilaf yang pernah singgah. mudah-mudahan yang kuasa mau menerima doa seorang pendosa. doa penikmat sesat. doa berandal tanpa aturan. doa makmum terlambat … Continue reading Kau Boleh Mengamini

Undangan Menanti Pagi

kuparkir motor di tempat biasa, tak jauh dari kamarmu. kulihat sudah jam 3 pagi, dia pasti sudah pulang. kau bilang tidak akan lebih dari jam 2. kubakar sebatang rokok sambil kubaca kembali pesan darimu. “tak lebih dari jam 2, kau datanglah setelah itu. pintu tak kukunci.”, pesan singkat yang kuterima dari jam 10 di hari sebelumnya. aku masih sibuk bekerja, tak sempat kubalas walupun hanya … Continue reading Undangan Menanti Pagi