Ceracau Serapah

aku tak tahu apa yang salah dengan diriku. mungkin aku tahu, tapi aku tak cukup peduli dengan itu.

aku tak serapi pria lain, tak berpakaian pantas, tak beraroma sedap, tak berlaku sewajarnya, tak seperti sosok pria sempurna di majalah-majalah busana ternama.

jijik.

ya, itulah satu kata yang mungkin bisa menggambarkan jika ada yang bertanya padamu tentang apa pandanganmu kepadaku.

tak pernah kau menyentuhku.

oh, aku ingat sentuhan pertamamu. diiringi dengan tatapan dan raut muka seolah melihat onggokan sampah di depan mata. jijik. 

aku pun ingat reaksimu saat kuajak bercanda. tak seperti mereka yang kau sambut dengan mesra dan berbalas canda. tatapanmu seolah merasa kau sedang digoda oleh makhluk paling nista. tak pantas untuk diberi celah memuja.

bahkan reaksimu saat mereka menggoda. ah, tak bisa kukatakan. wajahmu terlalu menampakkan rasa kecewa. canda mereka jadi sebuah tamparan untukku. 

lagipula aku tak punya apapun yang bisa kubanggakan, aku tak punya harta, aku tak punya tahta, aku bahkan tak punya rencana. 

kata-kata.

kupikir itulah satu-satunya yang tak kau rasa gelisah saat berada dekat dengannya. kata-kata bagai jarak yang nampaknya aman untuk kau jaga. pantas saja kau betah berlama-lama dengan aksara. kenapa aku tak menyadarinya? mungkin aku terbutakan oleh rasa.

kau tak pernah menunjukkan apapun. apa yang aku harapkan? bodoh saja aku ini. kerap menunggui sesuatu yang tak mungkin kau dapati.

hanya berada pada pusaran cerita mereka yang menusukkan belati di punggungku dan tak dapat kujangkau untuk melepasnya, hanya merasakan perih dan luka yang semakin menganga.

bukan salahmu, aku tak menyalahkanmu. aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu hanyut dalam arus menuju entah ke mana. aku hanya ingin terbawa ombak, entah menuju tepi pantai, atau diombang-ambing menuju tengah samudera. aku ikut saja. saat ini aku bagai ikan mati.

kau sebut saja aku lelaki lemah dan mudah pasrah. tapi kau tak tahu sekeras apa hati ini tertempa. aku dilatih masa, aku murid terbaik aksara, aku digempur klausa. memang terlalu mudah untuk ditaklukan, tapi jangan harap kau bisa menguasai.

aku akan bertahan sampai akhir minggu. setelah itu aku tak tahu. setelah itu aku adalah aku. setelah itu kau tak ada dalam pikiranku.

sampai nanti tuhan yang ikut campur, yang maha membolak-balikkan hati. 

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s