Undangan Menanti Pagi

kuparkir motor di tempat biasa, tak jauh dari kamarmu. kulihat sudah jam 3 pagi, dia pasti sudah pulang. kau bilang tidak akan lebih dari jam 2.

kubakar sebatang rokok sambil kubaca kembali pesan darimu. “tak lebih dari jam 2, kau datanglah setelah itu. pintu tak kukunci.”, pesan singkat yang kuterima dari jam 10 di hari sebelumnya. aku masih sibuk bekerja, tak sempat kubalas walupun hanya sekedar “ya” atau “ok”. 

kuinjak rokok yang masih tersisa setengah batang dan beranjak menuju kamar nomor 6 di ujung lorong. amat sepi tempat ini, siapa pula yang masih terjaga di tengah minggu jam segini? kawasan tinggal sementara pekerja kantoran tak akan pernah ramai di pagi buta. mereka baru akan bergeliat setelah matahari mulai bergerak laju menuju terik. 

kulepas sepatu kusamku, kutenteng masuk ke dalam kamarmu dan kuletakkan di balik pintu. kulihat kau berselimut di atas ranjang, kutengok sedikit, masih tanpa pakaian rupanya. kunyalakan lampu utama dan kumatikan lampu tidurmu agar kau terjaga.

sesaat setelah lampu menyala, otomatis selimutmu bergerak, kepalamu menyembul di baliknya. kulemparkan senyum namun kau tak membalas. malah dengan ketus kau berucap “lama betul, aku sampai ketiduran.”
“kerjaanku masih banyak, masih untung aku tak berpikiran bermalam di kantor.”, sahutku. 

aku bersandar di ujung ranjang sambil mencari sesuatu. “di mana asbakku?”, kutanya. “jangan kau berpikir bisa merokok di kamarku, hey pecundang!” bentakmu.

“santai.. aku hanya mengecek apa dia dibolehkan merokok, sedangkan aku tidak.” kubalas dengan sindiran halus. karena di ujung mataku kulihat asbak yang kubeli untuk jaga-jaga kalau aku ingin merokok di sini sudah terisi beberapa batang rokok.

“itu aku.”, belamu. “ah, kau melihat orang merokok saja tak suka. jangan kau cemas aku akan marah. aku tak peduli, aku tak akan merokok di sini. aku sudah janji itu.” masih dengan sindiran aku menjawabnya.

“terserah kau!”, katanya sambil beranjak menuju kamar mandi, kulihat sekilas dari belakang tubuhmu tanpa sehelai benang mengayun gontai.

5 menit kemudian kau keluar dari kamar mandi dengan kaos longgar dan celana pendek. “kopi atau teh?”, tawarmu. “kopi saja, satu sendok, tanpa gula, setengah cangkir.” aku menyebutkan rincian pilihanku agar kau tak perlu bertanya lebih lanjut dan segera menghidangkannya untukku. “diaduk tidak?”, tanyamu. sial, aku lupa pilihan itu ada. “aduk 6 kali searah jarum jam.”, kubilang.

kau sodorkan kopi panas padaku dan langsung kembali berselimut di ranjang. kuterima dan kuletakkan di sampingku yang masih bersandar di ujung ranjang.

“kau mau cerita apa?”

“memang aku bilang mau cerita?”

“hah? lalu untuk apa kau suruh aku datang?”

“aku hanya butuh teman.”

“yang tadi bukan teman?”

“itu lain soal.”

“memang kau punya berapa banyak tipe teman?”

“banyaaak. satu untuk tiap kepentingan.”

“dan aku masuk ke golongan mana?”

“kau di luar itu. kau tim pendukungku.”

“aku harus senang atau sedih ada di golongan itu?”

“terserah kau.”

“ada untungnya kah?”

“secangkir kopi?”

“tanpa merokok?! keuntungan macam apa itu?”

“kau bisa masuk ke kamarku kapanpun.”

“untuk apa? minum kopi tanpa merokok? lebih menguntungkan di warung dewi. yang jaga cantik.”

“aku tak cantik?”

“kau menarik.”

“tak cantik?”

“kau tak perlu mendengarnya dariku, dari mulutku tak akan berguna.”

“menurutmu aku tak cantik?”

“… cantik.”

“ah, gombal!”

“berisik!”

“hahaha. aku mau cerita.”

“cepatlah, aku mau merokok.”

“dia lemah, baru semenit sudah selesai.”

“katamu dia perkasa.”

“hanya tampilan saja. tertipu aku.”

“paling tidak kau sudah dapat buktinya.”

“bukti apa.”

“badan perkasa belum tentu sanggup lama.”

“macam kau tahan lama saja, bung!”

“kau tak pernah mau mencoba. aku beri fakta pun kau tak akan percaya.”

“kau mau menggodaku ya?”

“memang kau tergoda?”

“tidak. hahaha.”

“sudah kuduga.”

“aku lebih suka yang kemarin lusa.”

“yang istrinya ke luar kota?”

“bukan, itu yang kemarin.”

“ooh, yang istrinya hamil muda?”

“iya!”

“sehebat apa dia?”

“dia harum.”

“bukankah itu memang kriteriamu?”

“yang ini lain. dia sulit. lebih menantang.”

“kau semacam atlit olahraga ekstrim?”

“maksudmu?”

“suka yang menantang.”

“tidak juga.”

“lalu?”

“entah.”

“mau sampai kapan?”

“apanya?”

“permainan ini kau lakukan.”

“sampai aku menemukan yang tepat.”

“semua yang kau ceritakan sudah punya pasangan. apa yang kau harapkan?”

“keajaiban.”

“keajaiban untukmu. bukan mereka.”

“apa aku tak boleh mengharapkan bahagia?”

“lihat dulu di mana kau mencarinya.”

“aku tak mengerti.”

“tak semua hal harus kau mengerti, ada yang harus kamu rasakan. bagaimana rasanya di pihak sana. kau coba sesekali berempati.”

“kau mau mengguruiku?”

“nasihat dari tim pendukung.”

“kau menyebalkan.”

“aku ngantuk, sikat gigiku masih di kamar mandi, kan?”

” iya.”

aku berdiri sambil menghabiskan sisa kopiku, melangkah menuju kamar mandi, mencuci cangkir, membasuh muka, menyikat gigi, lalu kembali ke ujung ranjang.

kau sudah kembali berselimut. kuambil jaketku, menuju ke luar pintu, dan berkata “kunci pintunya, aku ke warung dewi, lanjut minum kopi di sana. kalau kau sudah siap berangkat kerja, kabari aku.”

“tak jadi mengantuk?”, tanyamu. “barusan kubatalkan.”, jawabku.
kau lalu mengangkat tangan dan melambai.

kututup pintu, kupakai sepatu, kunyalakan rokok, menuju ke motor dan bergegas pergi sebelum matahari memergoki.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s