19/365
ia mengintip dari sela-sela pintu kamar. datang bersama dengan embusan dingin yang membangunkan bulu kudukku. di bawah selimut tebal pun aku masih menggigil. tatapannya terlalu tajam dan intimidatif untuk sekadar dikonfrontasi. rasanya seperti ditegur oleh sekian puluh aparat keamanan saat kamu melakukan kesalahan. tidak pernah tanganku sedingin ini. keringat mulai mengalir dari ujung dahi. debar jantung dan ritme nadi yang tak berirama. napas yang tersengal … Continue reading 19/365
