17/365

[EMPAT]

 

Kamu mulai menunduk dan memegangi gelas dengan kedua tanganmu. Erat sekali. Lalu selepas itu kamu palingkan pandanganmu ke luar jendela. Jelas ada ragu di situ. Entah apa. Aku tidak bisa menerka apapun. Kamu tahu aku tidak pernah pintar menebak kode.

 

“Sebelumnya aku mau minta maaf ke kamu.” Katamu tiba-tiba. Masih menundukkan pandanganmu ke arah gelas. Air mukamu berubah.

 

“Eh, kenapa? Kok gitu ngomongnya? Kamu ada salah apa memang?” Tanyaku.

 

Lalu kamu mulai bercerita. Setelah tidak lagi bersama, banyak hal yang terjadi, banyak momen yang terlewati, banyak keputusan salah yang kamu pilih, banyak pengalaman buruk yang kamu alami. Hal-hal yang membuat hidupmu lebih redup, lebih temaram. Tapi lebih sejuk kamu bilang.

 

“Sejuk dari mana?” Kutanya.

 

Sebentar kamu menghela napas dan berbicara tentang pertemuanmu dengan seseorang. Seseorang yang membuatmu berpikir ulang tentang makna hidup. Tentang bagaimana ia mengajarkan untuk menabur harapan tapi menuai kecewa. Tentang bagaimana perjuangan hidup hingga menjadi utuh semestinya. Tentang bagaimana memelihara dendam, memupuk kepedihan dan menyiramkan kepahitan sampai akhirnya bisa melupakan bahagia.

 

Aku masih belum mengerti.

 

“Kamu harus tahu. Keputusanku untuk pergi dan menjauh darimu bukan untuk kepentinganku saja. Aku ingin bisa lebih menghargai hidup dan menjadi pribadi yang lebih baik.”

 

“Jadi, denganku kamu tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik?”

 

“Bukan begitu. Aku yakin kamu adalah pribadi yang baik, dan denganmu tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada kita.”

 

“Lalu?”

 

“Aku hanya perlu belajar lebih jauh. Dan ini yang mau aku utarakan padamu. Aku memperhatikanmu dari jauh. Aku melihatmu bersemi. Mekar meskipun tak sempat aku semai. Dan ketika suatu hari badai menghampiri, kucari ke mana. Kamu masih di sana.”

 

“. . .”

 

“Aku tahu tidak semua tanya datang beserta jawabnya. Dan tak semua harapan terpenuhi. Dan ketika bicara pun sesulit diam.”

 

“Utarakan. Utarakan.”

 

Lalu kamu tersenyum. Manis sekali.

 

Pelan aku berkata “Itu bukannya lirik lagu Banda Neira, ya?”

 

Dan kamu pun tertawa lepas. Kita mulai larut dalam gelak tawa. Berharap waktu berhenti berputar beberapa jam saja.

 

Semoga.

 

———————————————————-

 

fin~

 

(17/365)

 

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s