13/365

#LimitBreak   Kumpulan sumpah serapah dari komika dengan isi otak paling liar di Indonesia, Rindradana. Pertunjukan yang memberi bukti bahwa semua hal bisa aja dibecandain.   Auditorium RRI Jakarta, Sabtu, 13 Januari 2018. Dibuka MC Adjis Doaibu yang dengan keluwesan bacotnya sukses memandu tawa penonton untuk komika pembuka malam itu. Pemuda katolik gondrong yang mengaku jarang ke gereja karena pasturnya kalau kotbah gak lucu, dan … Continue reading 13/365

12/365

aku sudah mengetik satu paragraf sebelumnya. tapi kemudian kuhapus setelah membacanya. kupikir memang harus seperti itu, harus banyak salah dulu. tapi kejadian menghapus paragraf itu tidak hanya sekali dua kali. sering terjadi akhir-akhir ini. seperti tidak yakin akan apa yang mau kuceritakan. maksudku ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan. tapi bukan di sini medium yang cocok. maka setelah aku menulis lalu dibaca ulang, rasanya … Continue reading 12/365

11/365

hanya ada aku dan sebatang nyeri. dan kepulan sunyi mendadak bias oleh riuh gelak tawa di kepala. sedu juga tak mau pergi sedari pagi. masih betah bersandar di sudut kosong ruang tunggu. ketika waktunya ingin pergi, selalu ada yang berkata “nanti dulu. sebentar lagi” sebatang nyeri bertambah lagi. seolah ingin singgah lebih lama. sampai nanti resah. lalu jengah. malu dan berlalu. besok lagi kupandang lebih … Continue reading 11/365

10/365

halaman rumahmu makin berdebu semenjak lama kau tinggalkan. daun-daun gugur terbawa angin dari kebun sebelah, ilalang liar yang makin hari makin tinggi, temaram terasmu, redup lampu dan kusam temboknya semakin jelas terlihat. aku sudah tak bisa lagi leluasa masuk ke dalam. pagarmu makin tinggi, pun sudah lama terkunci rapat. dulu aku sempat berlama-lama di sini, mengitari sudut yang tak terjamah, tapi hanya sekadar mengamati. karena … Continue reading 10/365

09/365

seketika gelap! aku merebah di antara puing-puing harap yang tak kunjung menetas. lelap dibawa arus kemungkinan yang ujungnya tak pernah terlihat. satu dua bilang pernah melihatnya. satu dua sempat merasakan, katanya. aku masih mengambang di antara sisa-sisa rasa yang sia-sia. mengais sedikit remah dan memunguti serpihan doa dari penghujung malam. seketika cahaya kuning kemerahan menerobos lurus dari sudut mata. terbuka lebar dan perih rasanya. pantulan … Continue reading 09/365