Kompromi

Karena basis dari hidup dewasa adalah toleransi dan kompromi. Berapa banyak kamu bisa mentolerir suatu hal? Berapa banyak kompromi yang sudah kamu lakukan?   Berapa kali kamu beradu pendapat tentang bagaimana seharusnya seporsi bubur ayam dinikmati? Dibiarkannya mahakarya sang tukang bubur tersaji seperti selayaknya karya seni, atau dicampur agar semua bahan bakunya merata sempurna? Berapa kali kamu berbeda paham dan terbagi antara tim mie instan … Continue reading Kompromi

Satu Kata

satu kata darimu pernah berarti ratusan kalimat di telingaku. sapa lisanmu, ketikan huruf dari ponselmu, tulisan kecil yang kamu simpan di meja kerjaku. satu kata darimu pernah membuat matahari pagi bersinar lebih semangat dari biasanya. hari berjalan lebih cepat, dan seolah semesta berencana untuk membuat kita lebih cepat bertemu. satu kata darimu pernah mengisi penuh lembar-lembar kosong buku yang sudah lama kututup dan mulai berlubang … Continue reading Satu Kata

Malam Minggu Lalu

Kamu yang berdiri di sana dengan baju terusan biru muda dan cardigan hitam. Memakai sepatu vans old skool hitam tanpa kaos kaki. Dengan rambut panjang sebahu yang sibuk mengganggu tas punggung kecilmu itu. Kamu menarik perhatianku.   Aku melihatmu sendirian, seperti menunggu seseorang. Kalau saja kita sempat saling berpandang, mungkin kamu akan melihat riuh binar di mataku. Tapi kamu sibuk menatap layar ponselmu, berharap berita … Continue reading Malam Minggu Lalu

Terapi Menulis

selain mendengarkan musik, berkendara naik motor sendirian, dan tidur seharian, buat saya salah satu terapi untuk menenangkan pikiran adalah dengan menulis. saya mungkin salah satu di antara orang-orang yang menggemari bacaan dan terpancing untuk mencoba setidaknya menumpahkan isi kepala ke dalam tulisan. dulu sih sempat sampai dibuat beberapa lagu, tapi tidak begitu bagus. dan sekarang pun sudah lupa lagu-lagunya seperti apa. saya agak kurang telaten … Continue reading Terapi Menulis

Tulisan Ini Bukan Untuk Kau Amini

seolah hanya karena pandai berdoa semua hal bisa berjalan sesuai rencana. sementara berpuluh kali usaha hanya menghasilkan sia-sia. lantas putus asa. mengipasi bara karena api sudah tak lagi beroperasi. membuat sendi-sendi mulai menggigil dihembus angin dini hari. luka yang lama singgah tak juga kunjung enyah. justru berekspansi kian jauh dan makin bertambah parah. bersama dengan percakapan yang semakin lama semakin usang. tidak perlu lagi ada … Continue reading Tulisan Ini Bukan Untuk Kau Amini