#26

sabtu malam ini tidak jauh berbeda dengan sabtu malam lainnya. hanya ada aku, kafein, nikotin, dan asupan kuota internet yang menemaniku menghabiskan sisa baterai di ponsel. aku bangun terlalu siang hari ini. tak kulihat matahari pagi, hanya terik yang menyambut kelopak mataku yang terbuka perlahan. kucoba mengumpulkan kepingan cerita di mimpiku yang semakin keras kuingat, semakin ringan ia pergi. sudahlah, aku bukan golongan yang terlalu … Continue reading #26

#24

​bagaimana kita bertemu? apakah di salah satu rak toko buku, mata kita saling tertuju di buku yang sama, lalu tak sengaja saling bersentuhan, canggung, lalu membahas buku yang sama sambil minum kopi di kafe seberang? apakah di salah satu pertunjukan musik, di mana kau sendirian demi menyaksikan band kesayangan karena teman-temanmu tak ada yang bisa diajak, lalu berbicara tentang kesukaan masing-masing. apakah di sebuah taman … Continue reading #24

#23

sebelum aku terlelap, sebelum aku menghilang, sebelum aku berkelana dalam ruang fana, sebelum aku melebur, ada satu hal yang harus aku katakan.  ternyata aku tak beranjak. ternyata aku tak sepintar yang aku kira. ternyata aku satu dari entah berapa banyak plankton yang terjaring oleh pukatmu, mencoba lepas, mencoba pergi.  aku berontak, tapi tak kuat. aku melawan, tapi tak menang. biarkan aku cerna ini semua.  sampai … Continue reading #23

#22 

pernah berpikir tentang kematian? sejauh mana kamu menyiapkan sebuah kepastian yang entah kapan akan kamu dapatkan? seperti menunggu pangeran berkuda putih hadir dalam hidupmu. tapi itu pun masih mungkin, belum pasti. yang sudah pasti akan datang ya sang kematian itu. aku sudah kehilangan dua orang terdekat dalam hidupku, mereka pergi tak kembali, pulang ke rumah yang semestinya, bertemu yang mencipta. kami tak bisa menolaknya, pahit … Continue reading #22