Kapan-kapan Kita Bicara

kamu ingat obrolan panjang kita malam itu? sedari pulang kerja, ponselku tak henti membunyikan nada notifikasi. kita berbincang banyak hal, mulai dari yang remeh, hingga hal yang seharusnya dibicarakan saat mabuk saja. kita masih terlalu sadar untuk persoalan itu.

 

tempo hari aku berniat untuk menghubungimu. lagi. cukup lama kita tidak berbicara panjang lebar. tapi kamu tahu sendiri aku agak kurang berbakat dalam berbicara. kadang saat bertemu pun aku lebih banyak memperhatikanmu berbicara daripada menyiapkan kata-kata yang harusnya bisa aku keluarkan.

 

aku yakin kamu tidak sejahat itu untuk mengacuhkan pesanku. tapi aku masih ragu, bagaimana harus memulainya lagi. kamu tahu sendiri perpisahan terakhir kita tidak berlangsung dengan baik. masih menyisakan tanya yang belum sempat dijawab.

 

tapi aku tahu kamu pun punya keraguan yang sama. kamu pasti ragu apakah aku masih pribadi yang pertama kali kamu kenal, atau waktu sudah mengubahku menjadi sosok lain yang jauh dari harapanmu. aku sendiri tidak tahu.

 

kamu harus tahu, perasaanku padamu belum berubah. ya, mungkin ada sedikit hal yang kadang membuatku ingin sekali marah, tapi aku sadar, mana ada hakku untuk itu. tapi kalau begitu sama dengan tidak ada hakmu untuk marah juga, kan?

 

ah, cukup begini saja.

 

kamu dengan duniamu, dan aku dengan duniaku. mungkin kita memang hanya ditakdirkan sebagai pengisi semesta saja. tidak kurang, tidak lebih.

 

semoga kamu bahagia di mana pun kamu berpijak.

 

namaste~

 

(94/365)

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s