Laki Laki Pemalu

efek-rumah-kaca-konser-sinestesia-irockumentary-music-photography-7364

Foto oleh Agung Hartamurti Irockumentary


 

sudah beberapa malam ia beranjak tidur dengan doa yang sama. doa yang berulang kali ia ucapkan dalam hati. doa berisi harapan yang dengan caranya sendiri belum pernah bisa tercapai.

 

ia tahu setiap pagi, pukul 8 lebih 15 menit, dari arah yang tidak pernah berubah, gadis itu selalu menunjukkan pesonanya. pemandangan pagi yang cukup untuk membuat lelaki ini lebih bersemangat melakukan kegiatannya. tapi tetap tidak cukup untuknya menjadikan doa tiap malamnya menjadi kenyataan.

 

setiap pagi, setelah malam sebelumnya ia berbicara dengan kunang-kunang peliharaannya, berdiskusi tentang apa yang harus ia lakukan untuk sekadar menyapa, berkenalan, atau lebih mudahnya lagi, menunjukkan kalau ia ada.

 

ya, lelaki ini yang selama ini terlalu lama menyimpan mau, namun terlalu malu untuk memperhatikan gadisnya dari dekat. ia hanya berani untuk melihat gadisnya berjalan dari pagar gedung sampai pintu kantornya di ujung jalan, ditemani berbatang-batang rokok dan segelas kopi panas yang tak pernah sempat ia teguk.

 

selalu. setiap malam ia berdiskusi dengan kunang-kunangnya, sebelum tidur ia panjatkan harapan agar keberanian bisa setidaknya mampir sebentar, dan setiap pagi ia hanya bisa memperhatikan gadisnya dari jauh.

 

malam semakin sunyi, dan ia kembali memulai ritual diskusinya. dua ekor kunang-kunang yang ia simpan dalam wadah kaca yang cukup besar mulai berkelip memendarkan cahaya yang mulai redup.

 

aa beranjak menuju balkon kamar sambil  membawa wadah kaca berisi peliharaan kesayangannya. lalu kembali masuk untuk mengambil sebungkus rokok. kembali ke balkon, ia teringat kalau kopinya masih ada di dapur. ia lalu dengan gontai menjemput dosis kafein yang mungkin saja bisa membantunya berpikir lebih jernih malam ini.

 

kopi, rokok, dan kunang-kunang. ia siap untuk memulai ritualnya.

 

diperhatikannya cahaya yang berpendar dari dalam wadah kaca. semakin lama, cahaya itu semakin redup. ia tahu kalau ini bukan saat yang tepat untuk membiarkan peliharaannya mati dalam kungkungan. maka setelah menghembuskan asap terakhir dari batang rokok ketiganya malam ini, ia memutuskan untuk melepaskan kunang-kunang yang sudah ia simpan selama seminggu belakangan.

 

“hey, maaf sudah menangkap dan menyekapmu selama ini. terima kasih sudah mau mendengarkan ocehanku, terima kasih untuk waktumu. tolong jangan marah.”

 

lalu ia buka wadah kaca itu dengan hati-hati, dan dalam sekejap kunang-kunang itu terbang. diambilnya sebatang rokok dari bungkusnya, sambil memantik api dan menyalakan harapan, dengan perlahan ia hirup dalam-dalam nikotin menuju paru-parunya. Kkemudian ia meraih gelas kopinya, beranjak menuju sisi luar balkon dan sebelum ia meneguk, ia melihat puluhan kunang-kunang terbang.

 

merelakan sesuatu akan memberikan kebahagiaan pada hal lainnya. keberanian akan berlipat ganda atau bahkan terbang menghilang.

 

dengan takjub ia memperhatikan kunang-kunang itu berarak jauh sampai menghilang dari pandangannya.

 

sekarang ia hanya punya dirinya sendiri untuk berdiskusi tentang rencananya esok pagi. rencana yang tidak pernah direalisasikan. rencana yang hanya berujung pada banyaknya pilihan rencana yang seharusnya bisa ia lakukan. rencana yang sungguh sia-sia.

 

esok pagi hanya akan menjadi pengulangan dari pagi-pagi sebelumnya. pagi yang sama. pagi yang membawa sedikit kebahagiaan, memberikan sedikit semangat, namun meninggalkan kekelahan dan menyisakan sunyi.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s