Day 5: Ibu Bapak

di atas adalah foto ibu dan bapak waktu masih muda, entah foto tahun berapa, yang pasti di circa 90-an karena saya lahir tahun ’89 dan di foto tersebut saya belum terlalu besar juga, jadi mungkin sekitar 92-93? entah ya. yang pasti foto diambil di kawasan ancol. ibu bapak adalah orangtua yang biasa saja, datang dari keluarga jawa yang tidak terlalu besar (yang ini saya asumsi … Continue reading Day 5: Ibu Bapak

Day 4: Ke Mana?

saya jarang berpergian, kota yang pernah saya sambangi mungkin bisa dihitung dengan jari. seingat saya pun pulau yang pernah dikunjungi tidak begitu banyak. di indonesia saja saya baru mampir di pulau jawa, bali, lombok, dan sumatera sewaktu kecil (saya tidak ingat apa-apa soal itu, hanya ada bukti foto dalam kapal). luar negeri apa lagi. saya baru pernah ke thailand, itu pun karena urusan kantor. kalau … Continue reading Day 4: Ke Mana?

Day 3: Fragmen yang Hilang

isi kepala ini sudah pecah. rasanya keping-kepingnya berpencar tak kenal arah. beberapa hilang, beberapa samar, sisanya tidak pernah menemukan korelasinya satu sama lain. kira-kira itulah gambaran dari ingatan saya. entah karena apa, mungkin terlalu sering jatuh dari motor, atau memang sudah dimakan usia. banyak cerita di kepala yang sudah tidak bisa saya kembalikan lagi. saya sudah banyak lupa, atau kadang masih ingat namun tidak detail … Continue reading Day 3: Fragmen yang Hilang

Day 2: Sederhana Saja

pertanyaan pertama adalah, apa itu bahagia? banyak definisi yang bisa didapat dari satu kata tersebut. setiap orang pasti punya pengertian mereka sendiri tentang apa arti bahagia. mungkin bagi beberapa orang, punya uang banyak bisa membuat bahagia. punya keluarga yang harmonis bisa membuat bahagia. masak indomie yang matangnya pas bisa membuat bahagia. buat saya sendiri, bahagia itu artinya hati saya senang (tolonglah mz, kami tidak perlu … Continue reading Day 2: Sederhana Saja

Day 1: Ambivert

plin-plan. mungkin itu yang terlintas di kepala saat mendengar kata ambivert. kepribadian yang ada di tengah-tengah. suka bersosialiasi, tapi di sisi lain juga suka menghabiskan waktu untuk menyendiri. pendiam tapi cerewet. siapapun yang pertama kali melihat atau berpapasan dengan saya pasti merasa kalau muka saya bengis dan kejam. padahal kalau saja mau ngobrol lebih intim lagi, keseraman wajah itu hanya kamuflase belaka. lebih tepatnya itu … Continue reading Day 1: Ambivert