17/365

[EMPAT]   Kamu mulai menunduk dan memegangi gelas dengan kedua tanganmu. Erat sekali. Lalu selepas itu kamu palingkan pandanganmu ke luar jendela. Jelas ada ragu di situ. Entah apa. Aku tidak bisa menerka apapun. Kamu tahu aku tidak pernah pintar menebak kode.   “Sebelumnya aku mau minta maaf ke kamu.” Katamu tiba-tiba. Masih menundukkan pandanganmu ke arah gelas. Air mukamu berubah.   “Eh, kenapa? Kok … Continue reading 17/365

16/365

[TIGA]   Aku beranjak dari kursiku dan langsung menuju pintu depan.   Bagaikan anak kecil yang dibolehkan ibunya mandi hujan, kamu harus tahu betapa gembiranya aku bisa kembali melihatmu. Kamu terlihat kian bersahaja. Rambutmu dipotong pendek sekarang. Cantik. Kamu selalu cantik. Frame hitam sekarang mulai menghiasi matamu. Mata yang tak mungkin bosan kupandangi. Kamu kurusan, bisa kulihat tulang pipimu yang makin nampak. Tapi kamu terlihat … Continue reading 16/365

15/365

[DUA]   Selatan Jakarta.   Lokasi yang sudah kita sepakati untuk tempat bertemu. Ini baru pukul setengah tujuh, pekerjaanku bisa kukejar lebih cepat sehingga aku bisa datang lebih awal. Aku yakin kamu pasti tepat waktu, tidak pernah sekalipun kamu ingkar janji. Apalagi janji yang kamu buat sendiri.   Musim hujan hampir mulai, atau malah sudah mulai? Atau bahkan belum? Ah, cuaca akhir-akhir ini sulit sekali … Continue reading 15/365

14/365

[SATU]   Pesan singkat darimu kubaca berulang-ulang, kucerna kata demi kata, tidak ada satupun salah ketik di situ, diksi yang kamu pilih masih sehalus dulu, sebelum kita memutuskan untuk mengambil arah yang berbeda di persimpangan.   “Hai, apa kabar? Besok kamu ada waktu luang? Bisa kita ketemu?”   Satu kalimat saja setelah hampir setahun kuhapus semua riwayat pesan darimu. Namamu masih di situ, belum kuhapus … Continue reading 14/365