23/365

sunyi membuatku canggung. sedangkan ramai membuatku gelisah. murung adalah sedikit kebahagiaan yang selalu kusempatkan singgah barang sebentar. kusematkan seutas kenang dalam sudut kehampaan yang walau sekilas gelap dan muram namun tetap memberikan sekilas cahaya yang kubutuhkan. kadang terbersit keinginan untuk membakar lorong gelap di depan langkahku dengan geretan api yang menyalakan lentera retak di tepian dinding kusam tak tersentuh. sudah lama ingin kuselesaikan, tapi tak … Continue reading 23/365

22/365

mari bicara tentang bagaimana sebuah hubungan perlu diakhiri. mari berandai-andai tentang kita. tentang kamu, aku, dia, dan mereka. anggap saja kita adalah sisa-sisa keresahan yang tak kunjung usai. anggap saja kita adalah daun terakhir di ujung dahan sebuah pohon tua yang enggan bertahan. anggap saja kita adalah tempat pemberhentian terakhir sebelum pintu keluar menuju kota besar. apa yang akan kita lakukan di dalam mobil yang … Continue reading 22/365

21/365

yang sulit adalah bagaimana mempertahankan hal yang telah berjalan. yang mudah adalah memutusnya di tengah jalan. dan yang lebih rumit dari mempertahankan adalah memulai. terutama memulai sesuatu yang pernah dibangun dan runtuh entah apapun sebabnya. silakan berkaca pada peradaban. dan bagaimana membangun sebuah kenyamanan? apakah dengan saling bicara? bukankah terkadang diam adalah percakapan paling liar dan luas. ah, kalau memang nyatanya tak pernah bisa nyaman. … Continue reading 21/365

20/365

ada kala tangan kita berpagut di dua arah yang berlawanan sedangkan isi kepala sama-sama di tempat yang sama. ketika abu dan sendu berjibaku dengan selendang halusinasi hingga merapatkan sisi punggung yang bersandar rebah tanpa perlawanan. redup hingga mengatup sampai kemudian ada hawa yang meletup liar dari hamparan kuncup kembang yang tak kunjung mekar. aku sudah diperingatkan untuk sesegera mungkin bergegas dan berkemas. aku telah secara … Continue reading 20/365

19/365

ia mengintip dari sela-sela pintu kamar. datang bersama dengan embusan dingin yang membangunkan bulu kudukku. di bawah selimut tebal pun aku masih menggigil. tatapannya terlalu tajam dan intimidatif untuk sekadar dikonfrontasi. rasanya seperti ditegur oleh sekian puluh aparat keamanan saat kamu melakukan kesalahan. tidak pernah tanganku sedingin ini. keringat mulai mengalir dari ujung dahi. debar jantung dan ritme nadi yang tak berirama. napas yang tersengal … Continue reading 19/365