22/365

mari bicara tentang bagaimana sebuah hubungan perlu diakhiri. mari berandai-andai tentang kita. tentang kamu, aku, dia, dan mereka.

anggap saja kita adalah sisa-sisa keresahan yang tak kunjung usai. anggap saja kita adalah daun terakhir di ujung dahan sebuah pohon tua yang enggan bertahan. anggap saja kita adalah tempat pemberhentian terakhir sebelum pintu keluar menuju kota besar.

apa yang akan kita lakukan di dalam mobil yang melaju perlahan, dipaksa berjalan tanpa sedikitpun tahu sampai di mana lajunya akan berhenti. bisa saja sampai di tempat tujuan, atau bahkan mogok di tengah jalan dan membuat kita berjalan setelahnya.

masalahnya adalah. apakah tujuan kita masih sama? bagaimana kalau kamu lelah? atau aku? bagaimana kalau kamu menemukan arah lain. jalan lain di persimpangan. di sana ada kendaraan lain yang sudah menunggu. apakah kamu masih mau berjalan bersamaku? atau kamu memilih berjalan ke arah lain.

aku bisa saja memperbaiki mobil kita. tapi apa kamu mau bersabar menunggu? apa kamu bisa menghiraukan kendaraan lain yang menunggu? mungkin nanti beberapa melintas dan kamu sudah tidak sabar untuk segera tiba di tujuan.

kita bisa saja berjalan, pelan, dengan tujuan yang sama.

kita hanya perlu kesepakatan dan saling setuju untuk tetap menggenggam tangan. ke sana. pulang ke rumah.

 

(22/365)

 

 

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s