Terbentur, Terbentur, Terbentur, Hancur.

terbentur, terbentur, terbentur, hancur.   maafkan saya, bung tan malaka. segala benturan ini tidak mampu membentuk saya menjadi sesuatu yang lebih baik. mungkin sang pandai besi yang menempa diri saya salah memperhitungkan panas dan gempuran gadanya. mungkin panasnya kurang tinggi dan gempurannya kurang bertenaga. atau mungkin malah panasnya kelewat tinggi, sehingga jadi terlalu lumer.   tapi tidak ada yang sia-sia. kalah jadi abu, menang jadi … Continue reading Terbentur, Terbentur, Terbentur, Hancur.

Masih Mungkin

membenturkan alam nyata dengan remah-remah bayangan tidak pernah berjalan mulus. beberapa akan pecah berantakan, sisanya tergores, lecet, dan tidak kembali utuh seperti semula. tapi hal terbaik yang kau dapat dari pergi ke tempat lain adalah sebuah pelajaran. pelajaran yang tidak kau terima dari pengalaman hidup. seolah memproyeksikan hal-hal yang belum terjadi, yang akan terjadi, dan yang mungkin terjadi. karena bagaimanapun, kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar … Continue reading Masih Mungkin

Perpisahan Semu

“nanti kita akan bertemu lagi, dalam waktu dekat, di belahan dunia lain.”   tapi kita tidak pernah benar-benar berpisah. aku masih di sini, kau masih di sini. kita masih di tempat yang sama.   kalau memang kau sudah memutuskan untuk pergi, kenapa masih tetap tinggal? atau maksudmu aku yang harus pergi? kenapa?   kenapa harus pergi? apa yang salah dengan tetap di sini? kalau kau … Continue reading Perpisahan Semu

Diam

suara sember dari pengeras suara murahan yang dibeli di pasar malam beberapa bulan lalu masih menggaungkan lagu-lagu muram yang sudah sengaja disusun dari semalam. teh panas dengan asap yang masih pelan menguap dari gelas kaca di samping meja kerja. dan angin dingin dari hujan yang tak kunjung reda dari pagi.   aku masih duduk di tempat yang sama. masih memikirkan hal-hal yang perlu kuselesaikan, tapi … Continue reading Diam