Di Depan Lemari Ringkih

cawan-cawan berisi penyesalan memenuhi lemari ringkih yang dibeli dari pengrajin kayu pinggir jalan dengan potongan setengah harga karena terbuat dari material kayu sisa dipan seorang saudagar kaya pemilik tambak udang paling besar di kotanya.   berbagai cenderamata hasil dari perjalanannya mengelilingi tiga belas kota besar di pelosok negeri teratur rapi di antara buku-buku lama dan pigura berisi lembar sertifikat dari hasil seminar cara bercocok tanam … Continue reading Di Depan Lemari Ringkih

Tidak Selalu Semuanya Ideal

seperti layaknya kencan pertama. gerak tubuh yang canggung, kalimat yang selalu keluar dengan nada rendah, cerita-cerita yang luwes keluar dengan sendirinya, senyum yang selalu tersungging di ujung bibir, hingga waktu berjalan terlalu cepat.   hingga kencan ke dua ratus delapan puluh tiga sudah terlewati. gerak tubuh yang semakin kaku, kalimat-kalimat bernada tinggi yang keluar, cerita yang tertahan lajunya, garis bibir yang senantiasa datar, hingga waktu … Continue reading Tidak Selalu Semuanya Ideal

Kembali

ia menoleh ke kiri sebentar, lalu menoleh ke kanan, lalu menunduk sambil memasukkan tangannya ke kantong celana. diambilnya sebungkus rokok yang dibeli di perjalanan menuju kantor tadi pagi. ia berjongkok di antara mobil-mobil yang terparkir tidak beraturan, membakar batang pertamanya setelah sarapan bubur jagung dan segelas susu kambing dingin serta setangkup roti isi selai nangka buatannya sendiri. ia senang berada di sana, tidak banyak orang … Continue reading Kembali