6 ke 28

​semesta memberkati. diguyur air dari langit sepanjang jalan pulang, aku bersyukur masih bisa melaju tenang. meski kuyup tiba di tujuan. terima kasih pemilik alam, aku masih diberi kesempatan untuk menikmati oksigen sampai hari ini. terima kasih atas gulita malam yang selalu setia menemani. terima kasih atas ketenangan di sela rintik hujan tanpa perlu menunggu datangnya pelangi. ditolak masuk klub 27. rasanya mungkin memang aku belum … Continue reading 6 ke 28

Mulai Baru

​aku memintal surai yang menjulur dari tatapan matamu. tajam. jariku tergores dalam. di waktu yang lampau kita pernah berkelakar. tawa yang berderau gemuruh kala itu, sekarang hanya terdengar lirih. samar. aku berusaha berteriak lantang. namun hanya pekikan parau yang keluar dari kerongkongan. perih. langkah ini mulai limbung. lagi. apa yang harus aku lakukan agar jejak ini tetap kokoh? harusnya aku tahu tidak semua tanya tersaji … Continue reading Mulai Baru

Doa Baru

​di antara gemerlap langit bertabur sulfur dan riuh rendah suara tawa bocah yang diperbolehkan orang tuanya berlarian di tengah malam. di antara desis suara bara yang terpercik tetesan olesan mentega dan kecap serta kibasan angin dari bekas kardus mengusir asap panggangan yang mencoba menusuk mata. di antara hingar bingar musik yang terpasang keras dan memekakkan telinga dan hangat suasana bertabur cerita, senda gurau yang terpancar … Continue reading Doa Baru

Patah

​patah hati itu butuh tenaga. kamu perlu energi untuk mencerna semua kenyataan pahit yang harus kamu terima. kamu perlu keahlian untuk merekatkan kembali hati yang retak, sebelum ia pecah berantakan lagi dan kamu perlu tenaga tambahan untuk memungutinya. kadang patah hati akan membuatmu merasa jadi orang yang paling bodoh sedunia, atau setidaknya menurut orang lain yang melihatnya. tapi jangan kamu pedulikan, manusia hanya bisa berencana, … Continue reading Patah

Angin

​aku ini angin. menyejukkan saat aku berhembus pelan. menyebalkan saat bertiup kencang. kadang dicari, tak jarang dibenci. aku yang merusak tatanan rambutmu dengan sengaja, membuatmu kesal dan mengutukku. tapi kemudian kamu cari karena ternyata terik matahari merusak pulasan bedak di wajahmu. aku yang menenangkanmu kala senja, menemanimu bercerita dengan segelas minuman hangat dan cemilan yang baru diangkat dari penggorengan. aku ini angin. tak mudah kau … Continue reading Angin