Jingga

Jingga

 

gemericik hujan ringan di penghujung hari, diiringi dengan temaram awan gelap yang bergelayut di udara. mengingatkan tentang bagaimana sebuah hari semestinya diakhiri.

 

tidak ada aroma petrichor setelah hujan, karena sudah tidak ada lagi tanah di sekeliling. semua berganti beton, pasir, debu, dan plastik yang bergelimpangan di jalan.

 

tidak ada anak kecil berlarian menerobos becekan tanpa alas kaki, dengan baju basah kuyup dan bibir biru menggigil namun tidak pernah kapok untuk mengulanginya lagi dan lagi.

 

hujan berhenti tepat pukul lima, tapi awan sudah terburu-buru membawa matahari pergi. bulan belum siap bertukar posisi, maka langit sore pun kosong.

 

dan senja tak lagi jingga.

 

(202/365)

 

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s