Rustam Penasaran

“harus sekarang?”

 

burhan bertanya setelah sebelumnya menyesap kopi hitam yang asapnya masih mengepul pekat di atas gelasnya. sebatang kretek ia keluarkan dari wadah kayu berbentuk silinder yang ia dapat dari seorang kawan saat berkunjung ke daerah gresik beberapa tahun silam. wadah kayu dengan ukiran kembang sepatu di sekelilingnya. burhan selalu membawanya ke mana-mana meskipun wadah itu hanya muat untuk menampung enam batang kretek yang tak pernah kosong.

 

“ga tau ya, mas. aku juga masih bingung.”

 

rustam menjawab dengan ragu. rambutnya diacak-acak dengan tangan kanannya. tangan kirinya sibuk memainkan rokok yang diputar-putarnya melalui sela jari. sudah tiga menit tapi baru dua kali ia menghisapnya. rasa-rasanya ia hanya ingin merasakan bara api yang mengelilingi jari tangannya.

 

“kalo kamu masih bingung ya coba dipikirkan lagi, jangan sembrono. nanti kamu menyesal”

 

sahut burhan dengan tidak selera. ia sudah hapal betul kelakuan adik laki-lakinya itu. ini sudah ke sekian kalinya burhan mendengar cerita yang sama dari rustam. dan sekian kali pula ceritanya selalu berakhir sama.

 

“sudah dipikir, mas. tapi ya begitu. makin dipikir malah makin ga keruan.”

 

rustam menghisap dalam rokoknya. mengingat lagi kejadian beberapa malam lalu di sebuah toko kelontong yang tidak pernah tutup. ia mengingat dengan jelas semua kejadian itu. pukul dua pagi, setelah kerja lembur, rustam memakirkan sepeda motornya di depan pintu kaca yang berembun oleh pendingin ruangan yang dinginnya mengalahkan tatapan seorang gadis yang gagal dikawini pujaan hatinya karena lelaki itu lebih memilih mengawini teman baiknya sendiri.

 

rustam membuka pintu toko kelontong dengan gontai. selain tidur di kamarnya, hal yang ia butuhkan malam itu hanyalah sebungkus kretek untuk bekal sebelum tidur dan sarapan besok pagi. kopi bisa ditambahkan kalau perlu, tapi itu opsional, tidak ada pun tidak apa-apa.

 

hawa di dalam toko kelontong malam itu sangat dingin, entah karena memang sudah jam dua pagi dan pendingin ruangannya masih menyala dengan semangat, atau karena rustam menyadari kalau tidak ada orang lain di dalam toko selain dirinya.

 

pelan-pelan ia menolehkan kepalanya, mengerahkan sisa-sisa kemampuan matanya yang mengantuk untuk menyapu pandangan di sekeliling. memperhatikan dengan seksama di setiap sudut ruang dan lorong-lorong rak barang dagangan.

 

sampai di suatu titik, rustam merasa bulu kuduknya berdiri tiba-tiba. ia lalu menempelkan tangannya ke belakang leher dan mengusapnya perlahan. ada rasa perih yang menyasar di sana. seperti ada sebuah sayatan kecil. basah sedikit ia rasakan. ia lalu melihat ada bercak darah di tangannya. ia lalu menoleh ke belakang dan mendapati sebuah golok yang meluncur cepat ke arah mukanya.

 

(122/365)

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s