Bangkok Weekend #1 (Minggu)

Yak, setelah jalan-jalan naik kereta udara dan bawah tanah, kali ini rutenya jalan darat. Bersama rekan kantor, saya diajak untuk ke daerah Amphawa untuk berkunjung ke sebuah café bernuansa vintage (ini sih maunya mereka yang belum pernah ke sini), kuil Wat Bang Kung, dan Amphawa Floating Market. Padat bukan jadwal saya hari ini?? Mari kita lezgo!

Janjian jam 9 pagi di stasiun On Nut, kami jalan darat menggunakan mobil selama kurang lebih 2 jam perjalanan. Rutenya jauh ternyata, hampir 90 km. Untung disetirin, jadi bisa tidur-tidur sedikit, :p

Tempat pertama yang dimampiri adalah Pava Café, model-model kafe kaya begini sih di Jakarta juga banyak sebetulnya, tapi ya berhubung saya hanya nebeng dan pasrah dibawa ke mana saja, ya terdamparlah saya di kafe gaul ini. Menu makanannya ya begitu, so called kafe anak muda lah, dari mulai finger snacks, roti-rotian, berbagai kopi dan minuman lucu lainnya.

Yang menarik dari tempat ini menurut saya sih dekorasinya. Banyak sekali barang-barang antik yang dipajang sebagai aksen untuk menarik perhatian dan seperti yang sudah diperkirakan, tempat ini amat instagram-able sekali. Cocoklah untuk hasrat instariya saya, ehehe.

Lanjut kami ke kuil Wat Bang Kung yang mana adalah silakan tengok sendiri >> https://en.wikipedia.org/wiki/Wat_Bang_Kung

Menariknya tempat ini adalah ini bekas markas latihan pasukan era kerajaan Ayutthaya yang diserang oleh pasukan Burma dan kalah, namun beberapa tahun kemudian perang dimulai lagi dan dimenangkan pasukanAyutthaya. Ya begitu kira-kira, kalian baca sendiri lah itu di link yang saya kasih.

Makanya di pelataran parkir kuil ini banyak patung pasukan yang sedang berlatih muay thai. Situs memorial yang bagus menurut saya, dan ada beberapa patung dewa-dewi dan orang suci yang ada di sini, banyak yang berdoa juga (ya iyalah, kuil mz! situ ngarep apa??)

Habis dari kuil kami lanjutkan perjalanan menuju Amphawa Floating Market, pasar terapung populer ke dua di (dekat) Bangkok. Tidak terlalu besar, tapi cukup bikin capek juga kalau jalan dari ujung ke ujung pasar. Dua sisi pula, bolak-balik, betis sudah hampir meletus rasanya.

Harusnya sih supaya lebih otentik, kami naik perahu sambil makan seafood yang dimasak langsung di atas perahunya. Tapi kan kami turis liberal, bebas aja mau ngapain. Jadi kami cuma jalan kaki sepanjang sungai sambil lihat-lihat dagangan ajaib di sekitarnya. Apa yang ajaib?

Begini, saya mau tanya sedikit. Kira-kira kalo ada yang jualan eskrim rasa mangga itu aneh ga? Ngga ya? Bagaimana kalau eskrim mangga dengan toping sambal dan udang? Edyaaan! Tapi begitu dicobain, surprisingly ga aneh-aneh amat sih rasanya, cuma ya kalau lihat bentuknya pasti agak mengernyitkan dahi sedikit.

Pasar apung ini ramai sekali. Entah memang selalu ramai atau karena kami datang saat akhir pekan, di mana adalah hari berkumpulnya turis-turis domestik maupun intergalaktik. Kalau panas-panasan, senggol-senggolan, harap wajar saja. namanya juga pasar.

Sudah hampir sore, dan mengingat jarak perjalanan kami cukup panjang, maka beranjaklah kami ke tempat selanjutnya, yang mana adalah kafe lain yang ingin teman kantor saya datangi. Ini sih judulnya mereka mau tur kafe tapi sekalian ngajak saya biar rame. Tapi sekali lagi, nebengers jangan banyak protes. Ikut saja, duduk manis, kelar urusan,

Karena ini pun kali pertama mereka ke sini, maka sudah pasti bisa ditebak jika… Yak, betul. Nyasar saja saudara-saudara. Ga jauh kok, masih bisa dijangkau GPS, saya masih tenang, bisa lanjut tidur lagi.

Akhirnya sekitar jam 4 atau jam 5, saya lupa, kami sampai di kafe kecil yang manis bernama After The Rain. Sumpah ini kafenya manis banget. Dari mulai dekorasinya yang semi-semi outdoor dengan rakit dan perahu kecil yang bisa dipakai pengunjung untuk berkeliling sungai kecil di dalamnya. Iya, kalian ga salah baca, di dalam kafenya ada sungai kecil. Dan menu makanannya yang kira-kira bakal menghabiskan stok gula bulog untuk 3 bulan ke depan. Manis semua!

Selesai dari kafe manis yang sayang sekali kalau ga datang bareng sama pacar ke sana. Kami beranjak pulang karena sudah mulai gelap dan sadar kalau perjalanan pulang kami masih ada 2 jam lagi. Kasihan supirnya pegal, ga ada yang ganti nyetir.

Dan masih ada satu destinasi lagi rupanya. Karena belum makan berat, kami mampir ke sebuah rumah makan yang setiap saya lewat pulang kantor selalu ramai. Wah, pasti enak nih makanannya. Dan karena saya bingung mau pesan apa, soalnya menunya Bahasa Thailand dan terlalu banyak varian, sedangkan kepala saya sudah lelah rasanya untuk memilih. Akhirnya keputusan menu diambil oleh teman kantor saya yang memesan kerang, asinan udang, chicken wing, dan daging panggang. Jangan tanya daging apa, jangan hakimi saya.

Sudah kenyang, saatnya pulang. Akhir pekan yang menyenangkan. Minggu depan kita ulang!

2018-03-25-PHOTO-00000065

(89/365)

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s