Langit Malam

​keras sekali kepalamu, terbentur pun kurasa tak akan mengubah isi pikiranmu.

tidak, aku tidak akan mengintervensi isi kepalamu, itu otoritasmu. seperti tubuhmu, hakmu penuh akan itu.

aku melihat langit malam ini, mataku terbuka namun seperti terpejam. gelap dengan taburan kelap-kelip titik cahaya di angkasa. pemandangan seperti ini nampak tidak asing.

asing.

ya. ada yang asing.

titik cahaya di angkasa, kau asing untukku. kita tak pernah saling bicara, tak pula saling menatap, tapi kau sepertinya selalu memperhatikanku dari jauh. sempat aku mendongakkan kepala ke arahmu, namun kau tak ada. tapi aku yakin kau ada di sana. memperhatikanku. dari jauh.

mungkin kau juga melakukan hal yang sama pada orang lain. membagi perhatian sama rata, tapi tak saling tahu. agar setiap mereka merasa menjadi satu-satunya yang kau perhatikan. membuat setiap mereka merasa spesial. yang utama.

kupikir kau jahat melakukan itu.

kupikir lagi itu urusanmu.

kupikir lagi untuk apa merasa spesial? jika semua orang di dunia ini spesial, lalu apa gunanya menjadi spesial? itu sama saja. tidak ada yang istimewa dari itu.

kembali kuperhatikan titik-titik cahaya di angkasa. apakah mereka saling bicara? apa yang mereka bicarakan? tentang makhluk di bumi? atau malah membicarakan sesama titik cahaya yang lain? seperti ada sekumpulan titik yang membicarakan sebuah titik yang jauh jaraknya, menyendiri, dan mendekat pada bulan.

bumi, bulan, bintang, serta langit yang menghampar luas. bercerita tentang sajak rindu yang tak tersampaikan. langit mengetahui tapi tak sekalipun tercetus apa-apa darinya. bumi dan bulan tetap sebagaimana harusnya. meski kadang bulan enggan menemui. kadang hanya mengintip sedikit. kadang dengan anggunnya seolah berkata akulah yang paling indah, bercahaya, menerangimu.

lain waktu bumi ditemani puluhan, ratusan, hingga ribuan bintang. berpendar cahaya di hamparan langit yang masih tetap diam saja, tersenyum kecil melihat kelakuan bumi. bintang membuat bumi merasa istimewa karena dikelilingi cahaya terang berbagai rupa, bumi merasa diakui, bumi merasa penting, bumi merasa dicintai. oleh banyak bintang.

langit masih tetap tak bicara. melihat bumi, bulan, dan bintang saling berbagi peran.

langit menoleh pada sesosok cahaya besar, tersenyum usil, seraya berkata: “matahari, sudahlah. jangan kau terus permainkan mereka.”

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s