22 Desember

​untuk doa yang menggantung di langit, tolong sampaikan rinduku sekalian padanya.

sampaikan aku rindu semua perbuatannya di dapur, sampaikan aku rindu semua ocehannya setiap waktu. 

untuk harapan yang belum pernah diwujudkan, tolong beri aku isyarat untuk menunaikannya.

sempatkan aku untuk menjadi apa yang ia pernah sampaikan padaku, sempatkan aku untuk membuat keluargaku tidak kesusahan.

tadi pagi air mataku tak bisa kubendung, sepanjang perjalanan menuju tempat kerja tak henti hentinya aku menyeka mata. makanya aku telat datang tadi.

untuk kalian, bahagiakan beliau, muliakan beliau, hormati beliau. memang kadang sikapnya membuat kesal dirimu, ucapannya kadang menyakiti hatimu, pilihannya tak selalu sesuai maumu.

tapi percaya padaku, semua yang beliau lakukan semata-mata hanya untuk membuatmu lebih baik. mungkin tidak semua, tapi yakinlah tidak ada yang beliau harapkan selain melihat kalian bahagia.

kuceritakan sesuatu. kalau saja hari itu aku menolak mengantarkannya potong rambut, aku pasti akan menyesal. 

kalau saja hari itu aku menolak diajak berkeliling mencari cemilan sore, aku pasti akan menyesal. 

dua hal terakhir yang sempat aku lakukan untuk sekadar membuat beliau tersenyum. sekadar membuat beliau lupa akan masalahnya.

ibuku bukan orang paling baik, ia masih suka melakukan perbuatan-perbuatan yang kupikir tidak sesuai norma yang berlaku, tapi aku tak peduli, aku sayang padanya. 

ibuku bukan orang paling pintar, banyak hal yang tidak beliau ketahui, bahkan cara memakai ponsel saja beliau tidak mahir. sekali dua kali aku belikan ponsel hanya berakhir pada setumpuk masakan di atas meja. saat kutanya ke mana ponsel yang kuberi, beliau dengan santai menjawab “ibu ga bisa makenya, mending dijual, uangnya buat bikin masakan.” aku hanya bisa tersenyum dan mencium pipinya. 

ibuku bukan orang paling kaya, tapi kalau kalian mengenalnya, beliau adalah orang yang paling royal yang pernah kalian kenal. beliau pernah membuat berbungkus-bungkus peyek untuk dijajakan ke tetangga-tetangga komplek rumah, namun saat pulang beliau hanya bercerita “tadi ibu kasih ke orang-orang, habis kasihan ga pada pernah makan peyek enak.” aku hanya bisa tersenyum dan mencium pipinya. 

ibuku bukan orang paling kuat, beliau banyak mengeluh soal kesehatannya, sempat beberapa kali beliau berkata tidak kuat, tidak sanggup, dan mulai meracau. aku hanya bisa memeluk dan berbisik di telinganya “ibu kuat, ibu masih bisa, aku masih mau dikelonin ibu.” lalu beliau bertahan, berangsur pulih, memberikan harapan pada keluarga kecilnya, membawa kembali kebahagiaan di rumah setelah berbulan-bulan kami kehilangan riuh celotehan beliau. 

tolong titip peluk untuk ibu kalian, tolong katakan kalian sayang padanya, tolong buat beliau bahagia, tolong jangan sakiti hatinya.

selagi kalian bisa. sebelum kalian hanya bisa mengiringkan doa untuknya, tanpa bisa mencium harum tubuhnya, tanpa mendengar omelannya, tanpa melihat senyum di bibirnya.

aku tidak akan mengucapkan hari ibu, yang bisa aku ucapkan adalah “Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”. 

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s