Belajar

aku belajar berjalan setelah aku lincah berlari dan belajar berbisik setelah aku lantang berteriak. aku sempat bercerita tentang pagi setelah malam badai sebelumnya. tentang debur ombak yang bergulung di telinga dan gemuruh petir yang menggelegar di kepala. tentang bagaimana sang menjangan enggan masuk ke hutan dan memilih untuk menunggu pakan datang di pinggir trotoar dengan potongan kardus sebagai alas duduknya. aku pernah bercerita tentang senja … Continue reading Belajar

Rintik

rintik hujan dan tetesan air yang merambat di jendela kamar menyadarkan mimpiku. sudah terlalu lama aku tertidur, kepalaku terasa berat. pantas saja, kulihat ada berbotol botol kosong alkohol berbagai jenis di tepi ranjangku. aku bergerak lunglai, mencoba memutar kembali apa yang terjadi sebelumnya. tapi semua samar, hanya memar di pelipis kananku yang terasa. sepertinya aku terbentur sesuatu. atau aku membenturkan kepalaku sendiri entah oleh sebab … Continue reading Rintik

Ombak dan Sekoci

kepingan itu masih tersimpan rupanya. terselip di antara berkas-berkas tak perlu yang sengaja kuletakkan di pojokan meja karena aku tak tahu, mungkin suatu saat aku memerlukannya. aku hanya ingin merapikan mejaku yang berantakan, yang tak pernah luput dari lembaran catatan-catatan kecil, coretan-coretan tak penting, ide-ide yang tak pernah dilaksanakan, serta ceracau-ceracau yang tertangkap pena. aku hanya ingin mencoba memilah mana yang aku perlu. mana yang … Continue reading Ombak dan Sekoci