28/365

segelas hujan di penghujung hari. kita duduk berdua saja di temaram beranda sore yang sendu. kamu baru saja meletakkan buku dan kaca matamu. kopi panas yang baru saja kuseduh masih mengepulkan asapnya. kamu selalu serius dengan bukumu, dan aku selalu serius menatap wajahmu. kita duduk berdua saja. hujan baru saja reda, tidak berisik, hanya rintik sedari tadi. dan hening dengan tenangnya berbisik menemani pertemuan kita. … Continue reading 28/365

26/365

kemarin baru saja aku membayangkan bagaimana rasanya kehilangan kamu. tuhan dengan cepat mengabulkannya. ketika apa yang kamu pikirkan tiba-tiba menjadi nyata, apalagi itu menyangkut hal yang kurang baik, kupikir memang benar tuhan maha bercanda. ingat mimpi-mimpi yang tak terwujud? ingat rencana yang sudah dirancang dengan baik? ingat bagaimana semua hal indah sudah dibayangkan? itu semua tidak pernah terjadi. karena sebaik-baiknya rencana a, b, c atau … Continue reading 26/365

25/365

disclaimer: tulisan ini dibuat dalam kondisi ga ada sumber apa-apa. sekenanya yang ada di kepala aja. ———————————————————– jadi kan ceritanya ga boleh nih ya kita ikut campur sama urusan orang lain. apalagi urusan itu ga ada sangkutannya sama kita. selama hak kita ga dilanggar, ga boleh dong kita ngelanggar hak orang lain. tapi batasan hak pribadi itu di mana sih emang? garisnya tipis banget kayanya. … Continue reading 25/365

24/365

aku di sini, terbaring di atas satu-satunya mimpi yang kupunya. mimpi untuk bisa kembali berjalan di antara harapan yang usang. harapan yang tertinggal jauh di belakang. aku di sini, mencoba membangun jembatan di antara dua sisi tebing yang curam dan terjal. mencoba mengukuhkan diri sebagai seorang yang mampu membawamu ke sana. dengan tenagaku yang entah seberapa kuat lagi bisa bertahan, semampuku menjalin sulur rambat yang … Continue reading 24/365