Mengenang Kekasih

bagaimana caramu mengenang kekasih?   dengan arsip percakapan yang tersimpan apik dalam gawai canggih yang apik merunut dari awal hingga akhir segala kalimatmu itu?   lewat karcis bioskop, tiket tempat wisata, struk belanja di toko swalayan, atau lewat secarik pesan yang ditinggalkan di atas meja sebelum ia pergi menghilang?   haruskah ingatan menggenapi segala rindu yang menggenangi setiap jengkal isi otak tanpa pernah lelah membayangi … Continue reading Mengenang Kekasih

Merepotkan

kenapa kita senang sekali direpotkan oleh hal-hal remeh seperti rindu, senja, kopi, langit jingga, lagu sendu, gerimis sore, jalan setapak, pelukan malam hari, percakapan sebelum tidur, janji yang berulang, sarapan menjelang kerja, pesan tak berbalas, surat cinta dalam dompet, catatan kecil di kulkas, kecupan dahi ketika pamit, genggaman tangan saat menyeberang, tatapan mata tanpa bicara, obrolan kecil waktu makan, dan lain-lain dan sebagainya.   repot … Continue reading Merepotkan

Pelan-pelan

keras kepalamu tidak ada apa-apanya dibanding kerasnya rinduku yang membatu. biar digempur satu batalion pasukan komando khusus pun tetap bergeming di situ.   kencang kamu berlari tidak ada apa-apanya dibanding kencangnya aku mengejar. sengaja satu langkah di belakang agar kamu tidak risi kalau kita sejajar.   lari, lari, kamu menjauh. diam, diam, nanti aku berhenti mengejar.   lalu, lalu, kamu menoleh. pelan, pelan, nanti aku … Continue reading Pelan-pelan