Bangkok: Day 4

Tulisan ini dibuat di bangku kamar kosan sambil bertelanjang dada, celana kolor, ditemani sebungkus Dji Sam Soe kretek, susu putih, dan ciki rasa gurita. Cukup menggambarkan kesendirian saya bukan?

 

Tentu saja tulisan ini dibuat untuk mengisi kekosongan waktu. Meskipun sesungguhnya waktu luang tersebut seharusnya bisa saya isi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat seperti tidak melakukan apa-apa. Tapi, saya harus konsisten mengisi blog ini setiap hari, sesuai dengan janji saya di awal tahun.

 

Tidak terasa sudah 80 hari lewat dari 1 januari 2018. Berarti sudah ada 80 catatan yang saya buat di tahun ini, masih banyak hari yang harus saya lewati. Dan tidak terasa juga saya saat ini sudah ada di Negara orang. Bukan di Negara sendiri.

 

Ya, saya mencoba merantau. Sekali-kalinya pergi jauh cukup lama, saya malah langsung ada di Thailand. Tepatnya di Bangkok. Lebih tepatnya di distrik Khlong Toei. Persisnya ada di jalan On Nut. Ya, kira-kira di situ lah saya tinggal untuk kurang lebih 3 minggu ke depan. Nanti saya pulang lagi, tapi untuk kembali lagi ke sini selama (rencananya) 6 bulan. Bisa dibilang perjalanan kali ini hitungannya uji coba dulu. Betah atau tidak. Kalau betah, ya lanjut. Kalau tidak, ya tetap harus lanjut. Namanya juga pekerjaan.

 

Oiya, setelah 4 hari di sini, tidak banyak hal yang saya rasakan berbeda dengan Jakarta. Ya, ada lah satu dua yang berbeda. Terutama Bahasa. Di sini saya susah ngobrol sama orang baru, rata-rata mereka tidak berbicara Bahasa inggris. Dan saya juga belum tahu bagaimana caranya berbahasa Thailand. Ada sih beberapa rekan kantor yang mengajarkan satu dua kalimat singkat. Tapi ya gitu, sampai di kosan sudah lupa lagi.

 

Tapi saya sudah hafal angka 1 sampai 10 dalam Bahasa Thailand. Dan seperti Bahasa china, Bahasa Thailand juga punya perbedaan nada dalam penggunaan struktur katanya. Kalau di Bahasa china ada 4 nada, di Thailand ada 5. Nah, lho, makin bingung belajarnya. Jangankan nada, penggunaan huruf K dan Kh saja saya masih belepotan.

 

Misalnya “Kao” untuk sembilan. Kalau salah nada, artinya bisa jadi “Nasi”, “Warna”, atau satu lagi saya lupa. Begitu lah kira-kira.

 

Saya harus lebih sering lagi belajar Bahasa Thailand. Ya, masa setiap hari saya harus beli makanan di supermarket terus sih yang sudah ketahuan harganya berapa, tinggal bayar ke kasir, hitung, kasih uang, lalu pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Padahal sebagai orang Indonesia yang hobi sekali basa-basi, ngobrol itu perlu. Biar akrab.

 

Ya sudahlah, nanti saya update lagi kehidupan di Thailand versi saya seperti apa. Sampai sekarang kerjaan saya cuma pergi dari kosan ke kantor naik ojek, lalu pulang jalan kaki sambil lihat-lihat situasi sekitar. Oiya, jalan kaki di sini enak. Trotoarnya lega, jalan pun jadi nyaman. Dan saya lebih memilih untuk jalan malam hari, karena selain lebih santai (ga diburu waktu absen) udaranya pun lebih enak (adem maksudnya). Tapi ya namanya juga bergerak, tetap saja keringetan.

 

Dan untuk teman-teman saya yang berpesan untuk hati-hati, jangan tertipu wanitanya, dicek dulu onderdilnya, orisinil atau tidak. Hahaha kalian pikir saya jauh-jauh ke Thailand untuk nyari perempuan? Saya nyari uang! 😀

 

(81/365)

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s