21/365

yang sulit adalah bagaimana mempertahankan hal yang telah berjalan. yang mudah adalah memutusnya di tengah jalan. dan yang lebih rumit dari mempertahankan adalah memulai. terutama memulai sesuatu yang pernah dibangun dan runtuh entah apapun sebabnya. silakan berkaca pada peradaban. dan bagaimana membangun sebuah kenyamanan? apakah dengan saling bicara? bukankah terkadang diam adalah percakapan paling liar dan luas. ah, kalau memang nyatanya tak pernah bisa nyaman. … Continue reading 21/365

20/365

ada kala tangan kita berpagut di dua arah yang berlawanan sedangkan isi kepala sama-sama di tempat yang sama. ketika abu dan sendu berjibaku dengan selendang halusinasi hingga merapatkan sisi punggung yang bersandar rebah tanpa perlawanan. redup hingga mengatup sampai kemudian ada hawa yang meletup liar dari hamparan kuncup kembang yang tak kunjung mekar. aku sudah diperingatkan untuk sesegera mungkin bergegas dan berkemas. aku telah secara … Continue reading 20/365

19/365

ia mengintip dari sela-sela pintu kamar. datang bersama dengan embusan dingin yang membangunkan bulu kudukku. di bawah selimut tebal pun aku masih menggigil. tatapannya terlalu tajam dan intimidatif untuk sekadar dikonfrontasi. rasanya seperti ditegur oleh sekian puluh aparat keamanan saat kamu melakukan kesalahan. tidak pernah tanganku sedingin ini. keringat mulai mengalir dari ujung dahi. debar jantung dan ritme nadi yang tak berirama. napas yang tersengal … Continue reading 19/365

17/365

[EMPAT]   Kamu mulai menunduk dan memegangi gelas dengan kedua tanganmu. Erat sekali. Lalu selepas itu kamu palingkan pandanganmu ke luar jendela. Jelas ada ragu di situ. Entah apa. Aku tidak bisa menerka apapun. Kamu tahu aku tidak pernah pintar menebak kode.   “Sebelumnya aku mau minta maaf ke kamu.” Katamu tiba-tiba. Masih menundukkan pandanganmu ke arah gelas. Air mukamu berubah.   “Eh, kenapa? Kok … Continue reading 17/365