Category: project

  • Mengisi Lemari Dapur

    Mengisi Lemari Dapur

    satu kegiatan yang paling aku suka selain beberes rumah adalah berbelanja bulanan mengisi lemari dapur.

    entahlah, rasanya memiliki tanggung jawab sebagai pemilik rumah dan memastikan keluargaku tidak kekurangan apapun adalah salah satu bentuk tugasku sebagai orang dewasa. merepotkan memang, tapi siapa kira hidup dewasa serumit ini.

    dulu aku pikir ketika sudah punya kartu tanda penduduk sendiri, sudah dilihat sebagai orang dewasa, hidup akan lebih menyenangkan karena semua hal ada di tanganku sendiri. ya, memang. rata-rata semua keputusan dalam hidup ini kuambil sendiri. tapi siapa kira tanggung jawab yang mengikutinya kian besar dan melebar.

    mana terpikir kalau akan melalui yang namanya quarter life crisis, masa di mana setiap individu akan merasa kalau beban hidupnya adalah yang paling besar di alam semesta ini. masa di mana tekanan lingkungan mulai terasa kian kuat. masa di mana ambisi dan semanga akan semakin berkobar, atau bahkan lamat-lamat meredup.

    bagaimana denganku? bagaimana krisis seperempat hidupku? ah, aku pikir tidak bijak untuk membanding-bandingkan masalah satu dengan lainnya. setiap orang punya masalahnya sendiri, semua orang punya ambisinya sendiri, dan semua orang punya kapasitasnya sendiri.

    hiduplah. tetap hidup. tetap berusaha mencukupi diri. buat dirimu senang. jangan pedulikan kata orang.

    #30haribercerita #14

  • Rambut Ini Mengkhawatirkan

    Rambut Ini Mengkhawatirkan

    beberapa kekhawatiran lelaki adalah menipisnya rambut dan membuncitnya perut. aku sudah mulai mengalami keduanya. sebetulnya kalau soal menipisnya rambut, pembenaranku adalah karena keturunan. dari bapakku yang saat kulihat rambutnya mulai menipis, aku sontak berkata dalam hati, aku harus bersiap-siap.

    atau setidaknya saat aku melihat foto masa kecilku, rambutku memang tidak pernah lebat. jadi sebetulnya aku tidak perlu terlalu khawatir, sih.

    mari kita lewatkan pembahasan mengenai buncitnya perut karena sepertinya itu tidak perlu. toh sebagai seorang pemalas kelas berat, sudah sewajarnya apabila pergerakan lemak di daerah situ tidak ada perkembangan yang berarti. terus menumpuk tanpa ampun.

    kembali berbicara soal rambut, aku sadar kalau rambutku tidak bisa dibilang sebagai mahkota seperti layaknya perempuan mengidentifikasikan rambutnya. maka dari itu beberapa tahun belakangan aku sering sekali bereksperimen dengan rambut, karena aku tahu suatu saat nanti aku tidak akan peduli lagi dengan itu.

    rambutku pernah panjang melewati bahu. tapi seringkali pendek. sepanjang ingatan dari kumpulan foto simpanan google photos, rambutku pernah berwarna kuning, coklat (karena gagal bleaching), merah, biru, hijau, pink, dan ungu.

    pernah mohawk, sempat gimbal, belum coba cornrow, dan belum pernah pakai wig.

    aku masih iri melihat teman-teman laki-laki yang masih memelihara rambut panjangnya. bersyukurlah kalian. jaga terus jangan sampai abrasi sepertiku.

    #30haribercerita #13

  • Hari Raya

    Hari Raya

    ah, hari raya. hari di mana semua berkumpul bersama keluarganya. hari perayaan kemenangan. hari istimewa. hari penting. katanya.

    aku sendiri tidak pernah punya romantisasi apapun terhadap sebuah perayaan. apapun itu. aku selalu merasa sebuah hari harus dihadapi selayaknya hari biasa saja. karena akan selalu ada kejadian di dalam hari tersebut. yang membuatnya menjadi istimewa adalah setelah hari itu dilalui. sebelumnya, tidak ada yang perlu dirayakan.

    ini lebaran pertama yang aku lalui tanpa kehadiran orangtua. bagaimana rasanya? sepi. tapi sebelum-sebelumnya juga tidak pernah ramai. jadi aku tidak merasa ada yang berbeda.

    tapi sedih. tentu saja.

    tidak apa-apa.

    #30haribercerita #12

  • Tentang Kesehatan

    Tentang Kesehatan

    aku punya masalah kesehatan. tidak terlalu berat tapi cukup merepotkan.

    paru-paruku sudah tidak berfungsi sempurna selayaknya manusia pada umumnya. aku tidak bangga karena hal ini. siapa juga yang mau selalu kewalahan saat bernapas dan sering hampir mati karena tidak mampu menguasai oksigen yang keluar-masuk tubuh?

    diagnosa ini hadir kurang lebih lima atau enam tahun lalu. awalnya aku menganggap masalah ini sebagai masalah kecil, namun ada masa di mana keadaan semakin memburuk dan kian mengganggu aktivitas. setelah mengunjungi klinik dan menjalani berbagai tes, maka aku perlu menjalani berbulan-bulan terapi dan konsumsi obat-obatan yang tidak boleh putus barang sehari pun.

    tapi itu hanya bertahan beberapa bulan saja. dari sembilan bulan target terapi, aku hanya rutin mengikuti selama tiga bulan pertama saja. awalnya aku muak dengan harus selalu mengonsumsi obat-obatan dan harus selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang. lama-kelamaan aku berpikir apabila memang harus berakhir, maka berakhirlah.

    maka aku putuskan untuk tidak menjalani terapi apapun itu dan berhenti mengonsumsi obat-obatan yang cukup keras itu.

    hasilnya? tentu saja aku masih mempunyai paru-paru yang rusak sampai saat ini. banyak hal yang tidak bisa aku lakukan seperti berolahraga terlalu keras, melakukan aktivitas fisik yang terlalu menguras napas. bahkan untuk naik ke lantai tidak kamar kosku saja aku kewalahan.

    tapi, aku tetap bersandar pada keyakinanku bahwa apa yang akan terjadi nanti, terjadilah.

    selayaknya semesta yang berjalan sebagaimana mestinya, kupikir hidupku juga harus begitu.

    #30haribercerita #11

  • (un)organized

    (un)organized

    saat sedang bekerja, mejaku tidak pernah dalam kondisi rapi. mungkin pernah sesekali, tapi itu tidak bertahan lama. biasanya aku rapikan sebelum pulang atau setelah pekerjaan berakhir. karena aku mau saat mulai bekerja besoknya, kondisinya lebih menyenangkan.

    aku tidak akan banyak bercerita soal meja kerjaku, karena apa yang menarik justru ada di luar itu.

    aku bersyukur dalam setiap lingkungan pekerjaan, aku selalu menemui pribadi-pribadi menarik dan menyenangkan. mereka yang menjaga kondisi bekerja tetap baik-baik saja. tidak semua orang akan sepakat denganmu, begitu pula dengan orang-orang yang kutemui. tidak semua punya frekuensi yang sama denganku.

    bagaimana caraku mengatasi ketimpangan frekuensi itu? tentu saja dengan komunikasi. ngobrol itu perlu, saling bicara untuk tahu satu sama lain itu penting. tapi sialnya, untuk saat ini aku sedang egois, kalau kita tidak punya frekuensi yang sama, lebih baik kita tidak saling bicara.

    #30haribercerita #10