RE(LIE)VE
(52/365) Continue reading RE(LIE)VE
(52/365) Continue reading RE(LIE)VE
ahahaha. jangan pernah jadi dewasa, orang dewasa itu menyebalkan. kita selalu dituntut untuk jadi dewasa, itu bukan pilihan, itu paksaan. mungkin untuk sebagian orang itu adalah pilihan. tapi disaat kita dituntut untuk menjadi dewasa, itu adalah sebuah paksaan, keadaan yang memaksa kita untuk berubah menjadi dewasa, berpikiran dewasa, bertindak dewasa, atau bahkan berpenampilan layaknya seorang dewasa. apakah itu penting? ya… ya… … Continue reading Jangan Pernah Dewasa
akulah kuilmu. arca yang kau tumpuk di atas puing-puing risau tak berkesudahan. akulah altarmu. nisan yang berulang kali kau remukkan dan tak usai kau hiraukan. akulah kitabmu. lembar-lembar kalam yang tak pernah selesai kau tamatkan. akulah jubahmu. yang kau kenakan sambil menari enggan dalam kemenangan. akulah sunyi yang menghentak riuh di tengah kabut malam penuh deras air hujan. akulah kesia-siaan paling jelas dari tiap-tiap jengkal … Continue reading Akulah
Kuberi tahu sesuatu. Beberapa tulisanku. Bukan untukmu. Tapi karenamu. Ada kata-kata yang kupahat di satu batu besar yang dingin dan abu-abu. Yang kering karena kemarau terlalu bersemangat mengajak matahari bermain-main. Ada beberapa lamunan yang terlintas beberapa waktu. Hanya karena aku memikirkanmu. Ada memar-memar kecil di sudut hatiku. Semua karenamu. (49/365) Continue reading Karenamu
bagaimana caramu menyayangi seseorang? mungkin jawabannya adalah dengan cara bagaimana kamu ingin disayangi. pak sapardi bilang ingin mencintai dengan sederhana. tapi cara yang sederhana itu adalah cara mencintai yang paling tidak sederhana. ada kerumitan di balik kesederhanaannya. mungkin sapaan pagi sederhana. tapi tidak bagi ia yang bahkan menatap mata pun gemetar. mungkin ajakan makan siang sederhana. tapi tidak bagi ia yang bahkan untuk sarapan saja … Continue reading #SabtuMenulisKebaikan : Kesayangan