Jingga

  gemericik hujan ringan di penghujung hari, diiringi dengan temaram awan gelap yang bergelayut di udara. mengingatkan tentang bagaimana sebuah hari semestinya diakhiri.   tidak ada aroma petrichor setelah hujan, karena sudah tidak ada lagi tanah di sekeliling. semua berganti beton, pasir, debu, dan plastik yang bergelimpangan di jalan.   tidak ada anak kecil berlarian menerobos becekan tanpa alas kaki, dengan baju basah kuyup dan … Continue reading Jingga

Merah

matahari dengan penuh semangat menusuk kulit dengan sinarnya. pelan-pelan ia susuri jalan setapak menuju rumah yang ia tinggalkan berpuluh purnama lamanya. ada romantika dalam setiap langkah kaki yang menyeret berat, seolah di kedua pundaknya berdiri tegak masalah yang tak kunjung hilang.   ia tidak ingin pulang, tapi ia juga tidak ingin hilang.   matahari masih dengan pijaran panasnya, tanpa peduli awan-awan kecil berlarian mengelilingi setiap … Continue reading Merah

Sebuah Percakapan (05)

3: “woooy, udeh lama nih ga ngobrol. sebatang dulu, lah.”   2: *menyodorkan bungkus rokok dengan malas-malasan*   3: “kenapa, lo? lecek amat.”   2: “gapapa.”   3: “gipipi” *dengan gestur meledek*   2: “tai lo.”   3: “hahaha, ya lagian. lo kesel sendiri. sukurin.”   2: “diem, deh. lo kaya ga ngerti aja.”   3: “ustru karena gue ngerti banget. makanya gue begini.”   … Continue reading Sebuah Percakapan (05)