Aku

aku mencintai ia yang tidak mencintaiku. aku menepis ia yang mencintaiku. dan aku menghamba pada keinginan yang sama sekali tidak bisa aku wujudkan.   aku mencintai patah hati. aku mencintai setiap perih yang hadir dari penolakan dan kalimat pedih lainnya. aku mencintai ia yang tidak menganggapku ada.   aku mencintai ia yang tidak mencintaiku. aku menikmati mulut yang berkata tidak pada apa yang aku pinta. … Continue reading Aku

Dihajar Rindu

sekeras apapun ia mencoba menghindar, pukulan dan tendangan tak bisa ia elakkan. rahangnya mulai goyah, badannya mulai payah, lulutnya mulai lemah, dan wajahnya sudah penuh darah. napasnya tak beraturan, tersengal-sengal dengan tarikan pendek di setiap hirupannya. paru-parunya sudah tak lagi mampu menampung debu yang terhirup bersama bau anyir yang menyesakkan. jantungnya sudah melemah, denyut nadinya lambat laun memudar, pandangan matanya makin kabur, telinganya berdenging, dan … Continue reading Dihajar Rindu

Sebuah Percakapan (06)

“cuy, susah banget ini.” “ngeluh mulu, lu.” “bukan gituuu.” “gini, gini. gua kasih tau. lu itu kaya gini udah berapa lama, sih? jangan kaya anak baru gitu, lah. kemaren-kemaren juga biasa aja. kenapa sekarang ngeluh.” “ga ngeluuuh.” “terus apa namanya?” “ya pengen ngomong capek aja.” “istirahat kalo capek, ga usah kebanyakan ngomong. lu pikir ngomong doang bisa nyelesaiin masalah?” “ehehe.” “cengengesan aja, lu.” “eh, tapi. … Continue reading Sebuah Percakapan (06)

Sudahlah

ada baiknya keinginanmu yang tak seberapa itu diredam dulu mengingat beberapa kali kamu sendiri selalu kecewa dengan hasil yang didapatkan. tahan saja dulu. tahan, tahan, tahan, sampai lama-lama hilang. tapi kalau makin kuat? ya tidak apa-apa, berarti kamu harus menahan lebih lama lagi.   lagi pula bukannya kamu lebih senang seperti ini ya? memelihara perasaan tak berbalas. karena jika berbalas pun kamu bingung sendiri. apa … Continue reading Sudahlah