Menapaki Seperti Api

Screen-Shot-2018-08-06-at-00.47.52

29 Juli 2018. Akhirnya setelah enam tahun menunggu, Seringai mengeluarkan karya terbarunya. Sebagai seorang penggemar, izinkan Saya memberi sedikit pendapat tentang lagu-lagu yang ada di album ini. Semua adalah opini pribadi, kalian berhak tidak sepakat.


 

HIDEJOKASURU

Satu intro bernuansa doom metal, gloomy, yang dimulai dari sampling industrial yang diisi oleh Hendra Jaya Putra (RNRM). Diikuti chord lepas dengan distorsi kasar ala Sunn O))) dan diisi petikan melodius black metal. Bayangkan berjalan perlahan dengan api panas yang berkobar di kiri-kanan, mengiringimu masuk ke gerbang neraka.

 

SELAMANYA

Dari ayunan gitar pertama, kita bisa tahu ini adalah Seringai. Riff anthemic, suara gitar, bas, dan drum yang saling mengisi sebelum Arian berteriak “SELAMANYA!”. Lagu yang sepertinya akan menjadi lagu pembuka di panggung-panggung Seringai ke depan.

Chorus yang bisa dinyanyikan bersama adalah nilai plus dari sebuah band rock. Siapa yang tidak suka mengepalkan tangan, merapalkan lirik, dan bergerak liar di tengah mosh pit sebuah pertunjukan musik. Seringai mengakomodir itu semua dengan baik di lagu ini.

 

ADRENALIN MERUSUH

Suara gitar di awal yang familiar, terdengar seperti awal lagu “Psikedelia Disko Doom” di album Serigala Militia. Tapi tidak, bola disko kemudian digerus oleh beat drum dan raungan gitar ala Motorhead. Ini adalah sebuah track braggadocio dari band rock dengan punchline “AKU TIDAK PUNYA KELUHAN, HIDUPKU SEOLAH LIBURAN!”.

Di tengah lagu, tempo melambat, tapi jangan lengah, ini adalah jebakan. Karena setelah tempo menurun dan kalian merasa ini sudah waktunya selesai karena keasyikan meneriakkan lirik “HEY! JALUR INI KUTEMPUH! HEY! ADRENALIN MERUSUH!” kemudian berondongan double kick drum yang intens akan menghajar telingamu yang tidak siap.

Mungkin hanya Saya, tapi di akhir lagu, ada jeda sebelum ayunan gitar terakhir, yang membuat Saya dengan refleks berteriak “PERSETAN DENGAN MEREKA!”. Ya, potongan lirik terakhir dari “Lagu Lama” di album Serigala Militia. Cukup mirip, 😀

 

PERSETAN

Sebuah lagu yang cocok diputar saat pengarahan sebelum memulai demonstrasi. Salah satu lagu dengan tema politik yang banyak tersebar di album ini.

Ricky memulai dengan riff yang cukup sederhana. Arian langsung memanaskan barisan dengan rentetan lirik tepat sasaran. Saya suka isian gitar di bagian bridge menuju chorus sebelum dihajar dengan breakdown yang kembali secara refleks saya berteriak “TU WA GA PAT!” ala “Atur Aku” Puppen di bagian drum yang kosong hanya dengan feedback gitar.

Chorus terakhir adalah saatnya bersenang-senang. Seringai tahu persis kapan waktunya memberi kesempatan untuk Serigala Militianya mengacungkan kepalan dan menganggukkan kepala di akhir lagu. 30 detik cukup untuk berkeringat sambil berteriak “PERSETAN! PERSETAN!”

 

ENAMLIMA

Lagu peringatan untuk sebuah tragedi besar yang pernah terjadi di Indonesia. Seringai membawa aura rock 80-an di sepanjang lagu ini. Aransemen megah dengan tempo sedang, membuat leher tidak cepat pegal saat headbang. Bayangkan lagu ini dimainkan di dalam stadion sepakbola, dengan penonton yang ikut menyenandungkan bagian chorus. Bulu kuduk merinding dan mata berkaca-kaca adalah lumrah.

Manajer mereka, Wendi Putranto mengisi pidato singkat di ujung lagu, sebelum ditutup dengan riff ala intro “Rather Be Dead” Refused dan raungan gitar yang lamat-lamat meredup.

 

DISINFORMASI

Kalau Saya boleh usul, bagi siapapun yang belum pernah dengar lagu-lagu Seringai dan bertanya musik mereka seperti apa, suruh dengarkan lagu ini. Menurut Saya ini adalah paket lengkap dari semua aransemen Seringai.

Dari bagian tempo lambat, sampai ngebut. Dari aransemen sederhana hingga yang cukup progresif. Semua ada di lagu ini. Tapi Saya bisa saja salah, dan kalian boleh saja tidak setuju. Tapi bagian di ujung lagu ini, Seringai banget! 😀

 

SETERU MEMBINASA

Saya pikir ini lagu “Infiltrasi”, tapi ternyata hanya mirip saja intronya. Dengan lirik yang membahas tentang perdebatan-perdebatan yang marak terjadi entah di dunia maya maupun dunia nyata yang hanya memperkeruh keadaan saja. Lagi-lagi lagu protes yang dikemas dengan cukup baik.

Track intens dengan solo gitar terpanjang yang ada di album ini. Saya sudah membayangkan akan kelelahan berada di tengah mosh pit saat lagu ini dimainkan.

Bagian favorit saya adalah suara gitar yang bernuansa Kvelertak-ish di ujung lagu. Penutup yang menyenangkan!

 

A.I

Meneruskan tema di album sebelumnya, ada lagu tentang teknologi/fiksi ilmiah juga di album ini. Membahas tentang kecerdasan buatan, wanti-wanti akan kebangkitan Skynet di era modern ini.

Saya agak kurang suka dengan nada bernyanyi Arian di verse lagu ini, selera pribadi saja mungkin. Bukan track terbaik di album ini menurut Saya.

 

ISHTARKULT

Setelah Marijuanaut dan Gaza, lagu bernuansa psikedelik muncul lagi di album Seperti Api. Dengan bantuan suara sendu dari Danilla, membuktikan bahwa lagu tentang seks tidak harus dimainkan dengan saxophone atau dentingan piano mendayu-dayu. Distorsi dan tempo yang cocok juga bisa dijadikan soundtrack foreplay yang baik.

Tadi Saya bilang Seteru Membinasa punya solo gitar terpanjang di album ini ya? Di sini lebih panjang rupanya. Ya, kalian coba hitung sendiri, mana yang lebih panjang?

 

SEKARANG ATAU NANTI

“KEBENCIANMU HARUS MATI!”

Lagu ini untuk kalian para rasis, fasis, dan bigot-bigot yang selalu merasa holier than thou.

Track lugas, tanpa basa-basi. Musik yang selaras dengan liriknya. Marah-marah dengan elegan. Menggerutu tapi sekaligus memberi solusi. Berapa banyak lirik protes yang pernah kalian dengar selama ini? Berapa banyak yang hanya mengkritik? Berapa banyak yang berisi pemecahan masalah?

Seringai mengemukakan kritik, mengeluarkan opini, menjabarkan masalah, dan memberikan saran dengan serentak.

Top Notch!

 

BEBAL

Di album-album sebelumnya, Seringai selalu memberikan narasi untuk setiap lagunya. Di album ini tidak. Antara lupa diketik, atau mereka ingin membebaskan para pendengarnya mengambil kesimpulan atas lirik-liriknya.

“AH, ANJING!”. Keluhan di awal lagu sudah menandakan kalau lagu ini lagi-lagi adalah lagu marah-marah. Saya suka suara bas Sammy di lagu ini, rapat dan pada tempatnya.

Paduan suara neraka melakukan tugasnya dengan baik di ujung lagu, meskipun terdengar malas-malasan, tapi mungkin itu memang sudah dikonsepkan.

 

OMONG KOSONG

Nomor terpendek di album ini apabila dikurangi dengan dialog-dialog yang menyertai lagunya. Sebuah penutup yang apik. Cara untuk menghadapi mereka banyak cakap adalah dengan memberikan mereka lagu ini.

Bagian terbaik: “Tahun ini gua akan hidup sehat, olah rag (OMONG KOSONG!!)”

Nyindir semua orang, ehehe.

 


 

Intinya adalah, Seringai adalah band yang tahu cara bersenang-senang. Terima kasih atas karyanya! Sampai bertemu di circle pit!

 

(216/365)

 

 

 

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s