Mau Coba Genggam Tanganku?

nyalakan lampu genggammu, dunia dimulai pada tengah malam.   bisakah kamu melihatnya dengan jelas? ketakutan, harapan di dalam diri. nanti akan ada cahaya yang memandumu pulang, fajar akan memberimu rintik hujan.   aku bisa melihatnya dengan jelas. air mata yang tertahan dan tangis yang tercekat. apakah kamu mencari tempat berteduh di tengah badai ringan ini?   kamu terlihat lelah. mau coba genggam tanganku?   (212/365) … Continue reading Mau Coba Genggam Tanganku?

23:38

aku ingin menemanimu tidak melakukan apa-apa, berdua. hanya duduk bersebelahan, saling memandang gemerlap lampu ibukota yang semakin semakin malam cahayanya semakin berkilau.   di bangku kosong dengan berbekal dua gelas kopi instan yang kita beli dari bapak penjaja bersepeda dengan dua termos besar dan puluhan bungkus plastik di keranjangnya. jakarta malam itu tidak terlalu dingin, sehingga minuman panas tidak menjadi keharusan, bisa saja kita memesan … Continue reading 23:38

Hutang dan Target

beres juga.   yang paling berat dari janji adalah bagaimana menepati. yang paling berat dari berhutang adalah melunasi. yang paling berat dari menunggu adalah kehilangan.   pulang ke jakarta bikin saya jadi agak keteteran menulis setiap hari. hasilnya? selama dua minggu, nyaris tidak pernah saya menulis, hanya sekali kalau tidak salah. itu pun saya tulis sampai ketiduran. antara idenya hilang di jalan, sampai rumah sudah … Continue reading Hutang dan Target

Abu

  di antara baik dan buruk. di antara cinta dan benci. di antara hitam dan putih. di antara optimisme dan pesimisme. di antara hidup dan mati. di antara kiri dan kanan. di antara mereka dan kalian. di antara jarak dan waktu. di antara rasa dan logika. di antara akal dan nafsu. di antara bahagia dan kecewa. di antara sunyi dan riuh. di antara api dan … Continue reading Abu