Mati Saja
dihajar bertubi-tubi aku masih kuat. dipukul berkali-kali aku masih tegak. dihantam gada berulang kali juga masih siap. tapi dipandangi rindu, aku mau mati saja. (361/365) Continue reading Mati Saja
dihajar bertubi-tubi aku masih kuat. dipukul berkali-kali aku masih tegak. dihantam gada berulang kali juga masih siap. tapi dipandangi rindu, aku mau mati saja. (361/365) Continue reading Mati Saja
aku tak akan bisa mengenali rindumu. matamu menyimpannya. lidahmu memendamnya. tapi. kamu selalu bisa mengenali rinduku. mataku menyampaikannya. lidahku membicarakannya. (360/365) Continue reading Kamu Selalu Tahu, Kamu Pasti Tahu.
kenapa harus berhenti berusaha? (sepertinya) bukan berhenti berusaha. tapi aku pikir untuk apa lagi? karena tanpa aku pun dia (sepertinya) sudah bahagia. karena semua yang aku lakukan (sepertinya) sia-sia. perjuanganku (sepertinya) tidak pernah dianggap ada. pengorbananku pun (sepertinya) hanya dianggap sebelah mata. kalau masih aku lanjutkan (sepertinya) hanya akan dipenuhi lara. karena setiap hal (sepertinya) ada batasnya. dan aku (sepertinya) harus tahu batasan untuk berhenti. … Continue reading (sepertinya)
setiap kali aku melihatmu, kamu selalu berkutat pada layar. laptopmu, ponselmu, tv, bahkan matamu terhalang layar kaca mata. tapi setiap aku mencoba menghubungimu lewat situ, kamu tidak pernah ada. sebenarnya kamu di mana? (352/365) Continue reading Kamu Di Mana?
akhir pekan ini aku cuma mau tidur-tiduran sambil memandangi kumpulan foto mbaknya yang aku simpan rapi di folder khusus di ponsel pintarku. harus aku sempat-sempatkan, karena hanya ini yang aku bisa. oh, aku juga punya jadwal kegiatan lain. baca-baca arsip pesan singkat dari mbaknya. kalau ini tidak perlu lama-lama. soalnya mbaknya memang jarang membalas pesanku. sudah jam satu, aku siap-siap dulu. (349/365) Continue reading Siap-siap Dulu