hari itu jatuh pada tanggal yang sudah aku beri tanda lingkaran merah sejak tiga puluh hari yang lalu.
kamu sudah bersiap sejak pagi, bahkan sebelum bunyi alarm pertama yang biasanya sangat mengganggumu. rambutmu sudah disisir rapi, bibirmu berkelir merah bata, dan wangi parfum favoritmu sudah menyatu dengan kulit.
hari ini kami akan bertemu. satu-satunya hari dalam sebulan di mana segalanya terasa benar.
kami memang tidak tinggal di dua kota yang berbeda, apalagi negara. tapi waktu, pekerjaan, dan rutinitas membentangkan jurang yang lebih lebar dari jarak kilometer dan hitungan menit. pekerjaan shift malamku di pabrik baja ringan, dan pekerjaanmu di salah satu toko dalam pusat perbelanjaan di siang hari, penuh kegiatan dan jadwal yang kurang manusiawi. dan setiap hari minggu terakhir di bulan itu adalah satu-satunya hari libur yang bisa kami sepakati: satu hari untuk jadi manusia yang saling mencintai, bukan cuma sekadar nama dalam layar ponsel saja.
ini adalah jadwal kegiatan kami hari ini yang sudah aku susun sejak minggu lalu:
08.00: jemput kamu (bawa helm dua)
09.00: sarapan (kalau sempat)
11.00: jalan kaki di taman kota (jangan lupa bawa kamera polaroid pinjaman dari Rudi)
13.00: nonton film di bioskop (biar dia yang pilih)
16.00: makan sore di warung padang dekat stasiun (kali ini boleh dua lauk)
18.00: duduk di atap gedung parkir, lihat langit senja (kalau tidak hujan)
20.00: mengantar kamu pulang.
namun dari awal, waktu tidak berpihak.
jam 07.30, motorku mogok.
aku coba mendorong ke bengkel terdekat, tapi semua masih tutup. terpaksa aku naik ojek online dengan helm yang sempit, tanganku memeluk kotak kecil berisi kejutan: buku puisi yang aku buat semalaman.
kamu sudah menunggu di depan rumah, berdiri sabar seperti patung hachiko, tapi matamu terlihat berkedip-kedip cemas.
“kamu telat 45 menit,” katanya singkat.
“maaf, motorku mogok. tapi lihat ini.” aku berikan senyum terbaik sambil mengangkat kotak berisi buku puisi. kamu mencoba membalas senyum itu, tapi matamu sudah terlanjur kecewa.
di kafe (ini agenda impromptu), pesanan kami datang salah. kopi susu favoritmu ternyata lebih menyerupai sirup karena terlalu manis. musik yang diputar bukan lagu tahun 2000-an, tapi remix jedag-jedug keras yang mengusir nostalgia. entah siapa music director hari itu, tapi ia layak untuk pindah tugas saja.
sampai di taman, ternyata baterai polaroid habis. kami akhirnya hanya duduk sambil mengomentari pasangan lain yang lewat, tapi kamu sepertinya kurang begitu tertarik ikut serta dalam kegiatan tersebut.
“harusnya kita bisa lebih bahagia dari mereka.” bisik kamu.
“maaf. aku pikir aku sudah mengatur semuanya dengan baik.”
“bukan salahmu. cuma… waktu cepat sekali hari ini.”
di bioskop, filmnya batal tayang karena gangguan listrik. kami keluar dengan tiket yang ditukar popcorn. lumayan.
di dekat warung masakan padang, hujan turun deras. kami terjebak di pinggir toko elektronik, kamu memeluk erat lenganku, tapi tanganku terlalu gemetar karena frustrasi sehingga tidak bisa merasakan hangatnya.
semua rencana yang sudah diatur rapi sekarang hancur sudah.
menjelang senja, kami duduk di bawah halte tua, bukan di atas gedung parkir. langitnya abu-abu, senjanya hanya pantulan samar di genangan air.
“maaf hari ini berantakan.” kataku lirih.
kamu menoleh. mataku sudah merah, tapi menahan air mata seperti pria yang tak mau terlihat lemah.
“yang berantakan bukan harinya,” jawabmu pelan. “yang berantakan adalah harapanku soal waktu.”
aku menatapnya.
“setiap tanggal 18, aku berharap waktu mau lebih lambat. tapi waktu tetap jahat. ia lewat begitu saja, tak peduli kita rindu setengah mati.”
kamu menggenggam tanganku erat.
“kalau begitu, lain kali aku akan minta waktu duduk sebentar. setidaknya sampai kita selesai berkata rindu dengan benar.”
kamu tersenyum kecil.
rencana kami memang hancur, tapi kenyataan tetap terasa hangat. bukan karena kekacauannya menyenangkan, tapi karena kami bisa ada sejenak di hari yang sama, dalam waktu yang sama, saling memilih satu sama lain, meski dunia terus berlari.
dan sebelum waktu pergi, kamu berkata lirih:
“lain kali… aku harap waktu bisa berjalan lebih lambat.”
