seorang perempuan duduk sendirian di bar. sepertinya ia baru pulang kerja dilihat dari pakaiannya yang cukup formal. entahlah, mungkin dia baru selesai menghadapi rapat yang cukup bikin penat. terlihat dari kepalanya yang menunduk di hadapan gelas kosong di depannya. seorang pria datang menghampirinya dengan tenang dari arah pintu masuk. pria itu melemparkan pandang ke arah bartender diiringi dengan anggukan kepala yang menandakan rasa hormat.
ia mengambil duduk persis di sebelah kiri sang perempuan. tidak memberi jarak satu bangku pun. gerakannya teramat yakin bahwa sang perempuan tidak akan terganggu dengan kehadirannya. sang perempuan masih melihat gelas dengan tatapan yang sulit ditebak. antara ia baru saja melewati hari yang berat, atau memang itu raut muka yang biasanya ia gunakan sehari-hari.
sang pria berkata pada bartender “segelas besar wiski dan air soda. aku mau memulai malam ini dengan tenang.” sang bartender hanya mengangguk dan dengan cekatan menyiapkan gelas dan sibuk mengambil botol-botol di rak belakang.
“hai, gelasmu sudah kosong. boleh kubelikan satu gelas minuman lagi? sepertinya kamu butuh seseorang untuk mendengarkan ceritamu. atau tidak? bukan masalah, akan tetap kupesankan minuman dan kita bisa bersama-sama diam semalaman.”
sang pria berkata pada sang perempuan yang kemudian menoleh lembut ke arahnya.
“hai, terima kasih sudah menawarkan minuman. tapi aku hanya mau minuman mahal malam ini. apakah penawarannya masih berlaku?” sang perempuan menyambut percakapan dengan intonasi yang menyiratkan rasa percaya diri tinggi.
“mari kita lihat apa pilihanmu malam ini dan aku akan mencocokkanya dengan isi rekeningku. kalau itu tidak membuatku bangkrut, aku akan biarkan bartender menyediakannya untukmu.” sahut sang pria dengan percaya diri yang sama tingginya namun cukup realistis.
sang perempuan tersenyum tipis, menyambut tantangan dengan hati-hati. “aku akan bermurah hati kali ini. segelas margarita kurasa tidak akan terlalu menguras isi rekeningmu. bagaimana?”
“uuugh, sejujurnya segelas margarita itu artinya aku harus puasa tiga hari ke depan. tapi tidak apa-apa, aku rasa mungkin ini pertanda bahwa aku juga harus mulai kembali berolahraga.”
bartender datang membawa pesanan wiski soda. “wiski soda untuk tuan abraham.” ia mempersilakan gelas untuk segera disesap sang pria.
“terima kasih. tolong buatkan margarita untuk nona yang sepertinya butuh lebih banyak asupan alkohol untuk meringankan bebannya.” tuan abraham memberi instruksi pada bartender.
“segera, tuan.” sahut bartender. “malam ini akan baik-baik saja, nona sarah. anda ada di samping pria yang tepat.” sang bartender berkata sambil mengambil gelas kosong di depan nona sarah.
“jadi,” kata sarah sambil mengamati gelas margarita yang kini sudah ada di hadapannya, “apa kamu selalu datang ke bar sepulang kerja dan menawarkan minuman pada perempuan yang kelihatan setengah hancur seperti aku?”
abraham mengangkat bahu santai. “kadang. tergantung ekspresi wajahnya. kalau terlihat seperti seseorang yang baru saja memenangkan argumen di rapat tapi kalah dalam hidup… ya, aku rasa dia layak ditemani.”
sarah terkekeh pelan. “bagus. karena hari ini aku kalah dalam dua-duanya.”
“oh? siapa musuhmu kali ini?”
“waktu. dan harapan.”
abraham mengangguk pelan, lalu menyeruput wiski sodanya. “klasik. dua lawan abadi umat manusia. kamu hampir menang?”
“aku tidak tahu. aku bahkan tak tahu kenapa masih berusaha menang.”
abraham menoleh ke arah sarah. “karena kamu keras kepala. dan keras kepala itu romantis.”
sarah tersenyum tipis, matanya masih mengarah ke gelasnya. “romantis itu melelahkan.”
“begitu juga dengan hidup. tapi kamu tetap melakukannya, kan?”
“tergantung harinya. hari ini aku hanya ingin menghilang sebentar. menjadi tidak penting. menjadi bayangan yang duduk diam tanpa suara.”
abraham menyandarkan punggung ke kursi bar, menatap ke langit-langit seolah mencari kata-kata. “kalau begitu, anggap aku seperti dinding. kamu bisa bicara, atau hanya bersandar. aku tidak akan jatuh.”
sarah tertawa kecil. “kamu punya kalimat-kalimat aneh yang entah kenapa cocok untuk momen-momen seperti ini.”
“karena aku punya catatan kecil di dompet. berisi kalimat-kalimat yang bisa kupakai saat duduk di sebelah perempuan misterius di bar.”
“benar begitu?”
“tidak juga. sejujurnya aku lebih sering duduk diam dan mengarang dialog dalam kepala. itu proses latihan yang cukup menyenangkan untukku.”
“aku juga.”
“dan menurutmu, bagaimana dialog ini berkembang?”
“tidak buruk. lebih baik daripada rapatku jam tiga sore tadi.”
abraham tersenyum. “kita belum bicara soal cinta.”
“oh, topik berat. kamu yakin ingin masuk ke wilayah itu?”
“kenapa tidak? toh kita sudah bicara tentang waktu dan harapan. cinta hanya bagian lain dari kekacauan itu.”
sarah menghela napas pelan. “kadang cinta terasa seperti saat kamu membuat laporan keuangan. banyak angka, sedikit emosi, tapi dampaknya bisa jadi menghancurkan.”
“dan kadang cinta seperti sisa kopi pagi yang tak sempat diminum. dingin, tapi tetap kamu minum karena kamu butuh sesuatu untuk tetap waras.”
“dan kadang cinta seperti ini,” sarah menoleh padanya. “dua orang asing yang memilih duduk berdampingan, saling bicara, saling mendengarkan, tanpa perlu tahu akhir ceritanya.”
abraham mengangguk. “karena akhir cerita itu kadang terlalu terasa dibesar-besarkan. kebersamaan sesaat lebih jujur.”
bartender datang dan mengambil gelas mereka. “kalian pasangan paling tenang malam ini,” katanya sambil tersenyum. “rasanya seperti kalian sudah pernah duduk di bar yang sama… ratusan kali. kalian yakin baru saling bertemu malam ini?” tambah sang bartender sambil menyeringai dan pergi dari meja mereka.
sarah dan abraham saling berpandangan. kali ini ada keheningan yang berbeda. bukan karena canggung, tapi karena mereka tahu bartender itu tidak sepenuhnya salah.
mereka bangkit dari kursi. abraham meraih jaket dan mengenakannya, sarah merapikan blazernya yang sedikit kusut di bagian lengan.
“jalan kaki?” tanya abraham, membuka pintu bar yang mengembuskan hawa malam yang lembap.
“kamu masih ingat jalan pintas lewat belakang minimarket? kita bisa lewat sana.” jawab sarah.
mereka melangkah berdampingan melewati gang kecil yang hanya cukup untuk dua orang dewasa tanpa bersenggolan.
“jadi, kamu masih kesal soal charger yang aku ambil dari tas kerjamu pagi tadi?” tanya abraham, tiba-tiba.
sarah mendesah pelan, tapi bukan karena kesal. “bukan kesal. aku cuma benci harus menjelaskan ke klien kenapa aku tidak bisa buka presentasi karena baterai laptopku habis.”
“aku minta maaf. aku pikir kamu masih punya charger cadangan di kantor.”
“aku pinjamkan ke nadya minggu lalu. kamu tahu itu.”
“aku tahu,” jawab abraham, menunduk sebentar. “dan aku tetap ambil charger itu karena aku kesiangan dan laptopku juga mati total.”
sarah menoleh padanya. “kenapa kamu tidak bilang dari awal?”
“karena aku lebih suka membelikanmu margarita daripada mengaku salah.”
mereka sama-sama tertawa kecil. langkah mereka melambat saat melewati warung rokok yang sudah setengah tutup. mereka belok ke gang kecil menuju rumah kos tua berlantai dua yang kini jadi hunian permanen mereka. pagar digeser pelan.
di depan pintu, sarah berhenti sebentar.
“malam ini cukup aneh,” katanya.
“iya,” sahut abraham. “tapi kita butuh itu, kan?”
“sesekali pura-pura tidak saling kenal. supaya bisa saling bicara seperti dua orang asing lagi.”
abraham membuka pintu. lampu ruang tamu menyala otomatis. wangi teh basi dan hujan.
“besok mau pura-pura apa lagi?” tanya sarah sambil melepas sepatunya.
“mungkin pura-pura rebutan kamar mandi denganmu,” jawab abraham.
sarah menahan senyum.
pintu tertutup di belakang mereka.
dan malam itu akan diingat sebagai sandiwara kecil yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
seolah cinta lama bisa selalu diperbarui. bukan dengan janji, tapi dengan pura-pura yang dilakukan sungguh-sungguh.
